
“AURA KASIH”
“KEMENANGAN YANG MENDAMAIKAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Sabtu, 13 Desember 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Kemenangan yang mendamaikan, hadirnya di akhir suatu perjuangan di jalan kebenaran, yang seringkali disebut “pahala” atau hasil perbuatan. Itu artinya pahala kebajikan, melalui perjuangan melawan untuk melewati dan menyelesaikan ragam konflik yang bersifat dualitas, menyelaraskan untuk menciptakan rasa tenang dan damai. Semuanya itu bergerak di dalam diri sendiri dan berproses di ruang sosial terbuka di masyarakat luas. Cerdas memainkan peran intelektual berjiwa kekuatan spiritual penuh kasih yang bijaksana.
Menghadapi dinamika aksi dan reaksi berbasis ragam persepsi, hingga saatnya mampu memposisikan peran dan keberadaannya masing-masing. Dalam upaya mencapai kegunaannya yang selalu memberi kebajikan kepada dirinya, bangsa dan negara, hingga perlahan terkondisi rasa sejahtera dan damai yang semakin meluas. Kualitas rasa damai yang meluas dan membahagiakan itu, bervibrasi perlahan menerangi jiwa-jiwa yang haus akan rasa damai dan cinta kasih yang juga disebut “Santhi yang Welas Asih”.
Menciptakan kemenangan ini amat sulit di jaman sekarang. Walaupun demikian rasa damai adalah kebutuhan esensial. Oleh karena itu setiap insan mesti sadar mulai dari insafnya kesadaran dan “keyakinan atas narasi besar kemuliaan hidup” itu sendiri. Narasi besar itu, menempatkan kesadaran koneksitas harmoni antara kesadaran diri terhadap sesama insan yang tercipta hidup di alam semesta ini, dan memuliakan Sang Pencipta pemberi, pemelihara dan pemralina penyeimbang kehidupan yang mendamaikan. Refleksi esensial dari kebenaran itu, semua insan yang lahir dari cinta kasih, tentu berproses panjang dari bapak dan Ibu jasmaniah, merujuk kepada Ibu dan Bapak Semesta yang menciptakan semua insan duniawi ini.
Merujuk kepada kebenaran esensial nan universal itu, memaknai, melaksanakan, pengetahuan untuk hidup sejahtera dan damai adalah kesadaran hidup. Selanjutnya memerlukan prilaku yang berkesadaran spiritual yang tertuntun melalui pengetahuan suci. Agar mampu mengubah dan meningkatkan harkat kehidupan yang natural biologis, menuju pencapaian kehidupan sejati, yang juga disebut “pencerahan”. Kehidupan sejati adalah kehidupan yang berpengetahuan suci penyempurnaan untuk mencapai pembebasan. Sesungguhnya penyempurnaan kehidupan itu telah diajarkan sejak dilahirkan ke bumi ini.
Akibat kelupaan demi kelupaan, menyebabkan semakin tenggelam ke dalam lumpur kegelapan napsu duniawi. Bagaikan air hujan yang murni, turun dari langit, menyentuh gunung diberi kekuatan mineral oleh gunung, lalu turun ke daratan semakin melayani kehidupan, maka wujudnya semakin dikotori lumpur berbau. Kemudian dihanyutkan oleh banjir besar menuju lautan penetralisir, kemudian matahari memanaskan kembali menjadi uap, lalu dinaikkan lagi menjadi awan, didinginkan menjadi mendung, hingga turun menjadi hujan kembali.
Suatu nilai esensial yang dapat dimaknai dalam kontek kehidupan itu adalah kesadaran berproses dan siap diproses. Demikian juga air setelah menyentuh pelayanannya di bumi, raganya dibersihkan kembali oleh kekuatan semesta raya. Refleksi kesadaran itu, mengakibatkan para kesatria pahlawan siap mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemenangan dharma. Seperti itulah salah satu wujud kesadaran yang siap berproses, yang dibuka ruang prosesnya oleh Yang Maha Kuasa. Saat itulah penyatuan antara kesiapan subyek untuk berproses dengan anugrah proses-Nya, hingga saatnya menjadi “anugrah kemenangan”.
Kesadaran berproses adalah refleksi kesadaran diri untuk menyerahkan diri pada proses alam semesta penyempurna dalam ruang dan waktu yang terjangkau. Artinya secara psikologis menempatkan kesadaran berproses melalui edukasi pengetahuan material duniawi dan pengetahuan spiritual rohaniah. Dalam sistem kerja natural realistik (sekala) dan non realistik (Niskala). Keduanya saling melengkapi melalui sistem kerjanya masing-masing, mewujudkan kebenaran yang saling menguatkan menciptakan rasa damai yang membahagiakan. Kebenaran yang membahagiakan itu, bisa dirasakan setelah melampaui dinamika teoritik menjadi tindakan nyata yang terus berlanjut. Dalam Bhagawad-gita Sri Krishna menyebutkan kepada Arjuna adalah filsafat tindakan, agar mampu merasakan kebenaran.
Berkenaan dengan prilaku menghadapi masalah itulah dinamika proses yang sesungguhnya. Bagaimana keraguan harus dilepaskan, agar berubah menjadikan keyakinan hidup sebagai kesatria pemberani, yang siap bertempur melayani Sang Penegak Dharma, menyeimbangkan dunia. Saat itulah Sang Pelindung pencerah segala rahasia kehidupan hadir meresapi, hingga rahasia dibalik masalah itu dibuka oleh kasih-Nya.
Segala bentuk pengorbanan dalam ragam suasana suka dan duka, berubah menjadi semangat patriotik menundukkan musuh-musuh hingga mencapai kemenangan. Dalam kontek itulah kehadiran Sang Penegak Dharma sebagai “Guru” pembuka segala rahasia, menempatkan dan mengarahkan kecerdasan abdi-Nya, agar mampu menyelesaikan masalah, hingga dharma perlahan tegak di bumi. Bukan menjadi kesatria yang terkutuk oleh gurunya, akibat dusta yang dirahasiakannya. Lalu kukuh berpihak kepada penentang dharma, lalu mengabdi pada asura.
Walaupun berkali-kali diminta oleh Sang Penegak dharma agar sadar bahwa potensi kebajikan yang kuat mesti bergabung untuk memenangkan dharma. Walaupun yang “memiliki kuasa” mengajak dan menyarankan, tetapi akibat kebutaan rohani, maka yang dipilih dan dijalankannya, tetap keangkuhan yang menghancurkan dirinya. Itu artinya justru yang dipilih adalah bergabung dengan penentang dharma, akibatnya semua kecerdasan dan kekuatannya tak berguna bagi kemenangan dharma itu sendiri. Justru menjadi sasaran yang mesti ditundukkan oleh penegakan dharma atau musuh dharma itu sendiri.
Seperti itulah Sang Pencerah menjernihkan narasi kesadaran hidup insan-insan duniawi, agar benar-benar jernih hingga mampu memilah lalu memilih menjadi jalan perjuangan memenangkan dharma yang mendamaikan itu. Untuk itu “Dia” hadir sebagai Guru yang menempatkan “kuasa aktifnya” dalam ruang Niskala (Sat) dan ruang sekala (Sad). Disebut “kuasa aktif” adalah, karena kuasa-Nya mengalir kepada abdi-abdi yang terus berinisiasi aktif memperjuangkan kewajibannya, menjadi abdi-abdi yang mengemban misi suci kehidupannya sendiri.
Dia bukan hanya keadaan dan bayang-bayang kebenaran yang ilusif, tetapi bergerak menjadi suasana hati yang terkondisi patuh dan berjuang terus mematuhi kaedah-kaedah-Nya. Tentu dalam kesadaran terbatas, menuju yang tak terbatas. Perjuangan panjang inilah “waktu hidup”, sebagai anugrah dalam proses penyempurnaan hidup mencapai kebebasan abadi. Menjadi “kemenangan yang mendamaikan, Santhi dan welas asih”. Agar tak tenggelam dalam gelap neraka duniawi, menjadi pengulangan hidup di dunia material yang tak kekal itu. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments