
“AURA KASIH”
“KEMENANGAN YANG MENGHANCURKAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Kamis, 11 Desember 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Kemenangan yang menghancurkan merupakan kemenangan insan-insan berjiwa asura yang berhasil menguasai dunia. Elu-eluan janji-janji manis, berubah menjadi kekuatan penghancur, yang disembunyikan. Karena melewati batas toleransi, akhirnya alam semesta membuka lebar aib-aib besar para pemimpin asura yang sewenang-wenang. Merasakah mereka bersalah?, tentu bisa dilihat realitasnya di lapangan, menempatkan kualitas pertanggung jawaban moralnya. Karena yang membantu dan menutupi aibnya banyak, dengan kekuatan pengaruhnya, tentu bisa saja ditutup-tutupi, tetapi tak mungkin bisa menutupi kesalahan dihadapan Penguasa Semesta Raya, yang tersembunyi dalam hatinya masing-masing.
Tetapi kasih semesta raya tak mungkin selamanya bisa ditipu, walaupun diam seribu bahasa. Tetapi menilai, mengedukasi dan mentoleransi batas-batas kejahatan para asura-asura itu. Lalu menghakimi dan menghukum dengan kekuatan bhuta-Nya. Apakah ada yang bisa melawan atau menghindar dari amukan keganasan itu?, tentu jawabannya hanyalah “penderitaan” besar bagi rakyat dan bangsa.
Walaupun jiwa-jiwa asura secara kosmologis, “harus ada”, merupakan sisi yang berlawanan dengan sifat-sifat kebajikan yang bijaksana, yang disebut sifat-sifat Dewata, yang selalu ada berdampingan. Ketika insan-insan duniawi lebih banyak dikuasai sifat-sifat asura itu, maka kehancuran adalah jawabannya. Mereka menang dalam kekuasaan politik tetapi alam semesta dan tatanan sosial hancur lebur, mengakibatkan penderitaan panjang di mana-mana. Meriah di dunia materi, tetapi kosong di dunia rohani. Akibatnya alam semesta menjadi pelimpahan napsu yang semakin membara.
Itu artinya seorang anak ingin mengawini Ibunya sendiri, bagaikan Jalandar ingin mengawini Dewi Parwathi Ibunya sendiri, ingin berperang mengalahkan Dewa Shiva untuk menguasai Surgawi. Bahkan ingin menciptakan “Sorga Baru”, di puncak idealisme napsunya. Realitas ini menunjukkan puncak kegelapan jaman Kali Yuga ini, sedang menggulung dunia dan alam pikir manusia yang patut disadari. Kesadaran ini patut dibangun agar menjadi manusia berkesadaran rohani, hingga saatnya melihat dan merasakan cahaya Ilahi di dalam diri sendiri, yang patut dibesarkan mencapai pencerahan yang cemerlang.
Terabaikannya kesadaran rohani ini, menciptakan kemenangan sifat-sifat asura dalam diri sendiri. Menggelapkan dan membutakan segala bentuk kecerdasan dan kebajikan. Lalu berkolaborasi dalam gelombang atmosfir yang sama, di ruang sosial menjadi semakin besar menentukan arus gelap jaman Kali Yuga. Menutup jalan kebajikan, mempersempit gerak langkah orang-orang suci dalam upaya membangun kesadaran diri. Mendongkrak premanisme berbicara kebenaran, lalu mengintimidasi nilai-nilai kesucian pengetahuan itu sendiri. Arus gelombang pemerosotan moral tanpa disadari inilah, kemenangan asura yang menghancurkan.
Dibalik itu semua hadirnya sifat-sifat Dewata yang meresapi jiwa-jiwa abdi-Nya, selalu memperjuangkan kebenaran, kejujuran dan kesucian yang melindungi semua kehidupan, dalam menciptakan suasana sejahtera dan damai. Itu artinya kemenangan yang diperjuangkan menciptakan rasa damai yang sejahtera lahir dan bhatin. Walaupun realitas kebenaran ini sedang bergerak kepermukaan, melebur dan mempralina “noda-noda” keburukan jaman menjadi “tsunami laut” dan “tsunami darat” yang mencengangkan.
