September 21, 2021
News

Pemkab Bangli Konsen Benahi Kepariwisataan, Ajak Semua Komponen Solid Membangun Kintamani

BANGLI (CAHAYAMASNEWS.COM). Sebagai destinasi wisata unggulan Bangli, kawasan pariwisata Kintamani bakal ditata lagi. Untuk penataan akan dilakukan tahun 2022. Karenanya, semua komponen kepariwisataan di bumi sejuk itu diminta untuk solid mendukunng  program yang dilaksanakan pemerintah. Selain itu, semua harus kompak menjaga kesan Kitamani yang selama ini telah baik, untuk lebih baik lagi.  

Demikian dipaparkan Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Sedana Arta didampingi Wabup Wayan Diar kemudian menyebut masalah video yang belakangan ini viral di media sosial. Kata dia, berkaiatan dengan video itu, pihaknya telah mengadakan pertemuan dengan kalangan pariwisata, dalam hal ini PHRI Bangli dan PHRI Bali. Dalam pertemuan itu, pihaknya bersama-sama telah memutar video tersebut.

“Kita amati tidak ada yang salah dalam video itu. Di sana, hanya ada percakapan wisatawan yang mempertanyakan masalah nilai pungutan. Kemudian petugas menjawab, kalau itu resmi dari Pemkab Bangli, hanya itu saja dalam video. Jadi tidak ada yang salah di sana walau diviralkan ke dunia manapun,” ucapnya. Dia kemudian merasa miris, pasca beredarnya video itu warga net malah menghujat Pemkab Bangli.

Padahal, dalam video itu tidak ada konten yang mempersoalkan atau complain masalah pungutan tersebut. “Saya kaget kenapa tiba-tiba banyak orang complain dan menghujat Pemkab Bangli,” tegasnya. Tindak lanjut dari itu, pihaknya telah memerintahkan Kasatpol PP Kabupaten Bangli untuk melakukan penyelidikan terhadap komen yang berbau negatif dan mendiskreditkan Pemkab Bangli.

Selain itu, pihaknya juga telah meminta pihak Kominfo untuk men-prin komen nagatif itu. Selain itu, pungutan itu telah dilakukan bulan Januari lalu, pasca sempat tidak dilakukan pungutan pada tahun sebelumnya. Bupati asal Desa Sulahan ini kemudian mencontohkan, kalau di luar Bangli parkir saja dirinya bisa membayar Rp. 5,000 namun tidak perah complain. Sementara di sejumlah obyek di ular Bangli, pungutannya mencapai Rp. 50 ribu pun tidak ada yang complain. Malahan, masuk taman kecil yang luasnya hanya lima hektar, pengunjung bayar Rp. 25.000 tidak ada yang keberatan.

“Kalau di Bangli kan masuk kawasan wisata yang telah ditetapkan pemerintah melalui Kepres dan Perda RTRW Bali, hanya bawar Rp. 25 ribu kok diributkan. Di kawasan ini  kita bisa menikmati gunung, danau, dan  lembah yang nan indah. Mana ada tempat yang bisa memandang gunung yang sejajar dengan kita. Ini hanya ada di Kintamani,” sebutnya.

Berkaiatan dengan penataan Pariwisata Kintamani akan dilakukan tahun 2022, pihaknya mengaku telah menyiapkan designnya. Cuma saja, penataan ini akan diberlakukan secara bertahap karena membutuhkan dana besar. “Kita nanti juga akan meminta bantuan Pemprov Bali untuk membantu dalam membenahi infrastruktur tersebut,” katanya.

Diakui, saat ini Pemkab Bangli belum memiliki tempat khusus untuk pemungutan retribusi bagi pengunjung. Tentu ini sebagai pekerjaan rumah dan tentu akan terus dibenahi, termasuk perencanaan jalur khusus pariwisata.

“Kami berharap kesadaran pengunjung untuk membayar retribusi. Retribusi ini masuk ke daerah yang notebene dimanfaatkan untuk pembangunan daerah,” ucapnya. Ditegaskan pula, bagi masyarakat yang hanya lewat di jalur Kintamani tentu tidak dikenakan retribusi. Pengenaan retribusi hanya bagi pengunjung dengan tujuan rekreasi. ”Untuk yang berwisata harus jujur, bilang hanya lewat atau alasan mau ke Singaraja agar tidak kena retribusi,” tegasnya. Diakui kunjungan wisatawan ke Kintamani akhir-akhir ini mengalami peningkatan. Bahkan, pada bulan Juni saja tercatat 7.000 kunjungan. “Bulan Juni saja ada 7.000 pengunjung berdasarkan catatan retribusi. Kemungkinan ada yang lolos di pintu masuk, sudah barang tentu kunjungan riil lebih dari 7.000 orang,” pungkasnya. *** Cahayamasnews.com/Tim-NT.

Facebook Comments