
“AURA KASIH”
“WASPADAI KETIKA KEYAKINAN MELEMAH”
Oleh: I Ketut Murdana (Selasa, 30 Desember 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Ketika Keyakinan terhadap kebesaran kuasa-Nya semakin melemah, akibatnya merefleksikan sikap acuh tak acuh terhadap kebenaran. Lalu semakin ingkar janji-janji, ingkar sumpah-sumpah, lupa diri, hingga semakin mabuk pembenaran. Mabuk kesenangan dan sumringah napsu duniawi, merongrong kenyamanan dan kedamaian semesta (dunia dan sorgawi). Tenggelam memasuki sifat dan ketidak sadaran mengubur kesadaran diri (gelap gulita).
Akibatnya merefleksikan tindakan ceroboh gelap menghancurkan. Memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa merupakan sasarannya. Kecerdasan intelektual yang berjiwa asura itu menguasai teknologi canggih, kapital, serta kekuasaan politik. Bergerak menguasai tatanan sosial, berambisi memperkosa alam semesta, berdalih-dalih demi kesejahteraan rakyat.
Menciptakan konsep-konsep pembangunan mengatas namakan kepentingan rakyat, disusun disyahkan, tetapi hanya bertepuk tangan meriah saat dirumuskan dan disyahkan. Tetapi redup di ruang aksi tanpa daya kebajikan. Karena memang seperti itu roh dari undang-undang untuk menguntungkan kekuasaan menguasai sumber daya alam memperkaya diri. Konsep penyelamatan lingkungan yang hebat tercetak tinta emas, tetapi danau menyempit dan tercemar, hutan semakin gundul, sungai rapi bertepi indah, tetapi semakin menyempit, lalu air meluber menghancurkan. Lautan dikuasai pengusaha yang penguasa. Polusi udara menciptakan kondisi tak sehat. Karena bergerak belak belok menuju jejaring kantong-kantong asura penumpuk kekayaan. Sebagian rakyat yang diatas namakan hanyalah menonton, dan mendengar derunya, bagaikan pesawat melintas di atas rumah. Tetapi apabila alam marah, rakyat sekitar terdampak paling besar.
Pada sisi yang lain, lahir insan-insan cerdas pembuli bahkan ingin menghancurkan abdi-abdi kebenaran yang telah banyak membangun untuk negeri. Seorang polisi hutan sangat takut dengan asura pembabat hutan, karena kekuatan asura lebih hebat, karena insan-insan telah banyak berubah menjadi asura. Itu artinya jiwa dan hakekat dari kebenaran abadi, redup tak berpacaran sinarnya dalam jiwa-jiwa insan-insan duniawi. Kesadaran “Atman” yang merupakan sifat Ilahi, yang menjadi perjuangan leluhur untuk meluhurkan diri setiap insan, terbungkus kegelapan, “Dia” ada tetapi tak bersinar. Akibatnya tak mempunyai kekuatan untuk menembus kegelapan hawa napsu dan ego yang menguasainya, demikian pula situasi di luar dirinya.
Realitas jiwa seperti inilah penderitaan, yang disebut kebutaan hati nurani itu sendiri. Realitas aksinya menyenangkan sesaat lalu menghancurkan, yang disebut menyesatkan itu. Akibatnya jalan hidup yang ditempuh tak tentu arah. Apa yang diinginkan hanya pemuasan hawa napsu sesaat saja, hingga melupakan etika dan kesantunan publik. Sesuatu rahasia yang mesti menjadi rahasia, justru dipublikasi menjadi jualan di ruang terbuka. Dari martabat yang beradab, menjadi erosi semakin tak beradab. Berbungkus menjunjung tinggi hak asasi individual. Itu artinya pergerakan rasa keberadaban yang membedakan manusia dengan binatang.
Tetapi sekarang realitas ini dibongkar dengan konstruksi pemikiran kembali ke masa lalu yang primitif itu, berinteraksi dengan dinamika sosial saat ini. Memaknai realitas ini nampak tumbuh “keyakinan baru” mendorong prilaku terhadap kebebasan individu ditengah ruang kebebasan yang diangankan. Interaksi baru yang menempatkan hak individu dalam dinamika ruang sosial, sangat menarik untuk dikaji. Untuk memuaskan napsu-napsunya itu, mereka mencari teman untuk memasuki struktur ketatanegaraan, politik, keagamaan, budaya bahkan Supra struktur untuk merongrong keyakinan, mengubah mentalitas untuk dikuasai. Konstruksi dogmatik pembodohan menjalar tanpa disadari.
Pada sisi yang lain musibah itu dimanfaatkan oleh keyakinan tertentu, untuk mempromosikan diri guna memperoleh pengaruh. Keselamatan tempat suci yang kebetulan tak tersentuh musibah, dimaknai sebagai keunggulan spirit pembenarannya. Seperti itulah asura cerdas telah bergerak menyusup ke berbagai lini menebar pengaruhnya. Oleh karena itu, kesadaran bertahan menghadapi masalah dengan menguatkan keyakinan masing-masing merupakan esensi hidup yang sesungguhnya. Bukan larut terhadap situasi dan terpancing untuk mengubah keyakinan.
Mengubah memang bisa cepat tetapi belum tentu cepat bisa berubah mengubah prilaku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Berkenaan dengan itu keyakinan bukan sekedar tranformasi jasmaniah tetapi mewujudkan melalui kesadaran rohani hingga menemukan esensi memaknai hidup dalam kehidupan yang sesungguhnya. Dengan demikian sifat-sifat asura yang mengungkung dan membukus rapat hati nurani, terbuka perlahan mencapai kesadaran diri yang sejati. Ketika itulah hidup berguna dan bermakna bagi kehidupan itu sendiri. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments