
“AURA KASIH”
“WASPADAI PEMBENARAN YANG MENGABURKAN KEBENARAN”
Oleh : I Ketut Murdana (Rebo : 03 Desember 2025)
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Teramat mudah kelompok insan-insan duniawi tertentu, memformat dirinya sebagai “pejuang” atas nama kebenaran dan atas nama rakyat. Apakah semudah itu, “kebenaran” dan “rakyat” diatasnamakan, dan dijadikan topeng-topeng?. Betapa mudahnya format perjuangan yang belum tentu arahnya, untuk menghasilkan apa, sudah merasa sebagai “pejuang kebenaran”. Pertanyaannya apakah kebenaran itu, mudah ditempeli dengan “kebenaran pembenaran”, atau angan-angan kebenaran yang terus digaungkan seperti itu?. Apakah rakyat bisa menerima “atas nama” seperti itu?. Pertanyaan-pertanyaan ini, tak membutuhkan jawaban kata-kata, tetapi renungan esensial yang menempatkan prilaku sesuai dengan hakekat esensial yang sesungguhnya disebut kebenaran itu.
Entahlah mereka bergerak dari kemampuan dan ragam profesi apapun itu, tetapi benar-benar berjuang untuk mencapai “kebenaran” yang penuh cinta kasih itu. Tak butuh validasi, tetapi “mencapai” kebenaran itu, lalu benar-benar bervibrasi kepada masyarakat. Ingatlah bahwa kebenaran itu adalah kemurnian dari hakekat esensial nan vital suatu kehidupan. Kemurnian itu selalu hadir dan bergerak terus dari jaman ke jaman, mengalir, membangkitkan, mengisi, menyempurnakan kesadaran prilaku yang mensejahterakan, mendamaikan dan membahagiakan. Realitas ini hadir secara esensial tersembunyi, mencapai kualitasnya pada insan-insan berjiwa besar dan terus berjuang membesarkan, hingga sampai pada “batas-batasnya”. Karena siap membesarkan kebenaran itu, menerobos kabut gelap memancarkan sinar setiap langkahnya. Resiko yang belepotan itu, berubah menjadi energi penghias indrawi yang menyegarkan semangat. Walaupun sesaat menjadi cengkraman yang disebut maya yang ingin menggagalkan.
Wujudnya bisa saja pencemaran demi pencemaran, yang terjadi dalam sejarah perjalanan panjang kehidupan itu terjadi. Itu artinya keburukan yang datang dari berbagai arah, bisa diantisipasi oleh energi kebenaran dan kebajikan. Dalam kontek “pemurnian” kebenaran itulah sesungguhnya “perjuangan”, agar mampu memenangkan, hingga bisa dihormati secara ritual maupun bisa dirasakan membahagiakan. Setelah melewati proses perjuangan menghapus atmosfir gelap yang mengaburkannya. Disinilah dinamika masalah yang sebenarnya, rakyat dibebani atas nama-atas nama yang tak diketahuinya.
Lalu amat beresiko terhadap kondisi alam lingkungan dan kondisi sosial yang tak mudah diselesaikan. Kemudian yang “mengatas namakan sirna hilang begitu saja”, tutup muka dan tutup informasi, lalu digoreng menjadi isu politik tunggang menunggangi. Akibatnya membingungkan rakyat. Tak masuk akal pembangunan yang sudah hampir selesai, pemimpinnya seolah-olah tak tahu. Kalau sudah begitu “atas nama siapa itu” ?. Lalu mau cuci tangan terhadap resiko dibaliknya. Dinamika realitas ini terus terjadi yang sesungguhnya mengaburkan nilai-nilai “kebenaran”, atas “nama rakyat”, yang terlalu biasa digunakan sebagai topeng-topeng.
Menjadi topeng “konsepsi pembangunan”, konsepsinya bagus, strategi bagus di dalam buku, karena itu kajian teks mudah diantisipasi oleh kecerdasan ilmiah dan terukur. Pertanyaannya apakah perubahan situasi, mentalitas sosial dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah terbaca?. Tetapi belum tentu cerdas melaksanakan dan memainkannya di lapangan. Masalahnya hanyalah “satu”, tidak ada kejujuran sikap mental untuk membangun negeri. Itulah wujud “kebenaran”, yang konon diusung, tetapi ditinggalkan tanpa guna, seperti senjata tak bertuan.
Apa yang dibangun hanyalah niat menguntungkan dan memperkaya diri saja. Saat itulah sesungguhnya “kebenaran” telah menghilang tak menjiwainya. Lalu menghasilkan pembangunan yang mangkrak tak berujung pangkal. Ketika dosa struktural ini disadari dan siap merubah sesuai sumpah jabatan, pasti menghasilkan sesuatu yang lebih mensejahterakan.
Di balik itu semua apa yang tersaji hanyalah untuk kepentingagnnya sendiri, atas kekecewaan terhadap kegagalan capaian keinginan politiknya. Bukan memperbaiki kualitas karma untuk mengatasi kegagalan, yang dapat meluhurkan dirinya. Tetapi membiarkan dirinya larut dalam “pembutaan” diri yang semakin gelap ingin menghancurkan. Gelombang besar penggelapan atmosfir inilah yang patut disadari, ketika berani menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang memperjuangkan “kebenaran” yang mensejahterakan dan mendamaikan.
Bukan berjuang mencari-cari kesalahan orang lain, lalu inggin menghancurkan tokoh-tokoh yang telah berbuat baik untuk bangsanya. Bukan perjuangan yang benar dan bijak menyadari segala keterbatasan dan sadar, mengisi diri agar bisa memberi yang terbaik, menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Bisa meneladani kebaikan hasil pembangunan sebelumnya, dikuatkan lalu dilanjutkan serta disempurnakan oleh pemimpin selanjutnya. Bukan saling menghancurkan dan menutup prestasi pemimpin-pemimpin sebelumnya.
Ini keburukan psikologis yang melorotkan martabat, meresapi insan-insan politik mementingkan ketenaran dan popularitas pribadi, yang semakin memburuk. Bukan sadar memimpin untuk kemajuan bangsanya. Pemimpin yang berselera rendah seperti ini patut dikuatkan oleh reformasi bangunnya kesadaran terhadap anugrah besar, menjadi dan dijadikan pemimpin oleh rakyat lalu berjuang menjadi Pelindung rakyat. Kesempatan besar inilah yang patut dihormati melalui perbuatan yang terhormat, melalui kebijakan strategis yang mensejahterakan.
Bukan sibuk menghias dan mengganti wajah dengan topeng-topeng ragam karakter. Topeng-topeng seperti ini nampaknya masih anggun untuk digunakan, terutama pada insan-insan yang masih kabur memahami dan memaknai kebenaran. Akibat dendam dan sakit hati, karena berbeda haluan alur pikir. Ada pejabat yang bermental priyayi, hanya ingin ongkang-ongkang, mejeng sana sini hanya untuk undangan ritual tertentu saja. Menikmati gaji buta dan prioritas lainnya.
Walaupun demikian nampaknya ruang ini seakan-akan dapat memberi ruang untuk menyuarakan diri, walaupun dibalik itu semua srigala-srigala mengintip untuk menumpangi, lalu menguasai dan dijadikan budaknya. Saat ini dendam dan sakit hati yang dibungkus, dirubah menjadi semangat dan kekuatan perjuangan yang disebut “kebenaran” itu.
Manupulasi isu, untuk meraih simpati rakyat, bertopeng-topeng kebajikan, ilmiah, ahli, dan lain sejenisnya mendongkrak keinginan, lalu ngotot-ngototan “tentang kebenaran” yang ingin dibenarkan. Seolah-olah kebenaran miliknya sendiri. Aparatur negara dibuli dihina, sekehendak hatinya. Tata Kerama bukan menjadi penguat energi, justru diabaikan dengan kekuatan logis walaupun tak pernah logis, lalu semakin konyol bermental “berani saja”. Seperti itulah wujud dramatisasi tarian adharma, dengan konstruksi kecerdasannya, mencoba mengkonstruksi dan menggiring opini agar terlihat seolah-olah benar. Lalu menjebak pengikutnya untuk mengusung perjuangan terkondisi berbayar tersembunyi. Tetapi ingatlah sinar matahari tak pernah buta memantulkan sinar terangnya untuk menyinari kebenaran. Sinar Matahari Yang Maha cemerlang, jujur menembus gelapnya konstruksi kabut, menunggu saatnya keadilan tiba.
Konstruksi kabut illusi bayang-bayang kebenaran ini, mewarnai babak baru peradaban, membutakan hati nurani, mengunggulkan keinginan hawa napsu. Apabila tak waspada, maka tenggelam dalam lumpur adalah jawabannya. Sebesar dan setinggi apapun jasa-jasa dan prestasi pemimpin bangsa membangun negara, tak bisa dihargai, justru dihina, dibuli dan ingin dikubur atau digantungnya. Itu artinya politik perebutan kekuasaan, telah membutakan nurani kelompok insan-insan tertentu, telah menjual segala kehormatan untuk angan-angan napsu kemenangannya. Lalu yang tinggal dalam dirinya adalah ambisi dan napsu menang. Apakah kata “menang” itu cocok ditempatkan disitu?. Mengorbankan segalanya hanya untuk sesaat saja. Itulah kecocokan struktural yang terus diperebutkan dan dikukuhkan. Akibatnya sebagian besar rakyat sulit menemukan kemandirian yang disebut merdeka secara rohani.
Barangkali inilah banjir besar yang mengubah air jernih menjadi lumpur pekat berbau dan menghanyutkan apa yang harus dihanyutkanya. Lalu dibawa dan dilebur “di lautan samudra penyadaran” yang penuh rahasia. Hanya kesadaran yang tunduk pada kebenaran Ilahi itu, sadar memperoleh edukasi penyempurnaan sesungguh. Oleh karena itu patut direnungkan dan dihayati, hingga saatnya kesadaran terhadap hakekat hidup berubah semakin baik dan benar, mencapai kebenaran sejati. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.









Facebook Comments