
“AURA KASIH”
“MERAYAKAN KEMENANGAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Kamis, 18 Desember 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Merayakan kemenangan sangat penting, sebagai refleksi rasa syukur, atas anugrah-Nya. Atas tercipta dan mengalirnya rasa damai serta keberuntungan lainnya. Terutama bisa dirasakan bagi para abdi beserta pendukung perjuangan yang dijiwai kebenaran itu sendiri, hingga mensejahterakan masyarakat luas. Ragam perjuangan dharma kebenaran itu bergerak dalam berbagai tingkatan, kualitas dan karakteristik ruang sosialnya masing-masing. Dalam narasi besarnya disebut kemenangan dharma, menundukkan sifat-sifat adharma, dalam batas “ketentuan” waktu-Nya masing-masing. Bergulat ingin mencapai kemenangan.
Pertanyaannya apakah kemenangan dharma yang dahulu diyakini hingga kini masih memiliki kekuatannya…?, Tentu pertanyaan ini tak perlu dijawab dengan kata-kata yang seringkali dikuasai kecerdasan untuk menghindar dan menyenangkan saja. Jawabannya adalah kecerdasan melihat realitas dan konteksnya merupakan jawaban sesungguhnya. Tetapi yang jauh lebih penting adalah; bangkitnya kesadaran dalam diri untuk terus berjuang menegakkan dharma, mendamaikan diri, hingga setiap insan mampu meluhurkan dirinya dalam waktu hidupnya masing-masing. Mengapa disebut dalam batas ketentuan waktunya masing-masing, karena kekuatan dualitas dharma dan adharma itu tak pernah berhenti bergerak, selalu mencari celah, untuk meresap “menguasai” kehidupan setiap insan.
Berkenaan gerak realitas itu kewaspadaan atas “kemenangan” sangat penting, dan terus diperjuangkan. Maka dari itu, saat perayaan kemenangan apapun wujudnya, tak luput dari sasaran serangan sifat-sifat asura adharma yang amat halus. Serangan sifat-sifat halus itu, dapat memformulasi dirinya sendiri merasuki jiwa-jiwa yang lemah, tak terkontrol stabil. Apabila hanya sekedar ikut merayakan saja, tanpa merasakan sulitnya perjuangan dan “nilai kebenaran apa yang dimenangkan”. Sangat mudah terkondisi kemeriahan perayaan saja, hingga larut dalam pemuasan selera dan napsu, lalu tenggelam dalam nikmat kemabukan. Reaksi buih-buih ini selalu ada dipermukaan yang patut disadari dan dikendalikan. Kalau sudah demikian asura sudah menguasai, untuk memicu keributan dan menciptakan keonaran. Setelah itu insan-insan menerima akibat buruknya. Seperti itulah wujud sifat-sifat asura yang telah menguasai jiwa-jiwa yang dianggap sebagai gaya hidup trendy.
Gelora ralitas sosial ini patut diwaspadai, sangat menggelora bahkan memancing-mancing keterlibatan kelompok kesukuan, yang telah terjaga dalam rasa persaudaraan yang damai. Betapa pentingnya memahami realitas pancingan kuasa asura-asura itu, agar insan-insan terkendali sadar untuk memupuk rasa persaudaraan yang berbhinneka itu. Karena itulah realitas kebenaran semesta patut dijungjung tinggi bersama-sama, agar mencapai kemenangan bersama yang patut dirayakan, dengan “rasa syukur terkendali”. Artinya memaknai perayaan dengan perenungan sikap pemaknaan prilaku kebajikan dan penguatan sikap toleransi yang mendamaikan.
Karena dibalik kesadaran psikologis itu, terbuka lebar untuk dikuasai apabila dibiarkan tanpa makna. Lalu insan-insan yang mesti menghormati dan memelihara, agar tak larut di jalan para asura mabuk, yang menggaduhkan itu. Membiarkan diri ditaklukkan menjadi kekuatan maya yang amat halus membutakan itu. Teramat sulit disadari ketika kekuatan itu telah menggulung keimanan. Bumbu pemanis kata bernarasi cerdas, berkedudukan tinggi, janji-janji manis terkadang sesaat terasa benar, tetapi berubah menjadi gurita raksasa menggulung kebenaran untuk dikuasai.