Di dalamnya terkondisi penuh rahasia, perjuangan di jalan dharma yang tiada henti, penuh semangat dan keyakinan kepada kebesaran-Nya. Akibatnya tercipta hubungan yang sepi dan hening, antara jiwa-jiwa dan jiwa semesta raya, amat sulit dibayangkan secara logika, tetapi dirasakan kebenarannya, bagi jiwa-jiwa yang terpanggil dan tertuntun berjuang ke arah itu. Oleh karena itu kehadirannya bebas validasi sosial, yang ada hanyalah kesungguhan menyiapkan diri untuk melaksanakan kewajiban. Karena yang terpenting adalah mewujudkan pengabdian, belajar memaknai hidup menyatu dalam pengabdian. Walaupun sedikit tetapi terus berlanjut, dalam suasana damai ulang alik menyikapi kebutuhan jasmani dan rohani di ruang material yang terkendali.
Tak mudah dan tak menarik memang bagi sebagian besar insan-insan duniawi saat ini, karena membutuhkan pengorbanan, keberanian, keyakinan, kecerdasan dan arah yang jelas serta berlandaskan keikhlasan. Hingga bergerak ringan menjalankan tujuan hidup itu sendiri. Saat-saat seperti itulah jiwa-jiwa teredukasi spirit yang perlahan dibesarkan dan diperluas wawasannya, oleh kuasa-Nya yang terus mengalir. Membebaskan jiwa-jiwa dari bungkusan selaput indriya-indriya dan napsu, yang “berselera rendah”.
Akibatnya selalu mengkondisikan dan membesarkan selera napsu egoistis, yang mesti dilayani terus. Akibatnya hidup menjadi pelayan napsu. Ritual hanyalah seremonial, tanpa konsentrasi pemaknaan dan pelaksanaan sungguh-sungguh, lebih banyak hanya menjadi gaya hidup instan. Akibatnya lemah energi untuk membangkitkan nurani secara luas dan kuat. Akibat dari semua itu, asura telah menang menguasai hidup. Langkah-langkah kekuatannya, menjiwai strategi politik “pemuas napsu” menguasai jiwa insan-insan dunia.
Lalu bebas sekehendak hati, merasa bebas dan benar melacurkan diri, melepas benteng-benteng pertahan martabat rohani, menghilangkan rasa malu. Membesarkan ego dan napsu, mengakibatkan hancurnya benteng-benteng perlindungan harga diri, mengeruk dan memperkosa sumber-sumber daya alam berlebihan, menjadi kebanggaan. Melumpuhkan iman keyakinan dengan pemuasan hawa napsu sesaat, akibatnya “menciptakan kemenangan yang menghancurkan”.
Itu artinya tidak lagi percaya dan patuh pada harmoni semesta, yang telah diajarkan dan dilakukan nenek moyang leluhur. Apa arti dan manfaat mendengung-dengungkan ajaran leluhur kalau sudah begitu?. Dengan demikian laksanakan prilaku yang selalu selaras dengan harmoni semesta adalah memuliakan ajaran leluhur. Akibat dari semua itu, alam semesta beserta abdi-abdi kebenaran memerlukan waktu panjang untuk memulihkan-Nya kembali.
Pertanyaannya apakah asura-asura itu, mau ikut dalam pemulihan itu?, tentu sulit dibayangkan. Karena tugasnya adalah menghancurkan. Semangat dan penghancuran itu dibenarkan oleh keinginan yang selalu bertentangan dengan pertumbuhan nilai-nilai kebenaran yang merujuk sifat-sifat damai yang toleran. Tetapi mereka memiliki kebenaran dan cara pandang lain, siap menghancurkan yang berbeda dan bertentangan dengan apa yang diyakini, dalam ajaran teksnya. Tak mampu melihat realitas perbedaan yang benar tercipta dari alam semesta dan pikiran dan kerja kreatif jenius para leluhur masa lalu dan kini.
