
“AURA KASIH”
“Kedamaian Angan-angan Sepi di Jaman Kaliyuga”
Oleh: I Ketut Murdana (Kemis, 12 Maret 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Kedamaian sebagai nilai spiritual adalah “ketenangan” yang terefleksi dari tata tertib (tata laksana pengetahuan yang beretika) yang berada di atas nilai-nilai positif dan negatif yang terpancar dari kesadaran akan realitas di dalam diri seseorang. Pancaran kesadaran itu merupakan manifestasi dari “Sat”, yang berada dalam kemurnian jiwa-jiwa itu sendiri. Dalam kemurnian itu “kedamaian terasa melampaui pemahaman”. Saat itu pula kesadaran oleh pikir tunduk lalu lebur dalam rasa damai. Kemudian bergerak lagi pada posisi dan saatnya, mempertanyakan, memaknai dan menembus misteri dinamis dihadapannya, yang selalu mengungkung. Seperti itulah kehidupan itu bergerak.
Saat itulah pikiran berkembang dan mengembangkan sekaligus mempertimbangkan mencapai “Wiweka Jnana”, mencapai kebijaksanaan. Pikiran merupakan jendral yang memimpin jalannya kehidupan. Akibat dari semua itu “kesadaran” berkembang tarik menarik dari obyek indra, melalui sifat-sifat dualitasnya sebagai “pasangan yang berlawanan”. Dinamika gerak realitas ini tak dapat dihindari oleh siapapun.
Menunda waktu dan menghindar untuk menyelesaikan, justru menjadi beban psikologis berkepanjangan. Itu artinya pahala masa lalu membebani hutang karma masa kini. Dapat menghambat kelancaran karma masa kini, hadir “sebagai penderitaan” yang sulit dipahami. Oleh karena itu, saat hidup pahala buruk karma itu mesti “dibayar” melalui karma baik. Ikhlas tak ikhlas itu terjadi saat kehidupan ini. Sadar terhadap realitas kebenaran itu, insan-insan duniawi membutuhkan edukasi spiritual dan Guru, untuk menuntun jalan mencapai pembebasan.
Seperti itulah beban pahala dari suatu karma yang tak disadari. Walaupun jutaan kali dibaca dan dibicarakan lalu ditulis ulang, tetapi sulit melawan kemalasan, acuh tak acuh untuk berkarma baik. Akibatnya terjebak sifat-sifat asura maya, pembentuk jaman Kaliyuga yang membingungkan itu sendiri. Menguatkan dan mengendorkan serta meluruskan, dinamika gerak hidup, merupakan kendali untuk mencapai “guna” yang berguna menyempurnakan harkat hidup di dunia material (Sadguna Brahman) dan mencapai kebahagiaan di dunia rohani (Nirguna Brahman).
Ketika aspek guna ini disadari sebagai upaya mencapai dan merasakan kebenaran-Nya, maka kesadaran tumbuh dan berkembang, bahwa sifat-sifat Ilahi dewata meresapi segala-galanya. Apabila insan-insan duniawi memahami kebenaran itu, maka seluruhnya adalah manifestasi keberadaan-Nya yang akrab. Lalu berinterfenetrasi menyelaras menguatkan hubungan komunikasi rasa suci, rasa indah mencapai kebenaran-Nya.
Ketika itulah jiwa-jiwa dan raga, menundukkan diri sujud sesungguhnya, penuh keyakinan. Rasa nikmat dan manisnya kebahagiaan meresap memenuhi kalbu. Lalu sadar kembali pada realitas duniawi yang cerah menatap jalan hidup. Ketika itulah bahasa dan prilaku jujur telah meresapi dan melekat menjadi kendali kuat dalam diri sendiri. Saat kesadaran itu tumbuh, kejujuran hati nuranipun semakin subur.
Persoalan besar jebakan jaman Kaliyuga saat ini, banyak insan-insan cerdas, mengetahui dipinisi dan berceramah dimana-mana tentang kejujuran, tatapi amat sulit, berprilaku jujur menjadi contoh teladan. Bahkan ajaran para sucipun besar duniapun dibelokkan, oleh para asura yang bertopeng kesucian. Hanya untuk formalitas-formalitas semata dan memperkaya diri saja. Betapa kuatnya kegelapan menguasai insan-insan yang ditipu, maupun yang menipu, menjadi arus budaya tipu-tipu dengan janji-janji surgawi. Tawaran nikmat bayang-bayang ini, menjebak ilusi insan-insan duniawi, tetapi amat sulit disadari.
Setumpuk materi ceramah, berbusana gamais, penuh teriakan kata-kata kebenaran, justru paling banyak dustanya. Kebenaran berhenti hanya mengisi kecerdasan otak, melupakan kejujuran hati nurani. Akhirnya yang ada hanyalah menjual kebenaran untuk popularitas materi yang semakin rakus tak pernah puas. Seperti itulah dinamika realitas kini, yang laku besar dalam kehidupan sosial politik saat ini. Walaupun bersifat sementara yang menyengsarakan.
Ketidak yakinan dan kepuasan profesional, mudah dirangsang untuk lompat pagar, berubah menjadi wakil rakyat. Oleh karena sulit menghadapi persoalan ribet dan dinamis penuh teka-teki. Maka lahir pertanggung jawaban main-main di ruang gelap. Akibatnya menjadi perbuatan yang mendustai rakyat. Itu artinya material hanya ingin digunakan untuk memperbesar egoistis material. Melupakan hakekat esensial yang tersembunyi untuk berbagi untuk mensejahterakan masyarakat.
Sesungguhnya dengan cara berbagi dengan niat tulus adalah menanam kembali yang akan tumbuh berkembang membesarkan tanaman kebajikan itu kembali. Berbagi itu juga berarti menguatkan akar-akar tumbuhnya pohon energi material itu, hingga mampu mewadahi dan menjaga gangguannya. Sesungguh nilai tersembunyi inilah hubungan cinta kasih antara jiwa (Buana alit) dengan alam semesta (Buana Agung) yang juga disebut “hubungan subyek dengan obyek”. Agar mampu merasakan kebenaran inilah, tipuan maya dari kekuatan dualitas yang selalu bergerak kasar, halus, manis, pahit, menipu dan seterusnya, amat sulit dipahami. Ketika pembiaran jiwa-jiwa ambisi material semakin rakus, lepas kontrol kejujuran. Itulah jalan asura maya yang menghancurkan yang bergelora sedang “dipercaya” oleh “insan-insan buta dan miskin” rohani.
Pertanyaannya akankah rasa damai semakin sepi di jaman Kaliyuga?. Jawaban dari pertanyaan inilah, kerja dharma keadilan tersembunyi di ruang sepi, alam semesta bekerja keras melebur sifat-sifat asura adharma. Penguasa alam semesta sedang bergerak menuju keseimbangannya. Siapa yang sadar memahami kebenaran itu dan menempatkan kewajiban tulusnya pada pelayanan dharma kebajikan itu, dialah yang bisa merasakan kebenaran dharma sejati itu. Oleh karena itu dia terpilih dan bisa memilih jalan dharma di ruang sepi. Karena tak banyak insan yang sadar memilih jalan yang berat itu, karena penuh resiko. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments