
“AURA KASIH”
“TRANFORMASI DAN TRANMISI”.
Oleh: I Ketut Murdana (Sabtu, 10 Januari 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Transformasi nilai-nilai kebenaran yang meresapi jiwa-jiwa, membutuhkan kerja kebajikan restu Ilahi yang tiada henti, menjadi “misi suci” yang terus bergerak. Bergerak menjadi keyakinan yang semakin kuat, tulus meresap di dalam diri yang “dijadikan atas kehendak-Nya”. Akibat dari semua itu, alam semesta mengalirkan energi kuasa dan perlindungan-Nya. Kekuatan itu, meresapi jiwa dan raga abdi-abdi-Nya tanpa disadari. Merefleksikan rasa keyakinan yang tulus digerakan oleh kesadaran berkarma kebajikan, menjadi hubungan energi kasih yang terus menerus mengalir. Seperti itulah wujud kebenaran restu Ilahi, yang mempersonal bergerak terus menerus membumi dari jaman ke jaman.
Kebenaran ini tak pernah padam, hingga disebut kebenaran mutlak sebagai kehidupan yang abadi. Keyakinan insan-insan duniawi selalu “berubah” maju, turun mengabur atau landai biasa-biasa saja. Walaupun demikian kekuatan Ilahi yang membumi, menjadi IBU (prakerthi) kasih suci tak pernah padam, hidup vital nan esensial. Terlihat diam, karena insan-insan duniawi, belum banyak atau tak menyadari sistem kerja-Nya yang melayani seluruh ciptaan-Nya. Sejalan dengan kehidupan itu, Sang Waktu bergerak membentuk karakteristik jaman yang disebut “Kalpa” (Catur Yuga).
Memberi daya hidup semua karakter, sebagai berkat kehidupan yang bergerak, mencipta, memelihara, mempralina lalu hadir kembali “dalam ciptaan baru”. Kebenaran ini bergulir terus sepanjang jaman, mengedukasi “penyempurnaan” agar mencapai “penyatuan” dalam kesempurnaan. Hanya hidup sebagai manusialah dapat memahami sistem edukasi penyempurnaan itu. Seperti itulah anugrah pengetahuan hidup. Oleh karena memanfaatkan kesempatan baik, untuk menyempurnakan mencapai kemuliaan diri adalah “kebenaran”.
Walaupun kekuatan Ilahi ini selalu digelapkan oleh kekuatan asura yang menghadang, merongrong menghancurkan. Menjadi hukum dualitas yang mesti dicermati dan ditembus oleh siapapun, untuk menemukan esensi kebenaran-Nya. Agar mencapai kualitas kejiwaan yang disebut “jati diri” mencapai kebenaran yang berguna dalam berbagai dimensi nan heraskhis, dalam kehidupan di bumi. Tetapi sulit dipahami menjadi tindakan karma baik, dikalangan masyarakat luas. Oleh karena itu kesungguhan edukasi spirit sangat penting nan vital dalam kehidupan saat ini. Menempatkan kesungguhan “berguru” Sad dan Sat. Maksudnya belajar melalui Guru Suci di dunia material memasuki dan meresapi ajaran Guru (Tuhan Yang Maha Kuasa). Semua itu merupakan rujukan edukasi yang bersistem mencapai kebenaran. Mulai dari kesadaran diri yang sungguh, mencapai kebenaran sejati.
Bukan sekedar bayang-bayang luar tanpa koneksitas, obyek dan merasakan kebenaran itu sendiri. Walaupun telah menjadi ketentuan dan sumpah, tetapi sumpah tinggal sumpah, yang berhenti pada ritual dan seremonial saja. Belum memasuki resapan kesadaran prilaku itu sendiri. Akibatnya pelanggaran dan penghianatan terhadap kejujuran berjalan dan terus berjalan dan meningkat. Akibatnya tugas-tugas besar pembangunan yang seharusnya mensejahterakan, justru menghancurkan.
Pemimpin yang mesti bertanggung jawab justru sibuk menghindar memainkan hukum duniawi, ingin menghindar dan membersihkan diri tanggung jawab. Dapatkan karma baik atau karma buruk itu ditutup-tutupi yang berhubungan dengan hukum semesta. Tentu tidak, setidak-tidaknya saat hening hati nuraninya, bisa berteriak histeris memohon pengampunan, walaupun di dunia sosial sangat gengsi mengakui kesalahannya. Itu artinya hati nurani yang dikuasai keangkuhan ego belum terampini.
Sumpah dalam kontek ini datang dari ketentuan harapan baik, tetapi belum hadir dari “kesadaran sungguh dalam diri”, untuk berbuat baik sesuai “ketentuan tugas” dan “keimanan” yang berlaku. Itu artinya terlepas dari peran Guru yang disegani. Dalam purana dituliskan bahwa, Asura dan Dewata diberikan Guru oleh Yang Maha Kuasa. Bhagawan Sukracarya guru para asura, dan Bhagawan Werasphati Guru para dewa. Agar keduanya sadar pada posisi masing-masing.
Pada sisi yang lain, kebenaran selalu menjadi angan-angan dan buah bibir, serta ketentuan teks, tetapi amat sulit menjadi komitmen sungguh berprilaku benar dan bajik. Karena intensitasnya bergerak diantara keinginan dan kebutuhan jiwa, yang amat sulit dibayangkan dalam perspektif jangkauan prioritasnya. Keinginan yang bias dan liar, seringkali mengaburkan kebutuhan jiwa yang tenang dan damai santhi nan welas asih.
Saat-saat seperti inilah kesadaran penyempurnaan berproses, entahlah akan bergerak naik atau turun. Kecendrungan realitas kini nampak bergerak turun menjadi erosi moral dan kultural yang amat dominan. Lalu diperparah oleh kehadiran keyakinan yang berkarakter ideologi eksklusifisme, mengakibatkan senggolan-senggolan identitas, akibat dimanfaatkan oleh kepentingan tertentu hingga kepincangan sosial selalu terjadi. Berkenaan dengan itu keadilan yang mensejahterakan rakyat sangat mahal diperoleh.
Akibat dari semua itu pengalihan isu melalui persepsi-persepsi liar lahir, meraba-raba lalu menuding “tatanan” ritual tertentu dianggap sebagai dalih, lalu ingin menggantinya. Pada sisi yang lain tetap bertahan, karena telah mentradisi mengakar kuat dihati masyarakat. Akibat dari semua itu membuka ruang disharmoni yang pro dan kontra, memancing perpecahan. Apabila management tata kelola berbasis keselaran harmoni ditempatkan sebagai upaya pencapaian, sangat baik. Tetapi apabila pendekatan menageman konflik tertunggangi kepentingan politik, tentu menjadi emosional tak terkendali. Realitasnya pendapat berbeda dianggap sebagai musuh dan direndahkan dengan dalih-dalih tertentu. Tentu semua itu bukan menjadi harapan, yang memerlukan kebijaksanaan bersama.
Secara tersembunyi hadir juga persepsi baru, yaitu melindungi kelompok pendukung, walaupun terlihat terang benderang. Akibatnya menjadi “kepuasan” sesaat yang bisa menghancurkan. Mengalihkan isu demi nikmat korupsi saat berkuasa, sangat pendek usia, lalu luluh lantak, saat tak berkuasa. Realitas ini telah menempatkan nilai-nilai kejujuran tak memperoleh perhatian, walaupun disebut-sebut tetapi sebagai topeng yang tak berkoneksi dengan nilai esensialnya. Menjadi sumpah kata-kata yang berhubungan dengan esensi tanggung jawab kepada Yang Maha Kuasa. Akibatnya tak takut berbuat jahat, lalu berubah menjadi asura-asura rakus.
Realitas dinamis ini belum sepenuhnya dijadikan “Guru” pengalaman untuk mengubah dan menyungguhkan prilaku kebajikan. Agar terlihat berjaya, yang sudah stabil dirongrong, bukan didorong pemantapannya. Justru yang berjuang untuk memantapkan diri, terlepas dari perhatian. Memposisikan bandit-bandit asura sebagai bentengnya, akibatnya kepincangan demi kepincang terjadi. Agar tervalidasi oleh jaman, berupaya mengkonstruksi pemikiran idealis konsepsional, yang seolah-olah tembus pandang. Bukan memaknai kebenaran itu, melalui kuasa-Nya sebagai sifat-sifat Guru Wisesa yang membumi, mengedukasi, menyelaras, mengangkat sesuai kepatutan, menjadikan bernilai kebenaran yang bervibrasi mendamaikan.
Kebenaran ini amat sulit dijangkau oleh pikiran yang masih terkondisi oleh keinginan napsu berlebihan yang semakin liar. Menjadi gaya hidup terukur secara material. Persoalan besar inilah yang terkondisi aktif, bagi sebagian besar insan-insan duniawi “ingin menjadi raja” di jaman material saat ini. Akibatnya kemewahan material sebagai tujuan, ingin menguasai bahkan “membutakan pengetahuan suci kebenaran”, yang berakibat buruk terhadap keberadaan semesta raya.
Realitas pergerakan napsu ini semakin bergerak membabi buta, hingga keseimbangan alam semakin hancur. Walaupun saatnya berbalik menghancurkan asura-asura rakus pada saatnya. Manusia semakin menderita dan makhluk lainnya punah sirna dalam tugas-tugas penyeimbangan. Sesungguhnya perangkat-perangkat penyeimbang penyempurna yang mesti dilayani insan duniawi, justru dihancurkan dengan cara yang logis sok beradab dan ilmiah intelektual. Akibatnya penyakit aneh-aneh dan ragam bahaya lainnya menyerang kenyamanan hidup manusia. Kebuntuan penyempurnaan insan-insan duniawi yang hanya mengedepankan pengetahuan material duniawi telah terjadi. Menciptakan kengerian hidup dalam kepincangan sosial yang terus meningkat.
Kenyataan yang memprihatinkan ini, dilengkapi oleh keraguan insan duniawi, terhadap kebenaran. Pengetahuan suci yang mesti dikuatkan tak mendapat perhatian yang sungguh. Orang-orang yang sungguh berdoa dan berkarma baik untuk kedamaian dunia dituduh macam-macam. Judi yang sesungguhnya dilarang oleh undang-undang justru didongkrak dan dilindungi hingga berkembang liar dan bebas berpromosi nyaman di ruang sosial. Walaupun bahaya kematian dan ragam konflik seringkali terjadi. Tetapi tetap saja jalan ditengah-tengah masyarakat. Karena disana juga ada pundi-pundi “suara” yang pernah memenangkan atau untuk “kemenangan” berikutnya. Oleh karena itu mesti terpelihara dan dikondisikan. Pembiaran demi pembiaran akhirnya berdampak buruk, lalu diganti pengalihan isu, lalu berdalih kerusakan itu ke obyek lainnya. Seperti itulah permainan dramatisasi “realitas yang dibenarkan” menjadi transmisi….hingga saatnya “misi kebenaran” bersama dalam kesatuan dan persatuan bangsa bergerak maju mencapai tujuan. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments