November 28, 2020
Adat dan Tradisi

Demi Alasan Keamanan dan Keselamatan Bersama, Tradisi unik dan Heroik “Gebug Ende” Desa Seraya Ditunda Pelaksanaannya

AMLAPURA (CAHAYAMASNEWS). Gebug Ende asal Seraya Karangasem  yang merupakan tradisi warisan turun-temurun yang sedianya digelar dan atau dipentaskan setiap tahun, namun untuk tahun ini ditunda pelaksanaannya akibat wabah Covid-19 yang masih mewabah hingga saat ini. Hal itu dijelaskan Kelian Adat Desa Seraya, I Made Salin, saat dihubungi Kamis (22/10/2020). Menurutnya, pihaknya takut melanggar protokol kesehatan (Prokes) sebab sudah dipastikan akan mendatangkan masyarakat banyak yang menonoton.  “Ya, memang  sebelumnya kami berencana melaksanakan tradisi warisan leluhur Gebug Ende ini di Banjar Merajan, namun akibat situasi belum memungkinkan, maka kami putuskan untuk ditunda, dan mungkin hingga tahun depan,” ujarnya.

Keputusan itu diambil karena takut  menyalahi Prokes, mengingat setiap kali tradisi turun-temurun tersebut dilaksanakan pasti akan menyedot perhatian masyarakat untuk menyaksikannya dan akan sangat sulit untuk mengontrolnya. Ditegaskan, pihaknya bersama panitia mengaku penundaan ini murni tanpa adanya tekanan, melainkan sudah merupakan hasil sangkep (rapat) dengan krama yang dilaksanakan tanggal 21 Oktober 2020.

“Dalam rapat memang ada sedikit pro dan kontra, tapi saya tekankan jangan membandingkan dengan yang lain, tetap turuti Prokes saja. Toh jika ini tidak dilaksanakan tidak akan berdampak apa-apa karena tradisi Gebug Ende ini tidak wajib dilaksanakan,” tegasnya seraya menambahkan, bahwasannya tradisi Gebug Ende yang bersifat Sakral, telah digelar warga Desa Seraya pada tanggal 8 – 10 Oktober 2020 lalu di Pura Bale Agung,  bertepatan dengan upacara  Ngusaba Kaja.

Saat itu lanjut Made Salin, walapun saat pelaksanaan tersebut memang ada penonton, namun kerumunan tersebut masih bisa dikontrol sesuai dengan Prokes. Gebug Ende yang dibagi menjadi tiga kategori yakni Gebug Ende yang bersifat sakral yang dipentaskan ketika datang upacara Ngusaba. Selanjutnya Gebug Ende yang bersifat tradisi dilaksanakan setiap tahun dengan tujuan untuk melestarikan tradisi tersebut agar tidak sampai punah, serta tradisi Gebug Ende yang bersifat serimonial atai hiburan, adalah Gebug Ende yang telah dimodifikasi dan boleh dipentaskan di tempat umum seperti di hotel – hotel dan tempat lainnya.

“Hal itu kami bagi tiga adalah untuk membedakan sehingga tidak rancu antara tradisi yang memang ‘Disakralkan, untuk pelestarian, maupun yang bersifat hiburan’. Mengingat pementasan tradisi ini tergolong unik dan langka, maka setiap kali digelar sudah dipastikan akan menyedot perhatian masyarakat untuk menonton. Untuk itu untuk tahun ini kami tunda, semata-mata untuk keselamatan dan keamanan kita bersama,” tegas Kelian Adat I Made Salin. *** Cahayamasnews.com-Tim-01.

Facebook Comments