
“AURA KASIH”
“BANGKIT BERSAMA CINTA KASIH”
Oleh: I Ketut Murdana (Kemis, 26 Maret 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Ketika berbicara kebahagiaan rohani, yang diliputi penuh cinta kasih melalui jalan spiritual, memang persoalan yang amat luas, dalam dan dangkal, keras dan halus, pahit dan manis, buruk dan baik selalu berdampingan. Semua itu ada dan dapat dirasakan melalui prosesnya masing-masing, dalam dinamika dan kompleksitas kehidupan itu sendiri. Pergolakan itu menjadi pengalaman yang benar dan membahagiakan bagi yang meyakini. Apabila dilakoni dengan benar, bijaksana penuh cinta kasih.
Demikian pula sebaliknya menjadi pengalaman yang “menakutkan” bagi yang “meragukan”, akhirnya tenggelam dalam keragu-raguan. Demikian pula “keyakinan” berubah semakin redup, mengakibatkan prilaku semakin liar dikuasai maya-awidya. Kesana kemari mencari dukungan pembenaran, hingga berakibat semakin tenggelam. Bukan mengarahkan sasaran pencarian sinar suci pencerahan, kepada “kepastian kebenaran semesta”, tetapi comot sana comot sini, lalu berteriak-teriak “tentang kebenaran”. Merasa benar sendiri lalu sibuk mencari dan menuding kesalahan orang lain. Itu artinya vibrasi suci kebajikan dharma yang damai meredup, dan disisi lain napsu egoistik tumbuh liar, bagaikan parasit semakin menguasai, lalu mengubur dan mengisap pohon tumpangannya. Itu artinya sifat atman yang suci terkurung gelap gulita, tak mampu menjadi guru sejati dalam diri sendiri.
Sifat-sifat asura yang halus inilah amat sulit dirasakan dan dikendalikan. Karena selalu menawarkan “kenikmatan”. Akibatnya amat sulit merasakan “tuntunan” yang baik, benar dan suci menuju penyempurnaan hidup sesungguhnya. Gelombang dinamika ini sedang bergejolak ditengah-tengah puncak perang ego yang mementingkan kemenangan diri sendiri. Kekuatan ego super power penghancur menakutkan ini benar-benar terjadi yang amat meresahkan. Memerlukan perbaikan yang panjang melelahkan.
Kemenangan yang menghancurkan seperti itu, bukan hanya menghancurkan material jasmaniah, tetapi menghancurkan rasa kemanusiaan, yang menjadi tujuan hidup bersama di bumi. Berubah menjadi kebanggaan ego super power agar ditakuti dunia.
Kalau sudah demikian apa artinya kecerdasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengetahuan suci kebijaksanaan, yang konon untuk menyempurnakan martabat dan mendamaikan semua ciptaan-Nya?. Saat itu kasih sayang sirna, yang ada adalah tangisan penderitaan. Saat ini nampaknya Penguasa Alam semesta sedang bekerja amat rahasia, menghancurkan dan menetralisasi sifat ego-ego sekotoral dan personal, yang disebut “kegelapan”. Sastra suci menyebutkan bahwa menghadapi kegelapan (Kali), kekuatan Pencipta Alam Semesta konon hadir sebagai kekuatan Mahakali, yang penuh rahasia. Semuanya itu terjadi, agar insan-insan ingat kembali dan menumbuhkan rasa damai penuh cinta kasih. Nampaknya seperti itulah wujud penyelamatan bagi insan-insan sadar yang mau diselamatkan. Saat itulah kejernihan melihat dan memaknai dinamika semesta raya yang berkecamuk. DIA menghancurkan, DIA memelihara dan DIA menciptakan kembali. Itu artinya pralina atau peleburan sifat-sifat yang tak baik menjadi baik, benar, berguna dan kasih bijaksana.
Melalui perenungan korban perang sebagai edukasi, pembangunan kembali peradaban baru. Tentu semua itu bekerja dan bergerak atas hukum Sang Waktu. Saat itulah proses penyadaran terjadi bagi insan-insan yang disadarkan. Artinya insan-insan yang terketuk hatinya, hingga sadar kembali ke jalan dharma kebenaran. Bagi insan-insan “penghobi perang”, akibat selalu menanam kebencian, maka hidupnya selalu gelisah tak pernah tenang. Akibatnya sibuk menciptakan senjata penghancur, bukan sibuk mewujudkan rasa damai kepada seluruh ciptaan-Nya.
Tak tersentuhnya upaya menciptakan rasa damai itu, maka napsu egoistik yang berkuasa. Akibatnya selalu bertentangan dengan nilai-nilai humanis, akhirnya menciptakan perang kekuasaan yang tiada habis-habisnya. Ajaran agama juga dikaburkan, lalu dikuatkan dengan doktrin-dokrin surgawi, hingga menjadi pembodohan spiritual yang terus berlanjut. Dikonstruksi terus menerus hingga memuncak, akibatnya berbangga menang dengan “kekuatan persenjataannya”. Bukan kekuatan kebenaran dharma yang penuh cinta kasih yang dimenangkan. Dampak dari semua itu, berakibat mahalnya rasa damai dan rasa adil di dunia saat ini. Saat-saat seperti inilah jiwa-jiwa yang sadar, sesungguhnya dibangkitkan oleh kekuatan alam semesta untuk “bangkit” berjuang mewujudkan rasa damai dan keadilan itu, mulai dari diri sendiri.
Bukan terus berharap kepada pemimpin-pemimpin asura yang “bertopeng orang suci”. Berkata-kata kebenaran dan kesucian, atas nama Tuhan, tetapi roboh oleh kepalsuan napsu dan ego keserakahan yang disembunyikan dalam dirinya. Kejahatan yang dibenarkan atas nama Tuhan, semakin merebak menipu insan-insan mabuk agama. Amat mudah diajak perang, melupakan harmoni sosial dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, betapa pentingnya pembangunan karakter humanis berkesadaran hidup bersama di bumi berasal dari sumber yang sama. Sudah saatnya stetman di media sosial terkendali dengan baik, arif bijaksana, agar kebebasan tidak semakin liar tak tentu arah.
Pengalaman itulah proses merasakan kebenaran yang berliku dalam kurun waktu “tertentu”. Tak mudah melakukan itu, karena bertanggung jawab terhadap kebenaran tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Itu artinya bukan kebenaran, hanya memuaskan Indrawi sesaat, lalu mendogma insan-insan duniawi dengan tawaran-tawaran surgawi, yang seolah-olah telah menjadi kuasanya. Barangkali ungkapan cerita Maya Denawa yang terkenal di Bali, sedang hadir bersama menyertai kehidupan ini. Oleh karena itu kembali ke jalan dharma yang tertuntun adalah jalan mengangkat martabat kemuliaan diri. . *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.









Facebook Comments