Cetik Bali

Pancaran Magis Pangelukatan Dasamala lan Widyadari, Diyakini Sebagai Pembersihan Lahir Bhatin hingga Pengobatan Segala Penyakit

BANGLI (CAHAYAMAS-NEWS). Pengelukatan Dasamala itulah sebuah tempat yang diyakini menyimpan berbagai keajaiban dan taksu yang sangat bermanfaat guna mulai dari pembersihan lahir dan bhatin hingga pengobatan berbagai penyakit. Konon  Penglukatan Dasamala ini kondisinya sangat kecil dan bahkan terkesan tak terpelihara dengan baik dan hanya ada Pura dan satu  Tirta Naga Basuki. Tempat ini  sudah ada sejak kurang lebih 400 tahun yang lalu dan sangat dipercaya mempunyai daya spiritual yang luar biasa. Dimana, diyakini bisa menyembuhkan segala macam penyakit medis  maupun non medis. Seperti dituturkan Bagus Made Rauh Kelian Adat Desa Pakraman  Sama Gria, Desa  Jehem, Kecamatan Tembuku, Bangli.

Selain tirta tersebut, juga terdapat sepuluh lainnya yakni empat tirta pengeleburan yang diyakini untuk membersihkan atau melebur segala sesuatu kurang baik yang ada dalam diri, Tirta Kecantikan diyakini bisa membersihkan wajah dengan niat yang tulus dari diri sendiri. Tirta Penolak Bala atau marabahaya; tirta awet muda untuk menenangkan pikiran agar hati bisa tenang. Tirta Taksu berfungsi penenang pikiran dan awet muda. Tirta Kesuksesan, untuk kelancaran ekonomi. Tirta Spiritual diperuntukkan bagi penekun dan pelaku kerohanian, serta  Tirta Ratu Niang Sakti dan Tirta Naga Basuki sebagai pengobatan medis maupun non medis.

Untuk mencapai tempat ini tidak seperti tempat lain menuruni tangga, namun mobil maupun sepeda motor langsung bisa turun menuju tempat Penglukatan. Sekitar 3 km jarak tempuh mulai dari Banjar Tingkadbatu menuju Banjar Sama Geria. Lebih jauh Ida Bagus Made Rauh memaparkan, sebelum direnovasi menjadi tempat penglukatan, ada seorang pekerja proyek dari luar Bali (orang Muslim) yang bekerja membuat senderan di tempat ini dan mereka diijinkan untuk tidur di tempat ini oleh masyarakat setempat, menurut mereka (pekerja proyek) setelah mereka tidur di sini mereka didatangi oleh Ida Bhatari Sasuhunan yang bersemayam di tempat ini, dan meminta menyampaikan untuk membuat penglukatan Dasamala lan Widyadari.

Awalnya mereka (pekerja proyek) cuek aja, tetapi besoknya kembali didatangi Ida Sasuhunan dan meminta untuk menyampaikan pesannya itu. Dari situlah mereka berani menyampaikan kejadian tersebut pada masyarakat setempat, awalnya masyarakat pengempon Pura Taman Sari tidak setuju, alasannya karena airnya sangat kecil tidak mungkin untuk membuat tempat penglukatan apalagi jumlahnya 11, tetapi orang  dari luar Bali ini tetap ngotot untuk dibuatkan penglukatan Dasamala, sampai orang tersebut berani mempertaruhkan lehernya untuk dijadikan pekelem di tempat ini jikalau nanti airnya tidak besar. “Nah dari situlah masyarakat pengempon di sini merasa bersemangat untuk membuat penglukatan  seperti sekarang dengan swadaya,” jelasnya.

Setelah penglukatan ini jadi dan diupacarai, seketika airnya membesar. Awalnya hanya satu pancoran, namun setelah dibuatkan pancoran sesuai permintaan airnya juka kian membesar. Banyak kejadian aneh terjadi, mulai dari kerauhan dan keluarnya penyakit non medis (Bebainan) anehnya lagi orang yang sudah sakitnya keras akibat magic bisa sembuh di tempat ini. “Sejak saat itulah pemedek yang tangkil percaya bahwa Pengelukatan Dasamala Lan Tirta Widyadari mempunyai daya magis yang luar biasa serta mampu menyembuhkan segala jenis penyakit, baik medis maupun non medis. Sejak saat itu pula tempat ini makin ramai didatangi pamedek dengan beragam maksud dan tujuan, mulai dari sekadar melukat untuk membersihkan angga sarira hingga tak sedikit yang dating untuk nunas tamba,” ungkapnya.

