June 17, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“BANGKIT BERSAMA MEMBANGUN NEGERI” (Memaknai Hari Kebangkitan Nasional)

Oleh:  I Ketut Murdana (Rebo, 20 Mei 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Jiwa-jiwa yang disadarkan oleh “pengetahuan” mewujudkan kesejahteraan material dan kesadaran spiritual rasa “damai” yang membahagiakan. Meresap ke dalam diri sendiri, lalu merefleksikan pengabdian tulus kepada masyarakat, sesuai kemampuan dan profesi masing-masing. Saat itulah insan-insan yang berpengetahuan mencapai guna, yang meluhurkan martabatnya. Upaya mewujudkan hal itu, merupakan proses “kebangkitan” dalam diri sendiri dan “pembangkitan” sebagai  upaya sadar dan tulus mengabdi, mendorong insan-insan duniawi, untuk menyempurnakan diri dalam pengabdian membangun bangsa dan negeri tercinta. Membebaskan rasa malas yang meragukan kebenaran dan kewajiban itu sendiri. Keduanya menjadi satu kesatuan tak terpisahkan.

Kebenaran ini telah bangkit, tumbuh, berkembang menyempurna, dilakukan oleh nenek moyang dan para leluhur, mewariskan peradaban mulia, yang “memberi” pada jamannya. Mewariskan artefak budaya bernilai adiluhung, yang bisa memberi hingga saat ini. Tetapi sekarang hadir dominan sebagai kerakusan personal, dan berkembang semakin rakus, amat sulit untuk memberi. Walaupun telah diberi oleh warisan peradaban masa lalu, tetapi amat sulit untuk menghargai. Dicuri dan ingin dibelokan serta dihancurkan, dihina-hinakan oleh parasit luar yang ingin menguasai. Bukan hanya siap mengeruk tak pernah puas, lalu berebut saling menghancurkan menjadi perang yang tiada henti. Dikuatkan dogma-dogma teks yang dianggap benar dan suci, menanam dan menguatkan kebencian serta terus menyulut api peperangan. Akhirnya material habis untuk perang, lalu rakyat memperoleh pahala kenaikan harga yang melambung tinggi. Tentu realitas ini perlu direnungi kembali, bahwa ketinggian ilmu pengetahuan dan teknologi dan semarak teriakan doa, ceramah  menggelegar, justru intoleran dan perang semakin semarak.

Sudahkah insan-insan bersama-sama melakukan kebajikan, untuk membangun peradaban mulia itu?, tentu jawabannya adalah hadirnya sentuhan halus hati nurani nan jujur murni adalah jawabannya. Menjadi tuntunan hidup yang sesungguhnya, bukan larut dogmatisasi dan pembodohan parasit-parasit penjajah spiritual.

Dibalik itu semua bermakna membangkitkan kesejatian insan-insan yang beradab, untuk mengharumkan diri dan nama bangsa. Demikian sebaliknya tokoh-tokoh munapik merendahkan martabat dirinya dan bangsanya sendiri. Karena dipanggil, dibangkitkan dan  digerakkan, oleh sifat-sifat asuranya sendiri. Insan-insan yang berdedikasi baik, benar dan bijaksana  penyempurnaan ke arah membangun diri dan bangsa. Semangat ini sangat berguna dan sangat diperlukan untuk kemajuan bangsa dan negara saat ini. Saatnya mampu berprestasi dalam segala bidang pembangunan, mencapai kejayaan.

Kesatria-kesatria humanis ini, menjadi tumpuan  perubahan mental, untuk menjadi lebih humanis, bangkit ditengah-tengah gempuran erosi moral yang semakin memerosotkan. Oleh karena itu, edukasi sungguh ke arah penyempurnaan itu, merupakan nilai-nilai vital dan pondamental, yang tak boleh diabaikan. Menjadi strategi pembangunan bangsa yang benar dan terarah. Bagi para tokoh bangsa sudah semestinya memberikan teladan kepada generasi muda, membangun karakter humanis dan toleran berjiwa optimis dan terbuka. Bukan sibuk berebut singasana, memuaskan napsu, lalu menghancurkan negerinya sendiri.

Betapa pentingnya persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Bukan hanya lancar dipidatokan disertai meriah tepuk tangan, tetapi tumpul bahkan sengaja merorong dari balik layar, demi kemenangan kelompok masing-masing. Bukan tokoh yang selalu mempropokasi dan membebani pemimpin bangsa, dengan alasan kritik, dan kebebasan berpendapat, yang selalu merecoki stabilitas sosial. Menyerang hal-hal yang amat personal mempribadi, mengabaikan hak asasi manusia. Tentu hal-hal seperti itu, patut diwaspadai dan diluruskan dari bengkoan normatif yang bisa merongrong rasa persaudaraan yang humanis dan toleran.

Kondisi serupa menempatkan bahwa kekacauan vibrasi buruk telah banyak dimulai dari hulu, berkembang meluas dianggap kebenaran. Karena ketokohan dan berduit bisa mencari pembela, membalikan keburukan menjadi pembenaran, lalu digaungkan hingga merubah opini dan persesional.

Realitas gelap ini sedang melanda membebani kinerja bangsa untuk mencapai cita-cita. Akibatnya lemah prestasi di dunia internasional yang patut dibanggakan. Pejabat negeri yang necis petantang petenteng penuh pencitraan, lalu korupsi uang rakyat tak merasa berdosa, karena semuanya terlibat.

Berkenaan dengan realitas gelap itu, sudah semestinya rekonstruksi ulang edukasi laju di segala bidang secara sungguh-sungguh berkesadaran moral, bagi setiap insan. Bukan terus membiarkan politik Sengkhuni meraja lela, menggelapkan atmosfir bangsa. Bangkit bersama memposisikan jasmani dan rohani secara benar dan terarah mencapai “kesucian” jiwa. Pondasi spirit yang berkeyakinan ini, sesungguhnya telah diajarkan sejak berabad-abad dalam gelombang waktu perjalanan sejarah.

Membangun negeri, merupakan kesadaran berkarma bangkit dari diri sendiri, dihidupkan bersama-sama melalui doa-doa suci dan berkeyakinan prilaku yang benar dan suci pula. Bergabung bersama menguatkan meyakinkan dan langkah tegak dan konstruktif serta oftimisme. Ketika keselarasan vertikal dan horisontal ini semakin membaik dan semakin seimbang, maka kekuatan “Poros Utama Pengendali Semesta” bervibrasi bijak nan suci memberkati keseimbangan dan keteraturan yang sejahtera mendamaikan seluruh ciptaan-Nya. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!