
“AURA KASIH”
“SENI PEMBANGKIT RASA ESTETIK, MENYELARAS HARMONI”
Oleh: I Ketut Murdana (Senin, 25 Mei 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Seni sejak “kehadirannya”, telah memberi dan membangkitkan rasa keindahan, menuju kesadaran hidup, yang disebut kesadaran spiritual setiap insan. Rasa indah yang membangkitkan itu, merefleksikan kecerdasan estetik memasuki logika bernalar, lalu sadar merefleksikan sikap menyelaras mengharmoni. Sadar tak sadar penikmat seni tersentuh rasa estetik lalu merasa senang, nikmat bahagia. Demikian sebaliknya tidak senang lalu melontarkan penilaiannya, kurang baik, sikap acuh tak acuh, lalu pergi meninggalkan ruang pertunjukan atau ruang pameran itu sendiri.
Senang dan tidak senang itulah gelombang rasa, terhadap satu subyek menjadi obyek wujud sajian, yang bergerak dan berkembang membangkitkan selera estetik. Ketika suatu saat sajian pameran atau pertunjukan seni itu menyentuh kalbu yang menyeruak dari rasa estetik, maka “penghargaan seni” pasti terjadi. Lalu apresian senang dan bahagia. Inilah pemberian yang menjadi persembahan para seniman, di ruang “persembahan tulus”, yang dipersiapkan dengan kerja kreatif yang tulus ikhlas siang dan malam tak mengenal lelah, menjadi semangat memberi dan mempersembahkan.
Memberi kepada siapapun yang siap menyaksikan, dan mempersembahkan dari kewajiban “penciptaan”, kepada Sifat Kuasa-Nya sebagai Pencipta. Itu artinya mulai dari inspirasi, lalu berproses melalui kerja kreatif, memaknai nilai hidup, lalu menghidupkan melalui energi gerak penciptaan dan rias artifisial yang mengangkat, dan menyempurnakan realitas, melalui sikap kerja kreatif yang juga disebut “Karma Yoga”.
Berkenaan dengan realitas itu Seniman atau pekerja seni telah menempatkan kesadaran estetik sebagai sikap hidup, yang selalu siap berdialog dan siap dinilai. Refleksi dari semua itu, lalu sadar tak sadar insan-insan apresian telah diberi nilai dan energi pembangkit kesadarannya, sehingga sontak bisa menilai seni dari sajian kenikmatannya atau sebaliknya. Seperti itu rasa estetik menyeruak menembus misteri, ke dalam diri insan-insan apresian, menciptakan nilai-nilai penyadaran estetik, mencapai kebenaran satyam dan sundharam. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.









Facebook Comments