Adat dan Tradisi

Walikota Rai Mantra “Mejukungan” Tangkil ke Sakenan

DENPASAR (NUANSA BALI). Hari Suci Kuningan juga merupakan hari piodalan di Pura Sakenan, Desa Serangan, Kota Denpasar. Bagi sebagian besar masyarakat kota, khususnya para tetua sebelum pesatnya perkembangan mode transportasi saat ini, jalur laut baik berjalan kaki jika air surut dan menggunakan Jukung saat air pasang menjadi pilihan utama saat tangkil ke Pura Sakenan terutama sebelum tahun 1990-an. Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra bersama Ketua TP. PKK Kota Denpasar, Ny. Selly Dharmawijaya Mantra serta OPD terkait ingin mengulang kenangan indah itu bernostalgia dengan menaiki Jukung untuk tangkil serangkaian Karya  Eka Dasa Warsa Pengratep Pujawali Padudusan Agung Madulur Antuk Pamlehpeh Segara di Pura Sakenan Sabtu (3/8).

 Rahina Suci Kuningan yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Kuningan ini memang merupakan hari besar agama Hindu yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Sejak pagi hari sekira pukul 09.30 Wita, Walikota Rai Mantra bersama rombongan telah berkumpul di kawasan Pantai Mertasari. Dengan menggunakan dua buah Jukung/Boat rombongan bergerak menuju Pura Sakenan dan tiba sekitar pukul 09.50 Wita. Selanjutnya Walikota Rai Mantra bersama jajaran Pemkot Denpasar yang terdiri atas Wakil Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara, Sekda Kota Denpasar, AAN Rai Iswara serta OPD dan masyarakat turut melaksanakan persembahyangan bersama.

Disinggung terkait dengan Jukung Nostalgia ini Walikota Rai Mantra mengatakan bahwa hal ini sebagai upaya untuk memperkenalkan kembali bagaimana kebudayaan masyarakat Bali, khsusunya Kota Denpasar tempo dulu yang hendak tangkil ke Pura Sakenan. Dimana, hal ini memberikan semangat tersendiri bagi para pemedek selain juga memberikan kemudahaan untuk menuju akses Pura Sakenan, mejukungan juga dapat menjadi wahana trasnportasi sekaligus berwisata menuju Pura Sakenan.  “Memang kita tidak perlu berjalan jauh, karena dermaga sudah langsung di depan Pura Sakenan, ini merupakan kebiasaan indah masa lampau, saat ini kita bersama-sama melestarikan hal tersebut dan bernostalgia memperkenalkan bagaimana peradaban masyarakat Kota Denpasar sebelum berkembangnya moda transportasi saat ini,” paparnya.

Camat Denpasar Seletan, I Wayan Budha didampingi Perbekel Desa Sanur Kauh, I Wayan Ada menjelaskan bahwa saat in terdapat dua dermaga yang melayani masyarakat untuk bernostalgia majukungan saat hendak tangkil ke Pura Sakenan. Dua dermaga tersebut yakni Segara Kodang Pamelisan, Kelurahan Sesetan dan Pantai Mertasari Desa Sanur Kauh. “Dengan menggunakan Jukung masyarakat dapat bernostalgia dengan menaiki mode transportasi laut yakni Jukung. Dimana, dengan merogoh kocek yang tergolong tidak mahal yakni Rp. 10 ribu, mulai pukul 10.00 Wita-13.00 Wita  masyarakat dapat menyusuri lautan sepanjang 600 meter hingga di Pura Sakenan,” katanya. *** nuansabali.com-(Ags/HumasDps).

Facebook Comments