
Kepala BNNP Bali Kunjungi Lapastik Bangli, Jika Ditemukan Narkotika Kalapastik Siap Dicopot
BANGLI (CAHAYAMASNEWS.COM). Peredaran narkotika saat ini tidak lagi di kota besar saja, ini desa pun telah dijamah peredaran barang haram tersebut. Ditengah masa pandemi Covid-19, pengungkapan penyalahgunaan narkotika di Bali justru mengalami trend kenaikan. Jadi semua pihak harus meyatakan perang terhadap peredaran narkotika tersebut. Demikian disebutkan Kepala Badan Narkotika Nasinal Provinsi (BNPP) Bali, Pol. Drs. Gede Sugianyar Dwi Putra, SH., M.Si., saat melakukan kunjungan ke Lapas Narkotika Kelas II A Bangli, Selasa (15/06/2021).
Lebih lanjut dikatakan, perang terhadap peredaran narkoba demi terwujudnya Indonesia Bersih Narkoba (Bersinar) tidak hanya identik dengan melakukan penangkapan Bandar narkoba saja. Tetaapi juga harus dibarengi upaya lain, seperti kegiatan edukasi untuk yang tidak kena narkoba. Sedangkan yang kena narkoba, berupa kegiatan terkait rehabilitasi. Untuk lapas, harus menjadi perhatian kaitannya dengan bersih narkoba ini.
“Di Lapas inilah para penyalahgunaan narkoba mesti digembleng dan dididik agar tidak masuk ke jurang yang sama. Dengan demikian saat kembali ke masyarakat sudah tidak memakai lagi dan tidak dikejar oleh aparat dan dikucilkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Pihaknya juga mengapresiasi keberanian Kalapastik Bangli yang telah berkomitmen jika menemukan barang bukti narkoba dan alat komunikasi di dalam lapas, yang bersangkutan siap dikenakan sanksi. Dan, dari pengecekan pihaknya memang betul apa adanya. Pengawasan super maksimum juga sudah disiapkan hampir sama dengan di Nusa Kambangan.
“Tahanan narkoba kelas kakap juga ada disini. Mereka diisolasi, sehingga tidak bisa berbuat macam-macam lagi dia,” ujarnya.
Lebih lanjut, disampaikan, sejatinya tingkat kerawanan persoalan narkotika ibarat fenomena gunung es. Yang artinya dipermukaan kecil, namun semakin kebawah jaringannya semakin besar. Peradaran narkotika ini malah naik saat pandemi Covid 19 ini. “Pandemic narkoba adalah pandemic yang tidak kelihatan. Tapi bisa mematikan, merugikan generasi muda,” sebutnya.
Dijelaskan, penyebab meningkatkan kasus narkoba yang diungkap, diduga lantaran dimasa pandemic banyak orang nganggur sebagai akibat PHK kemudian stress yang justru menyebabkan orang melakukan tindak penyalahgunaan narkotika. “Karena ngganggur mereka malah pilih jalan pintas untuk dapat penghasilan dengan menjadi pengedar narkoba,” ungkapnya.
Disinggung peredaran narkotika di Bangli itu, jelasnya, sekarang sudah tidak ada batas antara desa dan kota. Karena kemajuan teknologi, desa juga rawan. Shabu juga telah merambah ke desa, terutama yang diperhatikan di Bangli adalah tempat penambangan pasir. Disana kan perlu bekerja keras, disana penyalahgunaan shabu itu mesti perlu diperhatikan. Bukan sudah ada, tapi harus diperhatikan. “Karena disini tidak ada BNN, saya harapkan BNN Gianyar memperhatikan ini,” pintanya.
Sementara Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Bangli Agus Pritiatno secara terpisah mengatakan jumlah warga binaan yang ditampung di Lapastik Bangli sebanyak 426 orang. Jumlah tersebut, masih bisa ditampung Lapastik. “Kalau dimaksimalkan kita memiliki daya tampung 800-900 orang,”bebernya.
Kata dia, juga meyakinkan tidak ada peredaran narkotika terjadi di Lapastik Bangli. Dirinya menjamin setelah didalam ini, meraka tidak akan berbuat lagi. “Tiga bulan sekali kita lakukan test urine. Kalau ada yang positif, tentunya barang itu ada. Kami sudah berkomitmen dari atas ke bawah. Kalau ditemukan peredaran narkoba di Lapastik Bangli saya siap dicopot. Itu komitmen saya dengan semua,” tegas Agus Pritiatno.
Papar dia lagi, Lapastik Bangli belakangan ini dipilih menjadi percontohan nasional, mengingat SOP pengamanan yang diterapkan sesuai standar nasional. “Selain itu, yang mendukung adalah factor dari petugas dan alam yang mendukung. Di desa ini, siapa yang berani bermain-main. Kalau di Kerobokan mungkin masih bisa lempar-lempar, tapi di sini tidak,” pungkasnya. *** Cahayamasnews.com/Tim-NT.









Facebook Comments