
“AURA KASIH”
“SENI DALAM NILAI-NILAI KESEJAGATAN”.
Oleh: I Ketut Murdana (Selasa, 02 Juni 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Seni hadir berproses dari masa ke masa membentuk karakter jamannya. Artinya seni hadir berkarakter mengisi jamannya. Lalu berkembang kuat, menjadi ciri yang mensejarah. Semua itu dilakukan untuk memenuhi selera dan standar kebutuhan jasmani, untuk mencapai kebahagiaan rohani. Seni lahir mempribadi, lalu berkembang mendewasakan kualitas estetik, isian nilai dan makna, lalu bervibrasi semakin meluas dihargai masyarakat hingga mendunia. Dari sudut pandang penciptaan, pecinta dan penikmat, selera estetik itu berproses berkembang perlahan dalam diri setiap insan, menemukan formulasi, karakter idola lalu perlahan menjadi identitas kuat bervibrasi luas. Semua itu tumbuh menjadi taman seni yang membudaya memenuhi dunia melalui ruang penciptaan dan dukungan komunitasnya masing-masing serta dukungan apresiasi masyarakat yang semakin meluas.
Berkenaan dengan realitas itu berarti jagat seni berkembang hidup di tengah-tengah Jagat Agung Alam Semesta Raya. Dalam konteks itu “seni dipandang dan dimaknai sebagai jagat ke dua” yaitu: “jagat penciptaan”, karena insan-insan seni telah menciptakan dunianya, yaitu dunia baru yang disebut dunia seni, berjiwa humanis dan berwajah estetik. Kehadirannya merupakan “keberadaan” yang merefleksikan “penciptaan” baru di dunia seni berbasis keindahan seni, terus-menerur mendulang nilai-nilai Sundharam. Sundharam dalam konteks ini dimaknai sebagai “penyatuan”, kebenaran, keindahan dan kesucian.
Ketiganya merupakan kesatuan utuh tak terpisahkan, meresapi jiwa menjadi martabat hidup yang sesungguhnya. Berada di ruang sunyi hening niskala, post struktural mendamaikan. Untuk mencapai kebenaran itu kreatifitas seni sebagai salah satu proses untuk hidup, mengisi dan penyempurnaan “bermartabat”, mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan yang dirasakan indah, itulah Sundharam. Menempatkan prilaku berkesadaran kosmosentris menjadi ideosentris menguatkan theologis
Berkenaan dengan itu seni hidup selaras dan menyelaras dengan alam semesta raya IBU dan BAPAK-nya sendiri yang meng-“ada”-kan segalanya. Oleh karena meng-“ada”-kan itulah “DIA” diketahui ada, dan bisa dipahami dalam pemahaman “Cintya” estetik (fisika) yang terpikirkan maupun “Acintya” (metafisika) yang tak terpikirkan (Sundharam). Selanjutnya Realitas yang terkondisi itu menempatkan hubungan tersambung energi diantara subyek dan obyek semesta, “selalu terhubung” terus “menerus mengalir”, karena dialiri, oleh Kuasa-Nya. Kesadaran menemukan kebenaran ini merupakan “kesadaran terhubung dan tersucikan”, mencapai sifat “Ke-Ilahi-an”.
Keselarasan sadar nan aktif itu, menjadi ciptaan yang terus menerus hidup dan menghidupkan, menjadi gelora semangat penciptaan. Melalui penciptaan itu, juga pemuliaan dan hubungan rasa dan kejiwaan terjadi dan hidup berkembang membentuk karakter kultur peradabannya sendiri. Seperti itulah ciptaan seni menghidupkan dari dunia material “kebendaan’ menjadi “wujud” yang berkarakter baru, lewat penyempurnaan tiada henti. Dari yang hidup dihidupkan melalui daya cipta dan sentuhan kekuatan olah rasa estetik menjadi wujud baru yang bergaya tertentu (styalisasi) atau wujud angan-angan baru bernilai kreatif nan estetik serta menghadirkan nilai religiusitas sendiri.
Oleh karena itu melalui kreatifitas seni insan-insan melanjutkan “Kuasa Sang Pencipta”, “mengabdikan diri” menjadikan ciptaan baru menyempurnakan karma kehidupan. Saat itulah insan-insan, bergerak menyimak, memaknai lalu merefleksikan aliran pengetahuan yang bergerak membangkitkan seluruh kejiwaan dan gerak jasmani menjadi desiplin mental dan kecekatan praksis berkekuatan rohani. Menghidupkan kekuatan kreatif, menyelaras dan mengangkat psikologi estetik ke ruang kontemplatif, mengantar renungan. Menempatkan pola-pola imanatif nan inspiratif merangsang penciptaan baru. Terus menghadirkan inspirasi baru, imajinatif nan intuitif. Semua itu berkembang merangsang tumbuh dan berkembangnya teknologi, yang sekarang konon telah mencapai “puncaknya”. Entah puncak selanjutnya seperti apa “puncak” yang akan tumbuh dan berkembang di kemudian hari. Melalui realitas penciptaan itu, Seni telah menyajikan wujud baru, digunakan dan dimaknai lalu hadir yang baru, yang dibiarkan hidup, didewasakan oleh wacana dialogis, hingga bisa diapresiasi dan selanjutnya ditinggalkan, laku dihanguskan Sang Waktu. Karena itu hukum alamiah-Nya. Ketika kuat bertahan akan menjadi artefak-artefak sebagai perekam fakta-fakta perjalanan sejarah seni dan kehidupan kreatif itu sendiri.
Realitas kesejagatan seni ini bagi para ilmuwan dan filosuf dapat dimaknai melalui pendekatan kosmologis. Didalamnya menempatkan dimensi struktur serta polarisasi keilmuan lainnya, bergerak menuju post struktural, “ruang halus penyempurna”. Memasaki ruang Sundharam, bagi insan-insan pencipta tulus ikhlas yang telah benar-benar mengabdikan dirinya. Artinya seni dibesarkan ilmu-ilmu lainya dan ilmu-ilmu lain diwadahi dan diberi wujud serta diberi wujud baru oleh seni. Lalu dibawa ke alam imaji nan intuitif ruang terbuka halus nan universal (Sundharam).
Seni dalam kontek itu meluas dan meruang serta merefleksikan nilai-nilai universalitas. Menempatkan dirinya dalam Jagat Agung Alam Semesta. Menghidupkan nilai, menyadarkan insan-insan duniawi menyempurnakan hidup dalam kehidupan. Dalam konteks inilah seni hadir berkesadaran spiritual mengantarkan subyek menemukan obyek kesejatiannya. Lebur dalam penyatuan rasa yang membahagiakan (jagadhita). *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments