June 17, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“BHAKTI MENYENTUH JIWA”

Oleh  :  I Ketut Murdana (Minggu24 Mei 2025).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Bhakti merupakan persembahan Karma Jnana yang tulus. Sebagai  refleksi kesadaran yang menyucikan semua bentuk harapan, berkembang menjadi kewajiban tulus, hingga pada saatnya menjadi misi hidup yang sesungguhnya. Pelajaran hidup dalam kehidupan inilah, meluhurkan sifat dalam perbuatan dan prilaku yang berpengetahuan material dan spiritual, yang semakin memurnikan. Hingga pada saatnya benar-benar murni yang disebut mencapai pencerahan. Ketika kesadaran dan prilaku itu terus bergerak menyempurna menuju pencapaian dan penyatuan dengan obyek pujaannya,  disebut Bhakti Yoga. Mencapai penyatuan subyek yang terbatas dengan Obyek yang tak terbatas. Saat berproses itu perjuangan untuk mencapai jagadhita, terasa  meresap perlahan, lalu kembali lagi ke dunia material, mencari energi untuk kelanjutan proses.

Karena kehidupan itu berproses menyempurna, atau sebaliknya membiarkan kegelapan napsu duniawi yang menguasai, lalu suntuk menjadi budak raja-raja asura jaman Kaliyuga yang sedang bergelora di dunia saat ini. Itu artinya proses pemerosotan harkat kemanusiaan, menuju gelap neraka duniawi tanpa disadari. Oleh karena itu betapa pentingnya memahami, dan memaknai serta berprilaku menyempurnakan diri, hidup dalam kehidupan sesuai tuntunan pengetahuan suci-Nya.

Demikianlah orang-orang suci di dunia ini belajar dengan kekuatan tapa berata, mengabdi penuh cinta kasih, berani dan berkeyakinan serta, pengendalian diri yang kuat. Membebaskan semua bentuk ikatan napsu jasmani, memasuki dunia kerohanian, hingga  kasih sayang berpancaran menyentuh jiwa-jiwa yang membutuhkan.  Artinya sadar di dunia material menuju kesadaran spiritual yang terus memurnikan. Orang-orang bijak menyebutnya kekuatan “Artha” tersucikan oleh karma jnana menjadi “Nirartha” mencapai sifat yang “murni kosong dan berisi”.

Mengaliri jiwa-jiwa yang sadar, tulus mengabdikan diri untuk kebenaran itu, melalui swadharmanya masing-masing. Ketika kesadaran hati nurani terbuka dan sadar memerlukan, maka pancaran kasih itu akan memancar meresapi, lalu perlahan membangkitkan prilaku kebajikan. Jiwa-jiwa dan prilaku seperti itu, amat dibutuhkan jaman ini, untuk mengimbangi jaman Kaliyuga dalam diri sendiri dan dalam lingkungan sosial masyarakat.

Sentuhan ini merupakan prekuensi gelombang yang sama-sama mencari, hingga pada saatnya tersambung. Ketika sentuhan dan sambungan itu terjadi, maka mulai terbukanya energi suci yang mesti dipelihara dengan semangat Bhakti. Itu artinya prilaku Bhakti adalah jawabannya. Dengan semangat Bhakti, api suci dalam diri sendiri akan terus menyala dan bersinar menerangi kegelapan. Menerangi dalam filsafat tindakan, dapat diartikan secara perlahan membakar dosa-dosa yang menggelapkan.

Saat itu penjernihan jiwa terus menjernih dan bervibrasi. Saat itu pula awan gelap yang disebut gangguan Maya, dengan sendirinya hadir ingin menggulung dan menggelapkan. Wujudnya beraneka ragam amat halus, mirip dan terkadang terasa sama dengan logika kebenaran dan narasi-narasi sosial serta kebiasaan umum. Disitulah kekuatan itu menyelinap dan menyatu, sehingga amat mudah menjebak jiwa-jiwa yang lemah dikendalikan kemalasan (Tamasika). Lalu lupa diri menghilang kesadaran bhaktinya, mulai beralih pada pembenaran-pembenaran yang dijiwai kemalasan. Gangguan kekuatan itu pasti terjadi, ketika kesadaran, keyakinan dan prilaku Bhakti semakin meningkat. Energi gelap asura lebih dahulu menerjang, setelah mampu menembusnya saat itulah “penjernihan kesadaran dan pemurnian jiwa semakin kuat”, lalu bergerak semangat membara merindukan “sumber” itu sendiri.

Dalam Bhagawad-Gita disebut  filsafat tindakan yang berpengetahuan dharma sejati. Membebaskan keragu-regun. Seperti itulah energi suci membebaskan keraguan yang menyelimuti amat halus dalam diri setiap insan. Oleh karena itu, betapa pentingnya “penyadaran” yang mengalir dari “Guru” yang “berwenang” untuk itu. Mencari dan menemukan Guru Sejati seperti itu, juga “amat sulit”, karena mengenal dan memahami kebenaran kuasa-Nya membutuhkan proses panjang edukasi kejiwaan yang tidak mengenal lelah.

Bagi insan-insan Bhakti yang telah “merasakan kebenaran”, itu bersemangat terus,  menguatkan sikap dan prilaku Bhakti, menerobos rintangan yang menggulungnya. Perlahan melepaskan gulungan Maya itu menuju sinar Ilahi yang terang benderang, mencerahkan. Saat itulah kebahagiaan terasa luar biasa berhari-hari. Lalu ingin terus bergerak meningkatkan kualitas Bhakti dan merefleksikan pengabdian tulus kepada yang memerlukan. Dengan demikian Bhakti yang berpengetahuan, merupakan tuntunan Guru yang selalu hadir, dalam diri sendiri. Semua itu terjadi akibat dari tuntunan Sad dan Sat Guru yang berada di luar diri, menuntun dengan penuh cinta kasih. Ketika itulah sifat dan kuasa Guru dapat dirasakan kebesarannya. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!