Bahkan berkali-kali mengikhrarkan niat-niat penghancuran itu, tetapi “pembiaran” terjadi. Itu artinya format kemenangan wacana terkondisi. Pada sisi yang lain, menghancur seni budaya pendukung spiritualitas tertentu, yang menjadi ekspresi dan refleksi serta menyuguhkan nilai-nilai estetik yang membahagiakan. Dianggap tak sehaluan dengan kebenarannya. Dalam kontek ini artefak seni budaya, sebagai ekspresi penciptaan seni yang adiluhung sepanjang sejarah dihancurkan, atau ingin menghancurkan pertumbuhannya. Membalikkan keyakinan historik, menanamkan sikap “anti” yang hingga kini masih membekas dan tumbuh menjadi sikap budaya radikal.
Menghadapi tantangan besar penghancuran ini, Sang Penyelamat kebijakan dan kebajikan telah hadir dengan kekuatan hukum yang telah diakui dunia. Walaupun demikian persoalan penghancuran masih saja tetap terjadi. Itu artinya kekuatan penghancur alam semesta, tetap tumbuh dan berkembang, yang mesti terus dijaga sungguh. Aturan dan penjagaan ketat merupakan sistem yang melekat dan terkondisi. Seperti itulah sifat-sifat Dewata pelindung juga hadir. Regulasi perjuangan penyelamatan seperti itu mesti disadari oleh insan-insan di seluruh dunia. Ruang terbuka ini membuka ruang pilihan edukasi karma, meningkatkan kewajiban, lalu menjadi misi suci atas tuntunan “pengetahuan suci” dan “guru”. Seperti itulah sesungguhnya insan teredukasi spirit memahami dirinya sendiri, yang disebut kesejatian diri. Dibalik semua itu adalah indentitas asura penantang, sebagai sparing partner, mengatasi hukum dualitas, menciptakan kemenangan yang bijaksana.
Walaupun belum banyak insan-insan yang siap menempatkan diri dan berjuang ke arah kebenaran itu. Barangkali masih berproses, atau masih banyak yang dikaburkan oleh atmosfir “pembutaan” intelektualitas yang tak “menyentuh” hati nurani itu. Artinya kebanggaan intelektualitas nan egoistik, melupakan kesadaran hati nurani yang berhubungan dengan harmoni semesta. Melahirkan budaya percepatan penghancuran, demi nikmat napsu sesaat.
Berbicara kelestarian dengan penghargaan-penghargaan “teks” tertentu, tetapi menjadi ruang rebut eksekusi napsu. Akibatnya meriah wacana, tetapi menyengsarakan rakyat berebut pepesan kosong. Menjadi penghargaan teks yang terkondisi pemeliharaan yang baik, justru menjadi rebutan semut-semut pendulang gula. Gulanya habis semut menghilang.
Realitas inilah bergelora, ditengah-tengah masyarakat, memerlukan kewaspadaan tinggi dan ketat mengendalikan diri, menghadapi dinamika gemuruh rebutan. Selalu berdoa memohon perlindungan kepada Yang Maha Kuasa, melalui kesadaran tulus ikhlas, berbuat kebajikan agar api suci kesadaran yang redup dalam diri insan-insan duniawi saat ini tercerahkan kembali. Perjuangan besar inilah sesungguh ajaran leluhur yang meluhurkan diri dihadapan-Nya, agar insan-insan duniawi bisa “dijadikan” hingga doa-doa suci terkabulkan melalui perjuangan dalam pengabdian yang suci mendamaikan. Menjadi “kemenangan yang mensejahterakan dan mendamaikan”. Keyakinan menempatkan diri dan berjalan ke arah itulah sesungguhnya “Bhakti dalam pengabdian”, berjalan panjang nan esensial. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments