April 19, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“GORESAN SENIMAN ADALAH PELAYANAN PENCIPTAAN”

Oleh:    I Ketut Murdana

Hidup manusia dipenuhi oleh tugas dan kerja. Jika seseorang dalam melakukan tugasnya dengan penuh kesadaran menyertakan sifat keilahian dalam setiap obyek yang terlibat di dalamnya, maka obyek material dan subyek prilaku akan terhubung pada sumber-Nya. Rangkaian kesadaran tentang keilahian itu, perlahan membebaskan seseorang dari keterikatan prilaku (karma) dan kesenangan material. Artinya seseorang tidak bisa diikat oleh buah karmanya yang membuat hidup dan masa depan terbelenggu dan korban siklus karma. Dalam pengertian lain adalah kerja untuk kualitas kerja itu sendiri, ketika kualitas dan kematangan terjadi secara alamiah maka alam akan memberi jawabannya.

Kerja seniman adalah “mencipta” menuangkan pengalaman estetik dan pengalaman spiritualnya walaupun kedua pengalaman itu beda tipis. Pengalaman estetis lebih menempatkan perhatiannya pada kesahduan estetik  kasat indrawi lalu memasuki ruang imaji, intuisi lalu balik lagi mengindrawikan. Pengalaman Spiritual melengkapi pengalaman estetik dengan menyadari bahwa dibalik keberadaan obyek kesyahduan indrawi, ada yang “mengadakan”. Pertanyaan tentang siapa yang mengadakan itulah proses keilahian, yang menempatkan nama Tuhan sebagai pencipta (Dewa Brahma).

Kesadaran dan keyakinan terhadap kedua pengalaman itu, lalu dihubungkan dengan ketidak terikatan terhadap belengguan karma penciptaan, maka seniman dalam menciptakan karyanya adalah pelayanan kepada Dewa Brahma. Kesadaran dan keyakinan terhadap pelayanan ini, merupakan proses pendakian spirit seorang seniman memurnikan kewajibannya. Ketika sudah demikian berarti seniman telah menghubungkan kesadarannya pada sifat-Nya sebagai Kriya Sakti, yaitu: penciptaan demi kesejahteraan ciptaan-Nya sendiri.

Tugas dan kewajiban seniman merefleksikan kebenaran sifat-sifat kemahakuasaan itu, menjadi wujud material duniawi yang mensejahterakan. Tentu keterlibatan pengetahuan (Jnana Sakti), meresapi obyek-obyek indrawi, menjadi narasi tematik nan estetik dan religius (Wibhu Sakti), menguasai pengetahuan seni lalu mentrasformasikan kedalam gagasan baru yang segar dan menarik, serta menguasai managemen seni dalam kehidupan (Prabu Sakti).

Ketika pemahan dan penyerapan esensi dasar kesemestaan ini terjadi dalam diri seorang seniman, maka praktik dalam penciptaan seni adalah pelayan kepada Dewa Pencipta. Dengan demikian seorang seniman telah mempeleh tuntunan Sat Guru yaitu: Guru Dewam yang terus dilantunkan oleh orang-orang suci saat melakukan pemujaan.

Mengedukasi semangat berkarma, menyeimbangka pengetahuan material dan spiritual dalam penciptaan seni inilah masalah yang cukup komplek di dalam jaman Kaliyuga seperti sekarang ini. Tetapi keyakinan, keberanian menghadapi tantangan adalah wiweka jnana, kekuatannya pasti hadir bagi siapapun yang tulus melakukan, karena memang itu hukum-Nya. Kekuatan menembus kegelapan jiwa itulah kunci yang menempatkan kesadaran terhadap pelayanan adalah “yang utama”

Sebagai penguat akhir alangkah indahnya sajian penyair Widyapati di bawah ini patut direnungi sebagai berikut:

Tak terhitung jumlah jarak dan jaman terbentang.

Kehidupan demi kehidupan diantara aku dan Dia.

Dibawa oleh nasib disinilah aku.

Kesalahan bukan ada pada-Nya, tetapi ada pada diriku dan sangat menyakitkan.

Semoga menjadi renungan.

Facebook Comments

error: Content is protected !!