Adat dan Tradisi

Puncak Karya Padudusan Alit Pancasanak Siwa Murti Sakti, Disambut Petir Disertai Hujan Deras

TABANAN (CAHAYAMAS-NEWS). Pelaksanaan Puncak Karya Padudusan Alit Pancasanak Siwa Murti Sakti, Khayangan Jagat Pura Luhur Duasem, Subamia Kelong, Tabanan yang berlangsung pada perayaan Rahinan Jagat Pagerwesi bertepatan Purnama Sasih Keenem (Rabu, 11 Desember 2019) berlangsung aman, khidmat, dan khusuk. Pelaksanaan puncak karya tersebut, diwarnai hujan deras disertai gemuruh petir. Tak pelak kondisi alam yang sebelumnya sangat panas, mendadak berubah menjadi sejuk akibat hujan turun begitu lebatnya disertai gemuruh petir. Hal ini menurut Manggala Karya sekaligus Jan Banggul Ida Bhatara di Khayangan Jagat Pura Luhur Duasem, Jro Mangku Gde Putus Aseman merupakan pertanda baik, dan bukti restu Tuhan secara nyata menganugerahkan hujan sebagai peneduh bumi, setelah sebelumnya kondisi alam sangat panas. “Mudah-mudahan ini menjadi tonggak awal, hujan akan terus turun seperti musim hujan pada umumnya, karena musim hujan tahun ini tergolong lambat,” ujarnya.

Sejak pukul 16.00 Wita, tampak umat dari berbagai daerah terus berdatangan silih berganti untuk ngaturang sembah bhakti ke Khayangan Jagat Pura Luhur Duasem, serangkaian upacara puncak Karya Padudusan Alit Pancasanak Siwa Murti Sakti yang digelar setiap lima tahun sekali tersebut dipuput Ida Pedanda dari Griya Gede Manuaba Tuakilang, Tabanan serta  dihadiri Ida Cokorda Anglurah dari Puri Agung Tabanan, dan sejumlah utusan di antaranya dari Gubernur Bali yang diwakili Kabiro Kesra Sekda Provinsi Bali, utusan Bupati Tabanan, DPR RI Made Urip, dan lainnya. Juga dihadiri Jro Mangku Pura Khayangan Tiga (Pura Desa, Puseh, Dalem) berserta prajuru Desa Adat Subamia Kelong Tabanan, undangan lainnya serta ratusan krama pengempon, pengemong lan penyungsung Khayangan Jagat Pura Luhur Duasem.

Manggala Karya Jro Mangku Gde Putus Aseman menjelaskan, Pujawali Pedudusan Alit Pancasanak Siwa Murti Sakti kali ini me-Ulu Bawi Watuhan/butuan, dengan dasar sastranya adalah Lang Mang Tang Ing, Ang Ing Namang Ung. Pelaksanaan puncak karya tersebut diawali upacara Lunga ke Beji, melasti ke pantai Yeh Gangga pada paginya, dilanjutkan  Pailen Pujawali lan Penangkil Pamedek dan pada pukul 16.00 Wita melaksanakan upacara Puncak Pujawali beserta runtutannya, dan dimeriahkan penampilan pementasan kesenian tari bondres dan Topeng Sidakarya. Kemudian pada rahina Saniscara Pon Shinta (14/12) dilaksanakan upacara Nyalarin sekaligus Nyineb Karya. “Semoga melalui karya ini Tuhan/Ida Bhatara-Bhatari yang berstana di Khayangan Jagat Pura Luhur Duasem senantiasa menganugerahkan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan khususnya bagi krama pangempon, pangemong, panyungsung, dan masyarakat di seluruh Bali dan nusantara pada umumnya,” katanya.

Karya ini bertujuan untuk merangsang dan membangun kecerdasan mental spiritual setiap umat yang dapat diwujudkan dengan hati yang tulus ikhlas, bhakti dan kesucian. “Semoga beliau Ida Hyang Widhi Wasa, maupun Ida Bhatara yang berstana di Khayangan Jagat Pura Luhur Duasem senantiasa memberikan kepada kita semua dalam menjalankan Dharma Agama yaitu Mochartam Jaghadita Ya Ca Iti Dharma,” ujar Jro Mangku Gde Putus Aseman. Pura Luhur Duasem adalah Khayangan Jagat (Sat) Khayangan yang dipuja adalah Keesaan Ida Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasinya. Dinmana konsep dasar Pura Luhur Duasem adalah Khayangan Jagat ini adalah Bajera Sesana, Tri Purusa dan Tat Purusa (Sang Sedasa Ngeka Dasa).

Facebook Comments