
“AURA KASIH”
“Seni Menggugah Selera Menjernihkan Nilai-Nilai Kehidupan”
Oleh: I Ketut Murdana (Rebo, 27 Mei 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Seni hadir merefleksikan sifat dan nilai-nilai kehidupan yang “menyempurna” mencapai sundharam. Teks dan konteks dari semua itu berhubungan dengan sifat-sifat Keilahian, Kemanusiaan dan Alam Semesta lingkungannya. Ragam sifat dan karakter nilai-nilai itu diekspresikan menjadi wujud-wujud yang menggugah selera dan rasa estetik, lewat panca indra yang hadir menyentuh indra-indra penikmatnya. Lalu berlanjut merenungi nilai-nilai, hingga saatnya mampu meresapi makna, menjadi kesadaran estetik yang membahagiakan mencapai Sundharam. Oleh karena itu, menikmati seni memerlukan perenungan dan pemaknaan yang sungguh. Itu artinya refleksi daya cipta seni, lewat media yang dibutuhkan manusia, secara jasmani maupun kemandirian rohani, yaitu: sadar meresapi dan memaknai lalu merefleksikan nilai-nilai esensialnya.
Dalam kontek itu seni hadir memperindah nilai-nilai melalui ragam wujud beserta narasinya, hingga hadir menarik mempesona. Warna-warni menghias, yang membangkitkan daya gugah tersendiri, mempresentasikan wujudnya “mengendapkan serta “membangkitkan” nilai-nilai, yang bernarasi dalam tingkatan kualitasnya masing-masing. Lalu wujud dan parian yang “bernilai” itu, bisa berkembang lalu ditradisikan oleh komunitas pendukungnya. Lalu menjadi kebanggaan dan fanatisme estetik tersendiri.
Dalam konteks itu, seni hadir mencirikan identitasnya dalam ruang ekspresi komunitas penciptanya. Dalam kontek pemahaman ini “seni merupakan simbol yang bergerak, menarasikan nilai-nilai kehidupan yang dinamis”, menyempurna dalam ruang dan waktu. Narasi kehidupan yang bersifat jasmani dan rohani yang demikian itu, menempatkan daya cipta seni, bisa dinikmati dan dimaknai dalam lintas pergaulan budaya dunia. Berkenaan dengan itu, seni memiliki peran menyajikan nilai-nilai universal yang mampu berkomunikasi lintas sektoral, pergaulan dunia.
Selanjutnya seni hadir menjadi wahana, lalu mentransformasi memberi wujud kepada ilmu-ilmu dan pengetahuan lainnya. Maksudnya mengindrawi yang tak terindrawi, agar mudah dipahami oleh insan-insan duniawi. Saat itu seni mentransformasi, menjembatani serta menyatukan nilai-nilai non indrawi menjadi terindrawi, dalam ruang sajian tanda, ikon, simbol, metaforik dan seterusnya. Melalui keunggulan peran seni itu, mampu memudahkan ruang edukasi dan dialog nilai-nilai, sehingga mampu menyerap makna nilai-nilai esensial kesemestaan yang tersembunyi itu.
Penjelajahan nilai-nilai di ruang sunyi yang bermisteri demikian luas itu, seni hadir mewadahi, mengekspresikan, menyelaras harmoni, menghadirkan wujud barunya di ruang indrawi. Merefleksikan nilai simbolik menyelaras harmoni, yang sekarang dihembuskan menjadi sikap hidup bertoleransi, yang sedang mengalami degradasi. Melalui daya cipta seni, berjuang bersama mewujudkan rasa damai itu sendiri. Dalam ekspresi seni itu, selalu menghadirkan wujud baru, rasa indah, yang membahagiakan mencapai Sundharam.
Menyandang peran besar itu, seni sebagai wahana ekspresi, memberi dan mengedukasi, lalu memurnikan sifatnya, yang dikonstruksi oleh para filosof menjadi “seni murni”. Itu artinya bagaikan hidup manusia, memasuki dunia material lalu “memurnikan diri” melalui pengetahuan spiritual, sebagai perjuangan hidup mencapai “penyatuan” hingga akhir hayat. Menerobos esensi, bebas dari apresiasi senang dan tak senang, menempatkan dan memperjuangkan “kemurnian” kehadirannya sendiri.
Mengerti dan mahami seni dalam kontek inilah memasuki ruang kesemestaan, melalui pendekatan kosmologis. Kesadaran diri terhadap kehadiran seni sebagai simbol yang bergerak, menjadi edukasi hidup yang bergerak dan berubah sepanjang waktu. Oleh karena itu seni adalah “refleksi pengetahuan hidup, yang bergerak, berubah menyelaraskan dan menyempurna. Oleh karena itu, sadar tak sadar seni selalu hadir dengan kebaruannya. Artefak-artefak kebaruan itu, bisa menjadi tradisi klasik yang dikuatkan oleh komunitasnya. Dalam kontek itu tercipta sikap budaya pelestarian yang berdimensi hidup berkembang dan lestari.
Gambaran kompleksitas seni, dalam konteksnya memerankan diri terhadap ilmu-ilmu lain, maka harus disertai dengan kelengkapan, wacana, kajian, bahasa ungkap verbal nan retorik, untuk bertransformasi komunikasi nan dialogis, hingga perlahan seni dipahami dan dimaknai sebagai dunia seni atau jagat seni itu sendiri. Selalu bergerak berinteraksi di tengah-tengah jagat Agung. Peran seniman hadir selalu menyelaraskan hubungan itu, secara subyek jagat alit, mencapai penyatuan kesempurnaannya pada obyek Jagat Agung, Sang Penguasa Segalanya.
Dengan demikian seni adalah narasi kehidupan yang beredukasi menyempurna, dalam upaya memaksimalkan “perannya” dan “memurnikan” dirinya sendiri, sehingga disebut “seni murni”. Kebenaran realitas seni ini, selalu hadir dan berkembang sepanjang jaman. Berkenaan dengan keberadaan itu, seni selalu adaptif terhadap perubahan jaman, mampu merekam nilai-nilai dan gagasan vital, yang hidup mensejarah. Oleh karena itu menghormati, menghargai keindahan dan nilai kebenarannya, merupakan edukasi kebenaran spiritual yang pengetahuan, memuliakan hidup dalam kehidupan. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.









Facebook Comments