November 4, 2026
News

Peduli Kemanusian Dampak Covid-19, MAPANBUMI Provinsi Bali Bagikan Ratusan Paket Sembako

DENPASAR (CAHAYAMASNEWS). Guna meringankan beban masyarakat akibat dampak penyebaran Virus Disease Corona (Covid-19)­, Perkumpulan Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (MAPANBUMI) Provinsi Bali dan Yayasan Dana Paramita Buddha Maitreya Indonesia (PARAMITA POUNDATION) menyerahkan bantuan ratusan paket sembako kepada masyarakat yang membutuhkan. Penyerahan bantuan tersebut bertempat di Maha Vihara dan Pusdiklat Buddha Maitreya, yang beralamat di Jalan Gunung Soputan 88 Denpasar, Bali (Rabu, 6/5/2020).

Ketua MAPANBUMI Provinsi Bali (Tjin Tat/Tommy Chiuputra) mengatakan, penyerahan paket sembako kali ini adalah yang kesekian kalinya dilakukan, dan menyasar masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Dana bantuan ini berasal dari Dana Abadi Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (MAPANBUMI) dan Yayasan Dana Paramita Buddha Maitreya Indonesia (PARAMITA POUNDATION).

Lebih lanjut dengan logat bicara khasnya, Ketua MAPANBUMI menjelaskan, untuk sementara masyarakat berusaha untuk menjaga kesehatan, mempertahankan diri dari serangan virus mematikan tersebut. Dampak wabah ini telah membuat perekonomian masyarakat terpuruk, sektor pariwisata lumpuh total dan berujung karyawan banyak yang dirumahkan, dan bahkan di-PHK. “Saat ini kita semua berjuang untuk berusaha mempertahankan hidup. Dalam situasi seperti ini kita harus bahu-membahu saling membantu untuk mempertahankan hidup melawan wabah covid-19 yang telah banyak menelan korban jiwa tersebut. Terkait hal itu kami berupaya berbagi membantu masyarakat yang benar-benar membutuhkan, dengan memberikan bantuan paket sembako,” ujar Ketua MAPANBUMI di sela-sela acara pembagian paket sembako tersebut.

Lebih jauh pria ramah dan murah senyum ini mengaku sangat bersyukur kepada Tuhan telah diberikan kesempatan untuk berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan. Setiap peristiwa pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Tuhan pasti memiliki rencana tertentu, dan semoga menuju perubahan yang lebih baik. “Sesungguhnya di saat inilah merupakan moment yang tepat untuk mengabdikan diri berbagi rejeki yang telah dianugerahkan kepada kita, untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Dalam Buddha, sudah menjadi kewajiban untuk beramal kepada umat yang membutuhkan, terutama bagi yang mampu harus membantu umat yang tak mampu dan atau kurang beruntung tanpa memandang status, agama, keyakinan, dan lainnya. Karena dengan beramal diyakini rejeki akan bertambah,” katanya seraya berharap sisa hidup ini bisa bermanfaat bagi sesama dan kalau bisa mulia.

“Orang kaya itu sesungguhnya bukan lebih pintar atau lebih hebat, namun yang membedakan adalah simpanan karma baik dan rejekinya lebih banyak. Namun jika mereka tidak mau lagi menanam pohon berkah dengan melakukan amal (beramal), maka kekayaannya itu tidak akan bertahan lama, karena rejeki itu sesungguhnya berasal dari buah pohon berkah yang kita tanam sebelumnya. Maka dari itu, rajin-rajinlah menanam pohon berkah, sehingga makin banyak hasil yang bisa kita petik di kemudian hari,” tuturnya seraya menambahkan, bahwa sejak mewabahnya virus covid-19, pihaknya bersama pengurus yang lain, telah menjadikan Vihara ini sebagai rumah singgah bagi mereka yang tidak mampu membayar kost. Mereka diberikan tinggal dan makan gratis. Sedikitnya ada 30-an umat yang tinggal di Maha Vihara dan Pusdiklat Buddha Maitreya ini.

Sementara Pembimas Buddha Kanwil Kemenag Provinsi Bali, Bapak Suliarna,S.Ag., M.Pd., mengatakan, bahwasannya pemberian paket sembako ini sama sekali bukan bermaksud pamer atau bahkan jor-joran, melainkan murni untuk berbagi meringankan beban masyarakat yang terdampak virus covid-19, terutama bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Memberi lanjut Pambimas Buddha Bapak Suliarna, bukan harus menunggu hidup berlebih, namun tergantung niat dan kemauan didasari tulus-ikhlas untuk membantu sesama yang kurang beruntung atau yang benar-benar membutuhkan uluran kasih.

Antara yang memberi dan menerima, sesungguhnya pahalanya sama. Dimana, yang memberi bukan berarti lebih banyak, dan yang menerima jangan berkecil hati. “Kalau saya andaikan seperti menanam jagung. Si-pemberi adalah si-penanam jagung itu, sementara yang diberi adalah diandaikan sebagai ladang/lahan yang akan ditanami. Artinya, meskipun memiliki benih/bibit jangung unggul, tetapi bila tidak mempunyai lahan, maka jagung itu tak akan pernah tertanam, terlebih berbuah, tetapi justru sebaliknya bibit itu akan menjadi rusak atau busuk,” ujarnya bertutur. Maka dari itu, antara yang memberi dan diberi hendaknya dilandasi dengan penuh kasih dan perasaan bahagia didasari tulus-ikhlas, sehingga pemberian itu akan benar-benar berbuah pahala yang lebat atau banyak.

Di sisi lain, Pendeta Hans mengatakan, ke depan pemberian bantuan paket sembako ini direncananya akan dilakukan secara berkelanjutan setiap bulannya. Awalnya bantuan diperuntukkan untuk intern umat Buddha, selanjutnya baru menyasar masyarakat umum, tanpa memandang status, agama, dan sebagainya. “Ke depan kami merencanakan memberi bantuan kepada guru-guru yang mengajar di Pusdiklat Buddha Maitreya. Pihaknya berharap, semoga wabah covid-19 ini cepat berlalu, sehingga masyarakat bisa beraktivitas seperti sedia kala.  *** Cahayamasnews.com/Andi-Tim.

Facebook Comments

error: Content is protected !!