April 19, 2026
Seni dan Budaya

AURA KASIH

“BHAKTI YANG TULUS”.

Oleh: I Ketut Murdana

Merefleksikan kesadaran diri atas semua anugrah mengalir, meresapi, membangkitkan, membangun, merubah, memperbaiki, membersihkan, menyucikan dan seterusnya adalah dari kuasa-Nya, bhakti yang tuluslah jawaban yang “menjiwai prilaku”. Warisan “keluhuran” inilah yang tertata rapi menjadi prilaku budaya sebagai “persembahan” memuliakan kebesaran-Nya. Warisan keluhuran ini bervibrasi memurnikan diri bagi orang-orang yang telah tervibrasi, menjadi panggilan kesadaran lalu “sadar” untuk mengedukasi diri dalam proses edukasi yang panjang tiada henti, karena seperti itulah wujud nyata kehidupan.

Melalui proses panjang edukasi spirit itu terjadilah proses pengendapan nilai-nilai, lalu perlahan menjadi reaksi prilaku kebajikan. Sangat berbeda ketika edukasi itu hanya menempati salah satu organ logika dan pikiran yang berpusat di otak. Tentu akan sangat cepat mendapatkan kecerdasa teoritik atau teori-teori kebajikan. Akibat semua itu bertumpuklah teori kebajikan tetapi, tumpul menembus kegelapan yang selalu agresif ingin menguasai dunia, alam semesta dan juga menguasai diri setiap orang.

Apabila kecerdasan olah pikir ini dijiwai oleh kecerdasan olah hati, olah rasa, maka akan menjadi kecerdasan perilaku, menghasilkan budaya-budaya indah membahagiakan. Konfigurasi kesadaran inilah “keluhuran” yang tidak bisa terjadi dengan sendirinya, melewati edukasi dan ujian yang tidak ringan. Ujian-ujiannya bukanlah seperti ujian Skripsi, Tesis, Desertasi dan format ujian formal lainnya, tetapi berwujud masalah yang datang tiba-tiba yang harus dilewati atau harus dihadapi.

Saat-saat seperti itu tidak ada bisa dicontek, tetapi kumpulan pengalaman yang bersifat jasmani dan rohani muncul sontak dari dalam hati, bisa “melampaui kecerdasan berpikir”. Lalu masalah yang dihadapi terselesaikan dengan baik. Saat dinamika seperti itulah “ketulusan” jiwa terkondisi menghadapi realitas dinamika itu sendiri.

Ketika telah lewat, saat itu kontrol pikiran terperangah dengan bertanya; “kok bisa ya” dan pertanyaan lainnya susul menyusul sebagai sebuah renungan.

Ketika itulah sesungguhnya kerja hati nurani yang juga bisa disebut kesadaran spiritual atau kesadaran atman atau Guru Swadyaya telah menjadi penuntun di dalam diri. Wujud Guru sejati yang telah menjadi penuntun dalam diri inilah sesungguhnya menyelamatkan umat manusia agar terbebas dari kebutaan hati nurani. Oleh karena itu betapa pentingnya memelihara kebenaran ini, melalui bhakti yang sungguh, teratur, melalui ajaran-Nya, dan Para suci yang berwenang untuk menuntun.

Semoga semakin banyak insan-insan bhakti yang tulus tumbuh dan berkembang menghiasi taman rohani dunia ini. Semoga menjadi renungan dan refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!