April 19, 2026
Seni dan Budaya

AURA KASIH. “Mengetahui dan Merasakan”.

Oleh: I Ketut Murdana

Bila dilihat esensi dari makna kedua kata ini, sesungguhnya saling melengkapi. Tetapi berbeda ruang kejadian dan pengalaman yang ditimbulkan. “Mengetahui” berarti hasil dari interfenetrasi antara subyek terhadap obyek indrawi, menjadi pengetahuan yang mengisi pikiran. Praksis interfenetrasi itu bisa saja melalui proses edukasi formal, mendengar, membaca, maupun obervasi dan eksplorasi alamiah. Pengalamannya lebih bersifat teoritis, terukur, logis, namun tidak lengkap.

Ketidak lengkapan itu diperkuat oleh pengetahuan merasakan, lebih bersifat emosional imajinatif. Terkadang seseorang tanpa rencana bisa merasakan sesuatu, misalnya setiap orang berharap bila hidup berumah tangga senantiasa langgeng, sejahtera dan bahagia. Saat-saat terjadi akasi dan reaksi dari perbedaan prinsip berpikir dan bernalar yang diakibatkan oleh aneka masalah. Tentu disitu orang-orang bisa merasakan gundah, sakit hati, perih bahkan banyak yang mengambil jalan pintas yang membahayakan masa depannya.

Itu artinya masalah yang menimpa membuat seseorang merasakan “sesuatu”, misalnya betapa pahitnya ketika diceraikan istri atau suami. Betapa bahagianya saat disayang suami, istri, pacar, orang tua, anak, saudara-saudara dan seterusnya. Dengan demikian “merasakan” itu adalah mengalami esensi dari kebenaran masalah yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja.

Orang-orang yang merasakan manis pahitnya masalah, tentu sangat berbeda pengalamannya, dengan orang-orang yang mengetahui masalah itu, misalnya dari cerita orang lain, televisi, media sosial dan lain-lain. Sentuhan berita ini bisa menimbulkan rasa iba, tolong menolong dan lain sebagainya. Kedalam rasa yang tertimpa masalah sangat berbeda kualitasnya dengan orang-orang yang mendengar berita permasalahan itu. Hubungan kerabat, rasa persaudaraan juga sangat menentukan kadar sensitifitas merasakan masalah itu. Disamping itupula kualitas emosional seseorang juga sangat berpengaruh, ada orang yang amat sensitif dan juga banyak orang yang acuh tak acuh, walaupun memiliki kedekatan hubungan keluarga.

Ketika kita berbicara kualitas “mengetahui” dan “merasakan” masalah ini tentu memiliki jangkauan yang amat luas dan beragam, oleh karena itu saat ini akan difokuskan pada persoalan fenomena spiritual saat ini. Banyak orang-orang cerdas menguasai teori-teori dari ayat-ayat suci agama lalu berceramah tentang sorga dan janji-janji sorgawi kepada orang lain. Bahkan ada yang amat bersemangat menjelek-jelekkan yang lainnya, akibatnya kabut kelap semakin menutupinya.

Pertanyaannya sudahkah mereka mengetahui sorga dan merasakan nikmat kebenaran sorgawi?. Pertanyaannya juga untuk mengetahui kebenaran. Apabila ia amatlah bersyukur karena apa yang disajikan kepada masyarakat adalah “kebenaran pengalaman”. Apabila tidak tentu itu adalah pengetahuan “tentang sorga”, yang patut diperjuangkan lebih baik lagi agar benar-benar dapat merasakan esensi kebenaran dan kebahagiaan surgawi sesungguhnya, yang patut ditularkan kepada masyarakat, agar memperoleh kebahagiaan yang sama.

Sangat berbeda bagi orang-orang telah merasakan kebenaran Ilahi, biasanya berkomentar seperlunya, tetapi vibrasi sucinya luar biasa. Oleh karena itu, betapa pentingnya mengetahui pengetahuannya dan merasakan esensinya menjadi endapan pengalaman yang mempribadi, lalu bisa bervibrasi baik kepada orang lain.

Semoga menjadi renungan dan refleksi

Facebook Comments

error: Content is protected !!