Adat dan Tradisi

Perang Tipat Bantal di Desa Adat Kerobokan Simbol Purusa-Predana, Wujud Syukur Atas Anugerah-Nya

MANGUPURA (NUANSA BALI).  Menurut Bendesa Desa Adat Kerobokan A.A. Putu Sutarja, SH., didampingi Pemucuk Karya Agung, Drs. A.A. Ngurah Gede Sujaya, M.Pd., saat diwawancarai di sela-sela kesibukannya Kamis (01/8) 2019 mengatakan, ‘Perang Tipat Bantal’ ini merupakan perang yang dilaksanakan dengan penuh kegembiraan dan jauh dari rasa dendam, karena merupakan wujud rasa syukur ucapan terina-kasih kepada Ida Hyang Hyang Widhi Wasa atas segala anugrah yang telah dilimpahkan kepada alam semesta beserta isinya. Sarana perang yang berupa tipat dan bantal itu merupakan simbol Purusa dan Predana. Dimana, bantal sebagai simbol jiwa dan ketupat adalah simbol badan.

Pertemuan antara jiwa dengan badan maka terjadilah sebuah kehidupan. Pun, bantal juga sebagai lambang lingga, sementara bantal merupakan perlambang yoni, dimana lingga yoni adalah simbol penciptaan itu sendiri. Lebih lanjut dijelaskan, rirual ‘Perang Tipat-Bantal’ ini adalah suatu tradisi yang bercirikan kehidupan agraris, sebagai sebuah persembahan ungkapan rasa syukur kepada Dewa Wisnu dan Dewi Sri  atau pemunaan kepada Dewi Manik Galih sebagai Dewi Sri Murti (lontar/babad). Upacara ‘Perang Ketupat-Bantal’ sebagai perwujudan cinta kasih dilandasi keyakinan dan ketulusan hati, yang mengandung kekuatan magis untuk menetralisir kekuatan-kekuatan alam seperti simbolis pada Dewa Rare Angon

Dewa Rare Angon lanjut A.A. Putu Sutarja, bertugas menetralisir kekuatan-kekuatan alam (angin sejuk untuk laying-layang, pindekan, kulkul dan sundari semua berbunyi memberi keindahan dan kesejukan. ‘Perang Tipat Bantal’ ini kata Gungaji, bagaikan Kamadhuk ( sapinya Dewa Indra) yang dapat nemberikan apa yang diinginkan. Kegiatan yang dilaksanakan ini mengajarkan kepada umat Hindu khususnya, dalam melaksanakan hendaknya senantiasa dilandasi dengan tulus-ikhlas, untuk mendapatkan kemakmuran dan kesuburan menuju Kamadhuk (sapi Dewa Indra yang dapat memberikan apa yang diinginkan).

Dalam kitab Bhagawad-Gita dijelaskan, pada zaman dahulu kala Prajapati (Tuhan) menciptakan manusia dengan Yadnya dan bersabda dengan ini engkau akan berkembang bagai Kamadhuk.  Dengan ini, para dewa akan memberi kesenangan dan tanpa memberikan balasan kepada-Nya adalah pencuri. Yang baik adalah makan apa yang tersisa dari yadnya, maka akan terlepas dari segala dosa. Tetapi, menyediakan makanan untuk kepentingan sendiri, sama artinya makan dosa sendiri.

“Mengingat wilayah kami sangat luas dengan jumlah krama yang cukup banyak pula, maka kami berharap melalui kegiatan ini krama Desa Adat Kerobokan mampu meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan sekaligus mempererat tali persaudaraan dalam membangun kegiatan yadnya agung ini,” tegasnya sembari menyampaikan permakluman sekaligus meminta maaf kepada masyarakat yang sedang melintas di Jalan Raya Kerobokan atas penutupan jalur tersebut.

Pria yang dikenal ramah dan bersahaja ini, berharap kepada krama Desa Adat Kerobokan, utamanya para truna-truni selaku generasi penerus, agar kelak tetap bisa melestarikan dan melaksanakan tradisi warisan leluhur yang adiluhung ini. Mengingat tradisi ini sarat dengan makna filosofi kehidupan. “Kita harapkan usai menggelar kegiatan karya agung ini, akan tumbuh benih-benih kebaikan di antara krama Desa Adat Kerobokan, dan bahkan mampu menebar vibrasi kebaikan dan cinta kasih kepada masyarakat lainnya,” harapnya. *** Nuansa Bali.com.

Facebook Comments