
“AURA KASIH”
“KEBENARAN YANG MENYENTUH”
Oleh : I Ketut Murdana (Rebo : 12 November 2025)
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Ketika kebesaran yang tersembunyi, disentuh “kuasa” kebenaran yang “dikuasakan” akan terasa semakin terbuka dan bervibrasi. Itu artinya kebenaran “kuasa” yang menyentuh karena ada reaksi dan “kekuatan besar” untuk menyentuh. Dia-lah itu, wujud-Nya sebagai energi yang mengalir dalam kekuatan dan kesucian. Ketika itu kebenaran meresap dan semakin terasa lalu menjadi daya tarik untuk mencapai yang lebih baik untuk mencapai “kecemerlangan”. Gelombang kebangkitan dan kerja kejiwaan itu, untuk membuka, mencari, memahami, memaknai lalu gelombang energi tersembunyi. Lalu pada saatnya mampu memberi kepada yang lainnya.
Membuka, memahami dan memberi, sesungguh menerima pemberian mengalir dari anugrah-Nya melalui proses panjang pengisian diri menjadi wadah atau wahana yang bersemangat terbuka, penuh dedikasi serta keyakinan. Menjadi niat pengisian diri lalu bergerak sambil memberi. Saat itu wujud energi dualitas bergerak menyelaras tersaji hening menjadi kebenaran spiritual yang meresap di dunia material membahagiakan. Semakin besar dan semakin kuat memahami lalu bergerak perlahan menemukan nilai-nilai esensialnya. Semakin netral, kosong, hening mendamaikan dan membahagiakan.
Sekilas terkadang tak terasa, karena dihalangi dibendung belengguan proses yang kurang mantap. Akibatnya menjadi keraguan dan selalu meragukan, lalu terlena di ruang ragu nan illusif. Saat-saat seperti itulah kekuatan maya terbuka, untuk menguasai menjadi kekuatan bhuta yang menggelapkan. Tak mudah menyadari kebenaran ini, tetapi sulit mengatasi masalah untuk menciptakan ketenangan. Pembenaran-pembenaran menjadi kekuatannya, lalu bereaksi gaduh setiap langkahnya. Rasionalitas intelektual dan ke-Ilahi-an adalah topeng-topengnya.
Sangat mudah memainkan, karena berdimensi amat lentur di ruang bhuta pembutaan. Gelimang aksi realitas ini semakin menggelora menggelapkan atmosfir tipu-tipu berkekuatan politik asura. Tetapi ingatlah Alam Semesta raya, selalu mengasihi dengan perlindungan Kuasa-hukum-Nya yang maha kasih. Ketika banjir besar menimpa menghancurkan, itu akibat pelanggaran besar terhadap hukum-Nya yang patut diikuti, bukan dimanipulasi pemanis buatan penguasa asura.
Tetapi itulah realitas yang sedang terjadi, yang memerlukan penyadaran bersama. Artinya rakyat tidak menyogok aparat, lalu aparat tak mudah tersogok, untuk memperkaya diri. Sirna hilangnya nilai-nilai kejujuran ini, mesti menjadi perjuangan besar membangun martabat kemanusiaan. Dimulai dari personal terkondisi melalui Guru Suci, Guru Wisesa, Guru Pengajian dan Guru Rupaka. Bukan Guru Wisesa yang terjebak Premanisme Asura, yang sedang menjalar mendongkrak kekuasaannya. Menciptakan Keadilan bayang-bayang, yang teramat sulit dirasakan kebenarannya.
Berkenaan dengan dinamika realitas itu, barangkali siapa yang telah terketuk hati nuraninya untuk memahami dan memaknai realitas ini, mari bersama-sama memerankan diri sedikit demi sedikit menanam kebajikan memperbaiki sikap mental membangun negeri dengan perbuatan baik dan benar, sesuai hukum duniawi dan hukum semesta raya yang hakiki. Menjadikan hidup lebih bermakna, saatnya bisa bervibrasi baik kepada yang lainnya. Menoleh mutiara-mutiara keluhuran masa lalu, memaknai mewujudkan kebajikan untuk masa kini, merupakan penghormatan dan meluhurkan diri.
Bukan menenggelamkan dan menghancurkan prestasi orang-orang besar yang telah memberi kepada bangsa dan negeri, hanya sekedar pemuasan kepentingan politik memperkaya diri jargon-jargonnya saja. Mudah-mudahan kekuatan buruk yang memburamkan dunia ini, segera dicerahkan oleh panasnya sinar matahari di siang hari, lalu bulan purnama menerangi dunia ini dengan kesejukan sinar kasih-Nya. Menjadi semangat Cinta Kasih yang meresap ke dalam diri setiap insan, lalu sadar menjadi rasa persaudaraan yang sejahtera mendamaikan. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.









Facebook Comments