February 16, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“TAHUN BARU: MEMAKNAI KECERDASAN AGAR TAK MEMABUKKAN”

Oleh : I Ketut Murdana (Sabtu : 03 Januari 2026)

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Ketika kecerdasan di dunia material dikuasai napsu berlebihan, mendongkrak bayang-bayang kesuksesan.  Mengakibatkan hati nurani terdesak semakin kelam tanpa disadari. Kekelaman itu dimanipulasi oleh kecerdasan olah pikir bertopeng konsepsi teks simbolik, meraba-raba kebajikan spiritual olah pikir los rasa kesopanan santunan publik. Berslogan “yang penting berani”. Akibatnya popularitas manggung atau gila panggung terus dilakukan. Lalu terus membuli siapapun yang ada dihadapannya, agar terlihat lebih cerdas dan populer. Lupa merasakan akibat bulian itu pada perasaan obyek personal sasarannya. Terus mencari dan mencuri panggung, mabuk popularitas. Setiap kesempatan, yang sesungguhnya bukan untuk dirinya, diterobos menundukkan melalui topeng spiritnya.

Walaupun audiennya selalu melontarkan aksi kritik diam, ditengah-tengah keengganan komunikatif. Sesungguhnya memang tak penting untuk dibahas, tetapi vibrasi buruknya memerlukan waktu dan kecerdasan spiritual, untuk mengheningkan agar bebas dari pemburamannya. Laku popularitas “buli” yang terus menerus dilakukan lalu merasa menang dan bangga atas kemenangan “buli” yang tak pernah menyegarkan itu. Menjadi kemenangan ego yang menjauh dari cinta dan welas asih.

Refleksi kejiwaan yang los percaya diri seperti ini, tak pernah menerima saran baik apalagi nasehat, karena  “panggung dan kebenaran” hanyalah miliknya.  Karena dikondisikan dan suport raja-raja asura. Realitas kejiwaan itu menunjukkan super ego, yang sesungguhnya menutupi kemurnian hati nurani yang murni itu, perlahan menurunkan dan menghancurkan harkat martabat kemanusiaan itu sendiri. Penghancuran dari dalam seperti inilah yang patut diwaspadai.

Demikianlah Rsi Walmiki menggambarkan kisah Rahwana, yang tak pernah menerima nasehat baik dari segala arah. Marah-marah kepada Wibhisana ketika menghormati Sri Rama dengan sebutan “Sri”. Itu artinya Rahwana sangat tak nyaman ketika orang lain dihormati, karena kehormatan dan kemuliaannya. Walaupun Rahwana adalah menguasai Catur Weda dengan baik dan menjadi pemuja Dewa Shiva terbaik, yang dihormati oleh wangsanya. Tawaran pengampunan demi pengampunan dari Sri Rama, akibat menculik Dewi Sitha, tak pernah digubris. Rahwana memandang bukanlah seorang kesatria sejati ketika tak siap berperang untuk memperjuangkan niatnya itu. Seperti itulah gambaran “kesatria” yang berjiwa asura, merusak dan menghancurkan tatanan etika moralitas kesantunan yang diperjuangkannya. Akibatnya jalan terakhir adalah “pralina”. Mengubah yang tak baik menjadi lebih baik dan berguna untuk kedamaian dunia dan semesta raya.

Nampak kebenaran popularitas egoistik seperti itu yang sekarang laku di era tak menentu ini. Manggung menjadi ruang gebyaaar, mendulang sensasi menaikkan derajat popularitas, bisa berbayar uang atau berbayar nikmat biologis. Realitas ini sudah menjadi rahasia tetapi tak rahasia lagi. Mereka berbuka ketika popularitas tak tercapai atau bayarannya tak sesuai lagi. Gulungan maut gurita maya menguatkan identitas asura yang semakin menggelapkan jiwa-jiwa insan duniawi seperti itu sedang bergelora saat ini. Menjadi “peteng pitu” kegelapan tingkat tinggi yang sedang menguasai. Menempatkan kuasa Jaman Kaliyuga sedang mempribadi lalu berdampak luas bagi masyarakat.

Fenomena ini sudah semestinya menjadi fenomelogi, yang mulat sarira bertanya kedalam diri melalui pengetahuan suci yang penuh cinta dan welas asih. Semua itu untuk menganalisis fenomena menjadi serapan nilai-nilai, sebagai evaluasi mencapai penyempurnaan diri guna mencapai karakter bangsa yang bermartabat. Pertanyaannya apakah tokoh-tokoh pemimpin bangsa berkomitmen memperjuangkannya dan melaksanakan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan?. Inilah persoalan besar, menjadi mata rantai putaran perjuangan insan-insan duniawi yang berjiwa dewata dan berjiwa asura. Tentu berharap memenangksn sifat-sifat Dewata menciptakan kemenangan yang mendamaikan.

Bukan sekedar ingin memainkan dan mengubah waktu perayaannya. Sesungguhnya yang lebih penting dan esensial yang amat berat adalah megedukasi spirit insan-insan duniawi, agar perlahan menekuni laku spiritual nan esensial yang sungguh dan yakin bersama-bersama. Merupakan laku edukasi panjang penyempurnaan diri yang patut dilakukan dan dikedepankan. Sesuai dengan urutan Sila-sila dalam Pancasila. Ketuhanan adalah nomer satu. Sadar memaknai dan menyikapi dalam menomer satukan prilaku berkesadaran ilahi, kedamaian pasti menyertai. Refleksinya sadar dan selalu tertuntun atas kaidah-Nya, melalui kuasa Keluhuran-Nya yang mempribadi, meresapi Para Suci Guru-guru besar di dunia.

Bukan semakin irihati dan semakin berani membuli dan menghina orang-orang suci yang telah mengorbankan jiwa raga demi kewajibannya kepada dunia. Waspadailah asura-asura yang bertopeng kata-kata teks kesucian ajaran, tetapi berprilaku nyungsang. Karena menjadi bandit-bandit pembenar kuasa asura. Lalu dipanggungkan demi politik bertopeng spiritual. Bukan mendulang kesucian spiritual yang mendamaikan. Terus menerus manggung dengan topeng-topeng spiritual, membanggakan dan mengagungkan darah keturunan untuk mendulang pengaruh, lalu menguasainya.

Dinamika inilah memerlukan duduk bersama-sama merenungi, memaknai, pengetahuan suci menjadi prilaku spiritual yang membumikan rasa damai, menyelaras sesuai karakter psikologi kekinian yang adaptif dan komunikatif. Bukan sebagai menara gading yang amat sulit disentuh dan bertranformasi serta merefleksi. Lalu tak tepat sasaran. Agar yang gatal benar-benar digaruk dan segera diobati, yang tak gatal jangan digaruk agar tak menambah iritasi dan sakit semakin meluas. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!