Lalu dijadikan pengikutnya, karena kekuasaan itu, baginya adalah pengikut yang banyak. Bukan perjuangan nilai-nilai kebajikan untuk orang banyak yang diperjuangkan. Akibat dari semua itu Ibu Alam Semesta terus diperkosa, menghancurkannya. Bagaikan Jalandar yang tercipta dari kemarahanvg Dewa Shiva, lalu setelah dewasa tak mengenal Ibunya sendiri, lalu berupaya dan berjuang terus ingin mengawininya.
Setelah rakyat menderita akibat kehancuran itu, mereka saling dalih, dan saling membenarkan diri masing-masing. Memaknai realitas pathologi sosial ini, amat penting agar setiap insan sadar, kembali berbenah demi kemajuan dan keluhuran martabat bangsa. Seperti apa yang telah diwariskan oleh nenek moyang tentang keleluhuran nilai-nilai kehidupan yang dikagumi dunia yang mesti dipelihara, diberdayakan demi kemajuan pembangunan bangsa.
Bukan sibuk merongrong, tetapi membenarkan dengan teriakan ngotot yang selalu merasa benar. Menciptakan kegaduhan sosial, menyibukkan para aparat. Predikat sosial, pangkat dan jabatan boleh saja tinggi dan berkuasa, tetapi bila hanya memuaskan napsu pribadi dan kelompoknya, saatnya badai pasti menghancurkan. Menjadi “tsunami lautan” dan “tsunami darat” yang tak bisa dilawan oleh siapapun. Itu artinya menang dan nikmat di awal, lalu hancur dalam sekejap.
Memaknai realitas itu, kembalilah pada kesadaran untuk menegakkan dharma melalui hukum semesta raya, dalam setiap langkah kehidupan mesti dilaksanakan. Bukan hanya dikonsepkan dan sibuk membuat konsep bahkan seabad berikutnya sudah dikonsepkan. Tetapi melupakan kontrol prilaku, lalu membongkar semua aturan dan tatanan sendi-sendi semesta raya, walaupun sesaat bisa ditutupi. Tetapi keadilan semesta pada saatnya pasti menghukumnya. Banjir dan banjir yang sekarang terjadi, yang amat meresahkan rakyat.
Dampaknya merayakan “kemenangan” dengan cara mabuk-mabukan, pesta narkoba, judi dan pesta-pesta lainnya. Bukan merayakan dan mensuport kemenangan dharma. Justru perayaan yang ditunggangi untuk merongrong dan membuka kembali kesempatan asura untuk menguasainya. Realitasnya hari raya yang semestinya riang gembira mendamaikan, justru menjadi aib yang terus menerus terjadi. Merusak citra diri secara lokal maupun di dunia global. Haruskan pembiaran demi pembiaran masalah itu terjadi, walaupun hukum formal telah menyelesaikan. Tetapi hukum rohani yang mengedukasi perlahan-lahan mesti menjadi konstruksi edukatif dan berlanjut, diranah pengetahuan material menuju pencapaian kesadaran rohani, yang lebih meresap dan meluas.
Tugas besar pemimpin pengayom seperti itulah amat jarang hadir ditengah-tengah masyarakat saat ini, yang lebih banyak adalah oknum-oknum pemimpin koruptor, bertopeng alim. Konstruksi edukatif yang mempribadi, membuka topeng-topeng itu, amat penting untuk disadari dan mesti terkondisi dalam diri setiap insan. Diperkuat oleh perlindungan pemerintah, yang benar-benar seimbang arif dan bijaksana, terkondisi terus berlanjut. Bukan membiarkan praktek intoleran memainkan perannya menjadi penjajahan spiritual atas nama kebenaran tertentu saja.
Menyadari dan cerdas memaknai kebhinekaan itu adalah realitas kebenaran yang mengalir dan mesti terpelihara. Karena kebhinnekaan itu hakekat natural ciptaan semesta. Lalu menginspirasi kreatifitas penciptaan budaya yang memberi hidup jasmani dan rohani dalam ruang lokalitas masing-masing. Budaya gurun, budaya tropis, budaya agraris, budaya laut dan lain-lainnya, semua ada dan tercipta di ruangnya masing-masing. Semuanya menciptakan dan memberi daya hidup lalu mendukung langkah penyempurnaan rohani memasuki nilai-nilai religius dan spiritual yang membahagiakan. Kesadaran yang tumbuh seperti itu adalah kesadaran perayaan yang terhormat, menghormati hakekat hidup memperjuangkan, kemenangan kebenaran yang berbhinneka yang mendamaikan itu. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments