February 16, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“MENGUATKAN IMAN MENEMBUS KEGELAPAN”

Oleh:  I Ketut Murdana (Rebo, 14 Januari 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Betapa pentingnya menguatkan keimanan, kepada sifat kuasa-Nya yang Maha Kasih, ditengah-tengah kekaburan iman dalam bungkusan hawa napsu kegelapan. Demikianlah Si Supala kecerdasannya dibutakan oleh hawa napsu, menjadi kecerdasan yang memabukkan, tabrak sana tabrak sini, meninggalkan bau busuk menyengat. Memanggung dan dipanggungkan demi tujuan tertentu. Demikianlah sifat-sifat penegakan dharma saat ini sedang diuji oleh sifat-sifat adharma, yang menguasai permukaan.

Respon gelombang energi asura pendukungnya menjadi sorak sorai, bergetar memabukkan. Ketika dimaknai dari sisi penyelarasan emosi, tentu tak menyentuh esensi rasa damai yang menyejukkan. Karena memang bukan itu tujuannya. Tetapi bagaimana menghancurkan lawan-lawan politik yang bersebrangan dengan mereka. Berkenaan dengan itu, mesti dimaknai dibalik realitas yang tersembunyi, sebagai basis “karma Jnana” menembus kegelapan. Seperti itulah Yudhistira memaknai judi, dan berkorban agar setiap insan sadar, bahwa yang menang dan yang kalah tak pernah mau berhenti, agar ingat dampak buruk yang ditimbulkan. Ketika narasi esensi makna psikologis dibalik realitas itu, dapat diserap, maka bisa menjadi pembangkit semangat mencapai kemenangan.

Walaupun pengemban sifat-sifat rajasika asura itu selalu, los value nan normatif, karena memang seperti karakternya. Menjadikan sifat dan sikap lupa diri, karena sedang dikuasai ego asura. Keangkuhan sifat-sifat seperti itu, amat sulit disadari, akibatnya selalu merasa benar sendiri. Bergerak semakin memuncak, menjadi super ego yang semakin merasa di puncak keimanan. Merasa dipuncak, dimaknai sebagai anugrah. Seperti itulah asura memaknai hukum karma. Selalu berupaya mengelabui Dewa Brahma memohon anugrah dengan kekuatan tapanya, sebagai upaya mencapai keabadian.

Patut disadari bahwa dibalik kecerdasan memaknai “anugrah”, ada nilai tersembunyi dan rahasia yang tak terjangkau oleh kecerdasan asura itu sendiri. Taraka Asura memperoleh berkat menguasai dunia, dan akan mati terbunuh oleh putra Dewa Shiva. Pandangan atas kecerdasan dan anugrah tapanya yang keras itu, memandang Dewa Shiva sebagai pertapa tak mungkin mempunyai putra. Akibat permohonan itu diberkati oleh Dewa Brahma. Dalam kontek ini sifat-sifat Dewata tak dipahami sebagai sifat yang “utuh dalam Ketunggalan”, tetapi dimensi pesialnya yang mensubstansi. Waspadalah memahami “kebenaran” ini, agar tak menjadi keangkuhan dan kesombongan spiritual.

Konfigurasi itu merefleksikan edukasi spirit yang tak boleh melewati garis-garis kebenaran melalui “kuasa anugrah-Nya”. Tetapi asura selalu memainkan kecerdasannya untuk menguasai dunia. Selalu menentang Kemaha Kuasaan-Nya, akhirnya selalu kalah, lebur kembali ke bumi menunggu putaran waktunya tiba. Saat ini nampaknya waktunya tiba, hingga asura-asura lahir gemuruh dari neraka, dan hadir ke permukaan bumi berambisi menguasai dunia dalam berbagai ragam versi karakter. Alam semesta diperkosa untuk memuaskan napsu materialnya. Mengakibatkan rakyat menderita dimana-mana, sifat-sifat Dewata dalam diri manusia digulung kabut gelapnya.

Salah satu wujudnya sebagai penentang dharma dilukiskan oleh Rsi Wyasa adalah Si Supala, seorang raja di Kerajaan Cedi yang selalu menghina Sri Krishna. Saat Raja Yudhistira akan menggelar ritual besar Rajasuya, oleh para suci dan Guru Besar Istana, Sri Krishna ditokohkan sebagai tamu kehormatan. Kehormatan itu, dianggapnya sebagai penghinaan terhadap kesucian ritual, karena Sri Krishna baginya adalah seorang pembohong, penipu yang amat licik. Oleh karena itu tak pantas menimpakan harga puja yang sangat besar itu, kepada seorang penipu.

Akibat dari semua itu, upacara suci diliputi ketegangan, dikotori penghinaan, oleh Si Supala.  Kebenaran hanya ada sesuai pandangannya sendiri. Akibatnya semakin menjauh dan menghancurkan tatanan etika moral kesantunan publik. Pada sisi yang lain menjadi reaksi apatis dan kritik diam. Lalu penghancuran kesombongan Si Supala terjadi saat itu. Dalam kontek sosial keangkuhan semacam itu merongrong nilai-nilai komunikasi yang humanis tanpa disadari, menjatuhkan dirinya sendiri. Semakin menguatkan ciri penyakit mental, penyakit jiwa yang menguasai pikiran, menjadi perkataan dan prilaku yang semakin ngawur, terlalu percaya diri, menjauh dari tatanan harmoni.

Tak merasa malu, memasuki setiap kesempatan menciptakan disharmoni yang semakin parah dan menggila, menjadikan sahabat diskusinya sebagai tempat mencurahkan ego bulian yang semakin liar. Lalu tertawa terbahak-bahak merasa senang di atas kekecewaan orang lain. Los konektif dan korektif serta evaluasi. Karena sudah merasa benar, lupa pada imbas buruk arus balik yang terjadi. Saat itulah sesungguhnya hukum karma sedang bekerja, yang amat sulit dipahami. Realitas yang terjadi sebagian besar bukan memasuki ranah penyempurnaan itu sendiri. Tetapi hadir sebagai sparing penggoda, bukan sebagai pendorong kemajuan.

Kecerdasan terhadap bacaan narasi sosial ini, sangat penting sebagai upaya evaluasi diri, yang sesungguh menyiratkan nilai dan makna yang patut direnungi dan dikaji sebaik-baiknya.

Memaknai realitas (fenomenologi) sangat penting agar setiap saat bisa memproteksi diri sebaik-baiknya agar terhindar dari “penyakit ambisius” yang terus meliar tak tentu arah, hingga menjadi kewaspadaan baik dan benar. Untuk itu kembalilah kepada kesadaran diri untuk menguatkan esensi spirit, menghubungkan pengetahuan suci, realitas dinamis dan upaya mengkonstruksi, mengkonfigurasi menjadi sadar kembali pada tindakan (karma) penyempurnaan hidup dalam kehidupan ini. Melalui tuntunan Guru lewat pengetahuan suci, yang selalu menyelaras.

Bacaan realitas inilah sesungguhnya pengetahuan hidup berdimensi material dan spiritual meresapi ragam karakter. Kedalam diri sendiri selanjutnya merefleksikan hingga bervibrasi baik, benar dan indah (Sundharam) kedalam diri sendiri lalu merefleksi kedalam lingkungan sosial yang Santhi dan Welas Asih. Selanjutnya sadar pada ruang identitas karakter “apa”, yang mempribadi dan mengkomunitas, lalu mentradisi menjadi budaya serta pola panutan sepanjang sejarah. Itu artinya sadar karakter psikologis yang merefleksikan metodologis dalam setiap aksi pada alam semesta maupun di ranah sosial.

Ketika kekuatan spirit itu semakin kuat meresapi insan-insan duniawi, maka perubahan mentalitas menuju kemajuan rohani yang mendamaikan tercipta dengan sendirinya. Harapan dan perjuangan Bhakti inilah yang selalu diajarkan oleh Leluhur, untuk meluhurkan harkat dan martabat manusia, berbangsa dan bernegara. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!