Bali

Akui Lakukan Kesalahan, Pelindo dan Kemenko Kemaritiman Janji Perbaiki Kerusakan, Lakukan Penataan Kawasan

CAHAYAMAS. DENPASAR. Pihak Pelindo Benoa dan Kemenko Kemaritiman meminta maaf kepada semua pihak atas tindakan keteledoran, dimana penyebaran sedimen yang ke luar area Dumping Site 2, sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan, terutama matinya tanaman mangrove di sekitar kawasan tersebut. “Pada kesempatan ini kami meminta maaf kepada Gubernur Bali dan masyarakat Bali, dan berjanji akan melakukan penataan sekaligus mengembalikan kerusakan tanaman tersebut dengan melakukan penanaman ulang,” ujar Deputi Infrastruktur Kemenko Maritim Ridwan Djamaluddin di hadapan puluhan media massa, baik cetak maupun elektronik, Sabtu, 07/9/2019, di Jaya Sabha, Denpasar.

Lebih lanjut dikatakan, terhadap kerusakan lingkungan merupakan sesuatu yang tak diinginkan oleh semua pihak, namun terkadang hal itu terjadi akibat dari kesalahan mendasar, kesalahan teknis, dan kesalahan tata kelola. Pihaknya menyadari penumpukan material dan pengerukan di Pelabuhan Benoa, telah mengakibatkan kerusakan lingkungan. Untuk itu pihaknya akan segera melakukan penataan ulang sekaligus memperbaiki kerusakan tersebut, dengan melakukan penanaman kembali pohon mangrove. Ditegaskan, pihaknya hanya melakukan pengerjaan pengerukan bukan reklamasi. Pengerukan material yang dilakukan hingga kedalaman 13 sampai 14 meter ketika pasang, bertujuan agar kapal-kapal besar bisa masuk.

Selama ini hanya bisa bersandar satu kapal besar, namun setelah dilakukan pengerukan itu, nanti akan dapat menampung 4 hingga 5 kapal berukuran besar. “Ketika melakukan pengerukan, sudah barang tentu akan menghasilkan material dan penumpukan material ini berakibat matinya tanaman mangrove. Kami sangat menghormati kebijakan Gubernur Bali, dan akan memenuhi syarat yang disepakati agar ke depaannya lebih baik lagi,” katanya seraya menambahkan, Pelindo III Benoa akan melakukan relokasi energi listrik berupa LNG, ke dumping 2 di sisi barat Pelabuhan.

“Terkait kerusakan lingkungan, semua pihak tentu tidak ada yang mengharapkan. Kita semua hendaknya sama-sama menyikapi masalah ini dengan positif, dan menjadikan masalah ini sebagai sebuah pembelajaran. Jangan masalahnya yang kita kembangkan, namun bagaimana kita mencari solusinya untuk kebaikan kita semua,” kata Ridwan. Pihaknya akan mengikuti semua kesepakatan yang ada. Pihaknya menegaskan, bahwa pemanfaatan sisi daratnya hanya untuk tanki LNG, BBM pesawat dan dipastikan  tidak ada bangunan komersial seperti hotel, restoran, dan lainnya.

Setelah penolakan oleh Gubernur Bali lanjut Ridwan, maka pada tanggal 2 September lalu digelar Rapat Koordinasi Penanganan Masalah Pengembangan Pelabuhan Benoa, di Kantor Kemenko Maritim, dan sekaligus menghasilkan 5 poin untuk menyikapi surat Gubernur Bali. Untuk menangani masalah tersebut, PT Pelindo III tidak akan melanjutkan perluasan, namun akan menata, memitigasi dampak, dan merestorasi kondisi lingkungan di kawasan dan perairan Pelabuhan Benoa. “PT Pelindo III dengan KSOP Benoa akan meninjau kembali dokumen Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Benoa serta arahan Gubernur Bali. Pemerintah melalui Kemenko Maritim juga membentuk Tim Koordinasi Pemantauan yang terdiri dari para pejabat dan pakar dari Kementerian, Lembaga, Pemerintah Daerah, dan Perguruan Tinggi untuk mengumpulkan data dan informasi terkait masalah tersebut,” jelasnya sembari menambahkan, bahwasannya rekomendasi tindaklanjut akan disusun dengan memperhatikan kepentingan nasional. Dirut Pelindo III Doso Agung menegaskan, bahwasannya tidak akan ada bangunan lain selain bangunan pendukung pelabuhan, serta dipastikan tidak akan ada perluasan, melainkan sesuai dengan kesepakatan awal yakni sekitar 72 hektar.

Sementara, Gubernur Bali Wayan Koster di hadapan puluhan awak media mengaku lega dan bersyukur atas kesepakatan yang telah dicapai. Pihaknya berjanji akan selalu mengawal pembangunan tersebut. Kalau tidak kita yang peduli dengan keselamatan alam Bali, lalu siapa lagi. “Sudah menjadi tugas kita sebagai pemimpin untuk menyelamatkan lingkungan sesuai visi Nangun Sat Kerti Lokha Bali. Saya ingin mewariskan sesuatu yang baik kepada generasi penerus. Setiap investor yang membangun di Bali harus tunduk dan mengikuti aturan yang ada. Jangan hanya membangun di Bali, tetapi mari bersama-sama membangun Bali, menuju masyarakat yang lebih baik, maju, dan sejahtera. Jangan hanya bisa memeras susu, tanpa peduli dengan kelestarian sumber susu itu sendiri,” ujarnya bertutur.  *** CahayamasNews.com/Tim

Facebook Comments