April 11, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

PAGER WESI, HARAPAN DAN TANTANGAN.

Oleh:  I Ketut Murdana (Rebo, 08 April 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Pengetahuan “suci kebenaran”, belum merupakan kebutuhan intensif dan utama bagi insan-insan kebanyakan saat ini. Walaupun telah dikondisikan dalam suasana religiusitas nan formal. Lalu tak sadar memerosotkan martabat diri perlahan-lahan. Mengubah nilai-nilai kemanusiaan menjadi sifat -sifat asura semakin mengganas tak disadari, hingga menyenangkan napsu sesaat dianggap kebenaran. Akibatnya menciptakan kekacauan dimana-mana. Lalu berkelit saling tuduh, didongkrak argumentasi “logis-ligisan” kekuatan asura premanisme, menguntungkan diri sendiri.

Untuk menjaga lemah redup energi suci itu, Para Suci telah menetapkan garis-garis gurupadesa, hari suci, ritual, tantra, mantra serta perangkat tatanan sosial, untuk mengingatkan dan menjaga tradisi berpengetahuan kepada insan-insan duniawi. Untuk bertahan, menjaga dan kuat menembus kegelapan itu, hingga bersatu dan tegak kuat, berjalan di jalan dharma. Mengenal “Penegak dharma”, lalu siap melayani, untuk memperoleh anugrah-Nya.

Rahasia kebenaran inilah amat sulit dipahami, “apabila tak dijadikan-Nya” Bukan larut dogmatisasi yang terus menggelapkan, berbungkus sumringah asesoris, cerdas menghapal teks, tetapi redup vibrasi suci. Bangkit semangat dan cerdas prilaku berinteraksi serta menembus tatanan sosial nan reflektif, agar perlahan sadar dan mampu menghormati, mempelajari lalu memuliakan pengetahuan suci agar tertuju kepada kemaha muliaan-Nya. Larut menundukkan dan memasrahkan diri pada kebesaran Kuasa-Nya, bukan mengubah hasilnya untuk kepentingan napsu sesaat.

Sebagai sumber, pengalir dan penuntun yang tiada henti dari jaman ke jaman. Dengan cara itu penghormatan kepada Guru atau Keluhuran Leluhur terjadi dengan sendirinya. Karena seorang murid telah menjalankan ajaran-Nya dengan baik. Bukan sibuk berkoar-koar mengagungkan leluhurnya, lalu melecehkan dengan prilaku kotor melecehkan keluhuran pengetahuan suci kebenaran lainnya.

Penting disadari dan dilaksanakan agar kemuliaan itu, kembali berpacaran kepada yang melakukan. Sebagai anugrah dari karma Jnana itu sendiri. Menjadikan insan-insan duniawi sadar kembali pada sifat kesejatian diri yang mengalir menyentuh dari Kuasa-Nya. Sifat Kasih yang selalu memberi kepada seluruh ciptaan-Nya. Selanjutnya “sadar memberi” kepada isi alam semesta sebagai rasa syukur Bhakti atas anugrah itu, agar selalu memberi sebagai anugrah yang sesungguhnya. Sehingga tak ada alasan membenci binatang, merusak isi alam semesta, menghina “pengetahuan suci kebenaran yang sedang tumbuh dan berkembang” serta tatanan sosial pendukung stabilitas kehidupan.

Bukan larut dan tertunduk kepada konstruksi pembenaran raja-raja asura, demi kekuasaan politik sewenang-wenang, lalu memoles “para preman pendukungnya” untuk berceramah “pengetahuan suci versi kepentingannya”. Akibatnya selalu mengaburkan kesucian kebenaran itu sendiri, mengukuhkan judi, minuman keras, obat-obat terlarang, merusak alam, serta kebijakan yang menyengsarakan rakyat.  Kekacauan dan penderitaan rakyat, hanya dipoles dengan konsep-konsep filosofis indah tetapi mandul. Karena hanya didebatkan di ruang sidang, lalu lolos hanya untuk memuaskan diri saja. Tak mengubah menjadi lebih baik, justru mendustai pengetahuan suci kebenaran. Menjadi pertanyaan yang sungguh, dimana kekuatan kesadaran “Atma Kertih”, sebagai esensi sifat dasar manusia sebagai sumber penggerak utama menciptakan rasa damai itu sendiri. Tetapi Penguasa Alam Semesta selalu adil menegakkan kebenaran melalui hukum karma-Nya.

Ritual memperingati perayaan hari-hari suci sudah berjalan ribuan tahun, tetapi kekuasaan jaman Kaliyuga sedang membentur, meluber, membanjiri dengan limbah kegelapan. Putaran jaman (Yuga) ini tak bisa dihindari oleh siapapun. Tetapi melalui kesadaran prilaku yang berpengetahuan suci kebenaran, dapat memahami, memaknai lalu siap mengabdi di jalan dharma, menjadi Vrata Jnana yang baik. Maka keselamatan dan kedamaian terjadi dengan sendirinya. Oleh karena itu kebenaran dan kesucian sedang diredupkan oleh kekuatan buruk-Nya. Untuk memperbaiki prilaku agar bebas dari kegelapan itu, berprilaku kebenaran dan dijiwai kesucian sangat penting diperjuangkan, yang disebut jalan “Para Widya”.

Agar siap membentengi segala rintangan (bagaikan pagar besi-Pager Wesi). Memperingati, merayakan dan memuliakan dengan kesungguhan melaksanakan dalam setiap langkah kehidupan. agar mencapai kebenaran yang mendamaikan (suci). Walaupun dipelajari, tetapi lebih banyak digunakan untuk “pamer kecerdasan” olah pikir “ambisius pengakuan”. Belum siap meresapi nilai-nilai esensialnya yang disebut kesadaran rohani, merefleksikan kebajikan dharma yang sesungguhnya. Bukan sekedar tahu teks, dalam ingatan yang amat terbatas, sudah sibuk berceloteh mengagungkan diri, karena ada raja asura mengayomi, lalu merendahkan kebenaran pengetahuan versi lainnya.

Cerdas dalam berbagai bidang keilmuan, tetapi buntu menghadapi gangguan jahat dari niat dan napsunya sendiri. Gugur terhadap gaya tarik material yang menggiurkan yang bukan hak miliknya. Lalu korupsi dan terus menerus memanipulasi. Walaupun selalu berteriak anti korupsi justru menjadi pelaku yang paling besar dan rakus. Akibatnya rakyat terus menjerit dalam penderitaannya. Itu artinya nilai-nilai kebenaran dan kesucian hati nurani, tak tumbuh dan “sumpah jabatan” hanya hapalan sesaat. Belum sungguh meresap ke dalam hati nurani, hingga napsu menjadi liar tak terkendali. Bukan meresapi tanggung jawab yang intensif, seperti sumpah Bisma yang diajarkan dalam Mahabharata.

Realitas ini membuktikan bahwa nilai-nilai kebenaran itu hanya ada dalam bayang-bayang dan kurang menarik dan meresap bagi kebanyakan orang. Karena dipandang “amat sulit melaksanakan untuk mendapatkan sesuatu sesuai napsu”. Bagi yang berniat melakukan kebenaran, seringkali dibuli dan dianggap sebagai orang-orang yang munafik. Siap dipinggirkan bahkan dipandang negatif sebagai pengabur ajaran leluhur. Dengan “selogan yang jujur pasti hancur”. Slogan ini secara perlahan mengikis melemahkan keyakinan, bagi orang-orang berselera rendah.

Pada sisi yang lain, banyak yang taat teks-teks kebenaran, lewat tafsir subyektif nan parsial, hingga yang berbeda dianggap sebagai musuh. Demikian pula tokoh-tokoh menggunakan teks-teks kebenaran dan kesucian untuk mengukuhkan egoistik, melakukan penghinaan untuk menjatuhkan keyakinan lainnya dan lawan-lawan politik demi kepentingannya sendiri. Walaupun kemenangan dengan cara-cara keji seperti itu “bisa menang”, tetapi alam semesta selalu berkerja di “ruang sunyi” dengan hukum-Nya sendiri yang tak pernah luput dari sasaran tembak atas keadilan-Nya. Agar mencapai keadilan dan kemenangan yang mendamaikan. Bukan kemenangan sesaat yang menyesatkan.

Warna-warni penyesatan ini bergulir deras gemuruh, menciptakan kemabukan duniawi yang semakin menggila. Ditengah-tengah negara yang konon religius. Kegilaan ini justru digerakkan oleh tokoh-tokoh asura yang ditokohkan, bukan sebagai tokoh karena karma kebajikannya. Akibat ditokohkan itu, menjadi penghancur moralnya sendiri, dihadapan publik. Seperti itulah jebakan teks-teks hapalan tanpa memahami konteksnya. Bukan mendewasakan hati nurani, tetapi hanya mengisi pikiran yang nampak cerdas dan berani. Sesungguhnya saat itulah “kekosongan” nilai-nilai kemanusiaannya terjadi, yang disebut dharma kebajikan yang menghilang entah kemana. Karena kosong, sangat mudah dikuasai asura penghancur yang tak disadari. Merupakan rahasia kekuatan Ilahi yang menghancurkan dari dalam, mengatasi segala kekuatan.

