November 28, 2020
News

Bupati Bangli Terima Kunker Pemkab Busel di Desa Wisata Penglipuran

BANGLI (CAHAYAMASNEWS). Kabupaten Buton Selatan merupakan Daerah Otonomi baru (DOB) hasil pemekaran Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara melalui penetapan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2014. Pembentukan Kabupaten Buton Selatan dimaksudkan agar meningkatkan penyelenggaraan pemerintah, pembangunan, dan pelayanan publik serta kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Demikian disampaikan Bupati Buton Selatan H. La Ode Arusani saat melaksanakan studi  banding di bidang Desa Wisata.

Rombongan Pemkab Buton Selatan diterima langsung oleh Bupati Bangli I Made Gianyar di Wantilan Desa Adat Penglipuran, Jumat (20/11/2020) didampingi Kadis Disparbud I Wayan Adnyana dan Bendesa Adat Penglipuran I Wayan Supat.Sementara Bupati Buton Selatan  menyertakan para tokoh adat setempat. Bupati Buton Selatan H. La Ode Arusani  dalam sambutannya menyampaikan maksud dan tujuan melaksanakan setubanding ke Kabupaten Bangli khususnya memilih lokasi di  desa wisata Penglipuran,dimana desa wisata Penglipuran yang sudah terkenal diseantero dunia serta banyak memperoleh penghargaan dan yang paling penting tempat wisata terbersih nomor 3 didunia,untuk itu kami bersama rombongan yang terdisi dari tokoh-tokoh adat ingin mengetahui lebih dekat dan cara pengelolaan untuk nantinya bisa dikembangkan dan  diterapkan di Kabupaten Buton Selatan”jelasnya

Potensi budaya ini jika terus bergerak dan didukung pemerintah daerah akan menarik minat wisatawan, dampaknya perputaran ekonomi Busel akan semakin membaik.Untuk itu kami datang kesini ingin meniru tata kelola adat agar kedepannya lebih maju dan  bisa sebanding dengan Desa Wisata Penglipuran,” ujarnya. Bupati I Made Gianyar dalam sambutannya mengucapkan selamat datang di Kabupaten Bangli dan khususnya Desa Wisata Penglipuran. Lebih jauh Made Gianyar menyampaikan,kalau di Bali lebih dikenal Kintamani daripada Bangli, tetapi kini Desa Penglipuran inilah salah satu kebanggaan masyarakat Kabupaten Bangli.

Sebelum Desa Penglipuran ditetapkan menjadi Desa Wisata tahun 1993, dulu tidak ada berkeinginan  menjadi obyek wisata,bermula dari banyaknya orang datang untuk melihat keunikan bangunan dan tidak ada duanya di Bali dan masih dilestarikan,melalui paruman Desa Adat sebelum diajukan menjadi Desa Wisata dibuatkan badan pengelola.Berkat terkenal dan banyaknya penghargaan yang diterimanya,ketua badan pengelola sering diundang baik ditingkat nasional maupun luar negeri.Sebelum adanya selogan Sapta Pesona,Desa Adat Penglipuran lebih dulu melaksanakan,” ucapnya.

Bendesa Adat Penglipuran I Wayan Surat  menguraikan nama Desa Penglipuran berasal dari kata Pengeling dan Pura yang artinya mengingat tempat suci (para leluhur). Pada awalnya masyarakat desa berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani. Mereka bermigrasi ke Desa Kubu Bayung (sekarang menjadi desa Penglipuran) dan akhirnya menetap dengan senantiasa menjaga keluhuran falsafah budaya. Di setiap rumah mempunyai sebuah pintu gerbang disebut Angkul-angkul. Semua rumah di desa ini seragam tetapi tidak sama, hampir mirip bahkan. Untuk ukuran rumahnya sama persis.

Tercatat ada 985 jiwa dalam 234 kepala keluarga yang tersebar pada 76 pekarangan, yang terbagi rata di setiap sisi dari luas total 112 hektar.Yang menarik di Desa adat Penglipuran tidak hanya bentuk pemukimannya saja tetapi hutan bambu yang terletak di sebelah Utara di belakang pura desa, menebang pohon bambu harus melalui ijin tetua desa dan sekarang ini hutan bambu di desa adat Penglipuran sedang trend menjadi salah satu spot foto selfie”katanya.

Masyarakat Penglipuran sangat menghormati perempuan sejak zaman leluhur, aturan adat unik yang jarang diketahui orang banyak. Ini adalah satu-satunya desa di Bali yang tegas melarang poligami. Kaum laki-laki tidak diperkenankan mengangkat istri lebih dari satu. Mereka yang melanggar aturan adat tidak bisa lagi tinggal bersama masyarakat di desa, melainkan diasingkan di Karang Memadu yang berada di selatan rumah penduduk.

“Sanksi sosial yang diberikan cukup berat, salah satunya tidak boleh bergabung melaksanakan upacara adat dengan masyarakat, dilarang masuk pura mana pun di Penglipuran, dilarang melintasi perempatan desa di bagian utara, dan dikucilkan (kasepekang) oleh masyarakat.Karang Memadu artinya tempat khusus bagi yang beristri lebih dari satu. Luas lahan yang disiapkan sekitar 921 meter,” imbuhnya. *** Cahayamasnews.com-Tim-AgungNatha.

Facebook Comments