February 16, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEBENARAN MENGALIR MENCARI WADAHNYA SENDIRI”

Oleh  :  I Ketut Murdana (Senin24 November 2025).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Biarkanlah kebenaran itu berjalan, lihatlah Dia berjalan, resapilah perjalanan-Nya. Bukalah dan sambutlah dengan kesucian hati nurani, agar siap dialiri perjalanan-Nya. Demikianlah kata hati nurani nan hening ketika dharma sedang membangkitkan menerobos, meresapi jiwa insan-insan terbuka yang mendambakan-Nya. Secara esensial energi suci kebenaran itu berjalan dengan alur kuasa-Nya masing-masing. Tetapi dibalik semua itu, kekuatan adharma selalu menentang, ingin menghancurkannya. Karena memang seperti itu hukum dualitas yang tak dapat dihindari oleh siapapun.

Refleksi semestanya selalu hadir, bagaikan awan gelap yang selalu menutupi matahari, hingga dunia menjadi mendung. Tetapi angin selalu hadir tercipta menggerakkan semua itu menjadi hujan yang menyejukkan dunia. Ekspresi sikap dunia psikologisnya bertopeng aneh-aneh nan nyeleneh. Sengaja membalikkan narasi sejarah, yang besar dan yang suci dihancurkan dengan predikat buruk dan jahat. Dikonstruksi oleh kekuatan yang melekat dan bersatu dengan politik kekuasaan.

Mengubah arus kekuasaan, lalu mengubah arus keyakinan, menghancurkan keyakinan sebelumnya, hingga berjaya dan saatnya sirna yang disirnakan kekuatan yang lainnya. Saat itu kesadaran insan duniawi, memperoleh anugrah kekuatan suci sebagai pelindung peninggalan sejarah yang bernilai, hadir menyelamatkan dengan aturan hukumnya. Mengakibatkan energi suci terkondisi diam seribu bahasa, meresapi artefak-artefak simbolik nan religius. Mutiara kesucian itu tersembunyi bersinar, terhubung vibrasi  berkoneksi pada gelombang kemurnian yang sama.

Energinya bergerak menyentuh, memanggil  amat rahasia. Oleh karena kerahasiaan itu, tak tertangkap dan termaknai oleh gelombang logika nan rasional hingga menjadi misteri panjang. Semua itu membutuhkan jawaban sesuai esensinya, dan akan terbuka bagi gelombang yang tersentuh oleh kemurnian kuasa-Nya, menjadi energi kasih yang “menyentuh”. Karena ada yang mengingat dan belajar memahami keberadaannya, serta berupaya  melaksanakannya.

Dibalik semua itu hadir keinginan bergerak untuk hidup, itu artinya memasuki kekuasaan duniawi yang tak pernah kekal. Oleh karena itulah insan-insan duniawi yang menyadari kebenaran itu, melalui pengetahuan suci selalu ingin berjuang menyempurnakan diri, mengikuti garis ajaran leluhur. Tetapi kesucian peradaban tetap melekat pada artefak karma yang suci, karena dikerjakan dengan keyakinan penuh niat penyatuan diri kepada sumber-Nya. Menjadi mutiara terpendam menunggu saat putaran waktunya tiba. Artinya saatnya insan-insan suci hadir beringkarnasi mengemban misi suci semesta raya, bergerak  bekerja “menyentuh” atas kuasa hukum-Nya. Walaupun sebagian besar masih terkesima tipu daya yang terus berlanjut dan itulah yang laku.

Untuk menunjukkan dirinya lebih hebat, lupa pada status personalnya sendiri, lalu menghina merendahkan, derajat kaumnya sendiri. Sesungguhnya telah merendahkan dan menghancurkan dirinya perlahan-lahan, akibat los kewaspadaan. Itu artinya kekuatan topeng-topeng adharma kelicikan sedang dikuatkan dan itu masih laku dipanggung  pertunjukannya sendiri. Didalamnya pula energi suci bergerak meninggalkannya, hingga yang tinggal hanyalah kesombongan, dan busana serta embel-embelnya. Kecerdasannya nampak tetapi taksunya hilang tanpa disadari. Akibatnya berubah menjadi asura pembius yang ulung.

Barangkali biusan illusi dogmatik nan fanatisme jualannya masih belum diresapi kemurnian esensinya. Itu artinya gelap yang semestinya diterangi justru dimainkan sebagai aset dan pundi-pundi mengeruk keuntungan. Asura cerdas bertopeng kesucian inilah sedang melanda dan laku digugu. Akibatnya insan-insan duniawi dibingungkan oleh reaksi gelap penentangan itu, merasakan nikmatnya lalu tak sadar terjebak didalamnya.

Dibalik semua itu, kuasa kebenaran membawa dan mengajak insan-insan duniawi sadar terhadap realitas lalu meresap ke dalam esensi pemahaman dharma itu sendiri. Bergerak perlahan memasuki kemurnian spiritual nan suci. Menyentuh peradaban lalu esensinya meresap ke dalam diri sendiri. Saatnya jawaban itu hadir bersama menyempurnakan. Itulah pemahaman panjang narasi kehidupan yang amat rahasia. Karena hadir mempribadi menembus galauan situasi jaman.

Setiap kebenaran memiliki kuasanya dan itu terus berjalan. Bergerak dinamis memenang menangkan, berjaya lalu redup, bangkit memformulasi mencapai kejayaannya. Di tengah-tengah itu Dia Sang Pemelihara hadir melayani, insan-insan duniawi yang berproses dalam ruang dan waktunya masing-masing, memberdayakan diri jasmani dan mencapai kemajuan rohani.

Itulah proses kehidupan yang menghidupkan menjelajah alam semesta raya yang dihiasi artefak-artefak suci, di ruang nyata memasuki ruang yang tak nyata. Itulah wujud kehadiran sifat Kuasa-Nya Yang Mengajak, Mengenal, Menuntun, Menyempurnakan dalam dimensi herarkhis berlanjut penuh keyakinan tanpa disadari. Ketika refleksi kesadaran itu meresapi semuanya, lahir menjadi sifat kebijaksanaan yang damai membahagiakan. Pembuka jalan terang, dan pemancar sinar terang yang mencerahkan jiwa dan bervibrasi pada saatnya.

Kesadaran ini menempatkan pengetahuan rohani dan prilaku, siap bergerak dan terlindungi oleh kasih-Nya. Menetralisasi kegelapan berubah menjadi energi cerah nan kuat bersemangat menatap menerobos masalah, menembus menemukan esensinya. Walaupun merealisikan dan mengkonstruksinya tak mudah, tatapi saat itulah anugrah mengalir hingga mencapai kebenaran yang membahagiakan. Saat itu pula masalah datang menguji yang berakibat mencerdaskan sikap,  menajamkan prilaku. Saat itulah jasmani telah merasa bebas dari tekanan psikologis keraguan, lalu bergerak penuh semangat, sadar bergerak mencapai tujuan

Kebenaran Ilahi yang amat rahasia inilah yang “mempribadi”, lalu bervibrasi menjadi hubungan personal yang “memberi” dan “menjadikan” kepada yang datang untuk “dijadikan”. Walaupun demikian perjalanan panjang penuh liku, yang “menantang keyakinan”, bisa menjadi semakin kuat dan ikhlas, mencapai tujuan yang membahagiakan. Dan sebaliknya bisa roboh yang dirobohkan oleh keraguan yang meragukan, lalu sirna ditengah-tengah edukasi spirit pemberdayaan diri. Betapa menderitanya sang jiwa ketika, jasmani terbuntukan oleh pikiran yang terpengaruh hal-hal lain, menumpulkan niat suci tujuan sesungguhnya.

Segera sadar memberi energi suci dan semangat kepada keyakinan, lalu bangkit kepada tujuan adalah kewaspadaan yang sesungguhnya. Sadar kepada kebenaran ini adalah “penyelamatan yang sesungguhnya”. Hanya saat-saat perjuangan besarlah kebenaran itu dirasakan, lalu sadar kembali pada penguatan prinsip, sifat-sifat “maya”-pun bisa dikenal kehadirannya. Lalu sirna berubah menjadi energi penguat keyakinan mencapai “kemenangan”, harmoni membahagiakan. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!