Mengubah pengetahuan kebenaran dan kesucian hanya untuk memuaskan kekuasaan napsu. Oleh karena itu perlu pemahaman ulang dan mendalam guna mencapai penyelarasan hidup di bumi. Agar cerdas membedakan antara pengetahuan politik kekuasaan dengan ajaran pengetahuan suci kebenaran (agama-spiritual) yang benar dan suci mendamaikan. Bukan sekedar melahirkan insan cerdas teks, konstruksi kebenaran melahirkan persepsi dan pengagungan kebenaran tunggal. Akibatnya bisa terus merendahkan dan ingin meniadakan yang lainnya. Ketika isme ini terus dikukuhkan dengan panatisme dogmatis, dianggap kebenaran perintah Tuhan, ditunggangi politik dan ekonomi. Kalau sudah demikian kekacauan akibat perang, tak akan pernah berakhir. Jadi ajaran suci kebenaran yang seharusnya mendamaikan umat manusia justru berbalik arah terus menerus berperang, menghancurkan dan menyesatkan rakyat.

Melihat, merasakan dan memaknai realitas dinamis itu, perlu kewaspadaan tingkat tinggi diantara gejolak nilai dualitas yang tercipta lalu sadar mencapai pemaknaan prilaku penyempurnaan diri yang sesungguhnya. Karena semua pengetahuan suci telah mengajarkan kebenaran untuk mencapai tujuan hidup itu sendiri. Walaupun kebenaran abadi itu adalah tunggal nan universal, tetapi semua kebenaran itu adalah realitas nilai yang mengkondisikan. Lalu menjadi rujukan prilaku yang ditradisikan. Untuk disempurnakan guna mencapai kebenaran abadi itu sendiri. Dalam kontek itulah insan-insan duniawi melalui rujukan kebenaran itu berproses, baik jasmani maupun rohani dalam ruang dan waktunya masing-masing.

Ketidak waspadaan terhadap dinamika itu,  kebenaran dan kesucian itu hanya menjadi bayang-bayang, belum menjadi kekuatan besar perjuangan dan Bhakti yang sesungguhnya. Akibatnya ajaran kebenaran hanya sebagai pemanis, penuh intrik napsu kekuasaan, dogmatisasi janji-janji surgawi. Dibelokkan sesuai kebutuhan napsu dan egonya sendiri, yang semakin meluas yang dikukuhkan sebagai kebenaran. Ada orang seolah-olah berkuasa sebagai pengendali surgawi, tetapi ada saja yang masih mempercayainya. Pembodohan demi pembodohan di era kecanggihan ilmu pengetahuan teknologi menggelontor dianggap kebenaran. Akibatnya mengabaikan Guru Sejati dan Guru Alam Semesta yang telah mengedukasi dan memberi segalanya, lalu menistakan makhluk ciptaan-Nya, yang telah melayani umat manusia sepanjang jaman. Lalu diperjuangkan hingga menghasilkan konflik yang tak habis-habisnya. Patut diwaspadai ajaran yang proporsional dalam ruang dan waktunya masing-masing.

Walaupun sesungguhnya saat tertimpa masalah, sebagai peringatan besar dari Ibu Alam semesta, seketika ingat dan menyebut nama-nama Tuhan untuk memohon perlindungannya. Saat itu pula keajaiban seringkali hadir untuk mengedukasi insan-insan duniawi. Pada sisi yang lainnya kehancuran tetap terjadi sesuai alurnya. Dampak dari semua itu, jawabannya seringkali, lebih banyak saling menyalahkan, lalu lari dari tanggung jawab. Itu artinya salah semua, kesalahan awal berdampak buruk kepada kehancuran berikutnya. Sulit sekali membayangkan apa arti kesalahan dan kebenaran saat itu, tetapi akibat membiarkan prilaku liar memperkosa alam semesta, bisa sebagai renungan dan evaluasi perbaikan. Bukan pengulangan bahkan memperparah lagi dengan kekuatan penghancur yang lebih besar. Walaupun kekuatan alam yang serba maha tak pernah hancur, tetapi insan-insan dunia akan hancur menderita di wilayah kerusakan itu.

Kekuatan besar asura penggeraknya, lalu dibenarkan oleh kepentingan memuaskan napsu, lalu dianggap benar dan terus dibenarkan. Konsep-konsep keseimbangan hanyalah sebagai konsep jualan kursi. Lulu lupa bahkan kebijakannya selalu bertentangan berdalih kesejahteraan ekonomi. Tak mungkin rakyat kecil yang berani dan mampu merusak dan mengganti hutan dengan kepentingan lainnya. Semua itu lahir dari “keputusan” untuk kepentingan tertentu yang dianggap “kebijakan”. Ketika masalah muncul pemimpin berdalih tak pernah tahu, bahkan itu ada diwilayahnya.

Kata-kata pelestarian justru dilanggar oleh keputusan-keputusan pembiaran kekuasaan premanisme yang terus mengaburkan. Berkenaan dinamika gelora realitas ini, betapa pentingnya sadar kembali di jalan dharma membentengi diri (Pager Wesi) dari aneka serangan napsu asura maya penghancur itu sendiri. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!