Dalam melaksanakan penglukatan dimulai dari matur Piuning, ke Pelinggih Ida Betara Sakti Kesidian (wawu rauh) yang pungsinya untuk nunas tamba, keturunan, dan meminta petunjuk serta meminta kelancaran berdagang, karena di sana ada tempat/pelinggih Dewi Kwan In. Kedua, tangkil di belakang (ungkur) Pura Taman Sari  bertujuan untuk memohon restu. Ketiga, tangkil di Pengelukatan Dasamala lan Tirta Widyadari yang pungsinya melukat atau melebur segala jenis penyakit dan mala di dalam diri. “Untuk sarana yang perlu dipersiapkan adalah mebawa 3 pejati namun tidak dipaksanakan tergantung kemampuan dan canang untuk dihaturkan di masing-masing penglukatan, sekaligus jangan lupa membawa lekesan (Seloyoan) untuk dipersembahkan kepada Ratu Niang Sakti,” ujarnya.

Disampaikan pula, semua itu tidak terlepas dari dasar keyakinan yang kuat, serta kepercayaan Beliau senantiasa melimpahkan anugrahnya kepada mereka yang selalu sujud dan bhakti di hadapan-Nya, yang didasari dengan niat yang murni dan tulus. Setiap yang melakukan Pembersihan (Melukat) di tempat tersebut, bisa memohon sesuai dengan maksud dan tujuannya sendiri. Yang dapat dimohon pada saat melakukan pengelukatan/pembersihan, Bhatin dan Pengobatan diri di antaranya: Pembersihan secara lahiriah, Pembersihan batin, Pengobatan segala macam penyakit, Memohon kemurahan rejeki. “Siapapun yang melukat di petirtaan Taman Sari ini ada keyakinan bisa mengarah ke hal yang lebih baik. Yang sakit, bisa sembuh, dan lainnya sesuai dengan keluhan dan permohonan,” jelasnya.

Mengingat tempat tersebut benar-benar dikeramatkan, sangat diharapkan kepada setiap pengunjung untuk hati-hati dan menjaga kesopanan, terutama dalam berpikir/berkata-kata, agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan,” tegasnya. Sedangkan dalam upaya manjaga dan melestarikan peninggalan leluhur dan meningkatkan kualitas spiritual dalam kehidupan beragama dan berbudaya di Pura Taman Sari Petirtaan Dasamala dan Widyadari  pada saat Banyu Pinaruh biasanya digunakan sebagai hari yang baik untuk melakukan pembersihan diri dengan cara melukat atau mandi di tempat pemandian yang disucikan di Bali. Kini banyak  tempat untuk melakukan kegiatan rohani lainnya seperti tempat melukat/menyucikan diri di tempat bertuah yang diyakini memiliki kekuatan spiritual, karena kekuatan suci yang berasal dari Ida Sang Hyang Widhi. Seperti  Pelukatan Dasamala dan Tirta Widyadari, ribuan orang datang saat hari Banyu Pinaruh maupun hari suci lainnya seperti Purnama, Tilem maupun Kajeng Kliwon juga ramai pengunjungnya untuk melakukan ritual pembersihan diri.

Lanjut disampaikan, masyarakat mulai banyak berkunjung melukat (melakukan pembersihan diri) mencapai  ribuan orang dari berbagai daerah di Bali seperti Bangli, Gianyar, Tabanan, Klungkung, Badung, Denpasar dan bahkan dari luar Bali hingga Turis Mancanegara. Tingginya angka kunjungan ini memang tidak terlepas dari hari Banyu Pinaruh yang jatuh setiap enam bulan sekali. “Banyaknya pengunjung kebanyakan anak-anak muda utamanya pada hari Bayu Pinaruh. Kalau di sini istimewanya pengunjung bisa melakukan semua jenis penglukatan,” terangnya. *** Cahayamasnews.com/Agung Natha.

Facebook Comments