
“AURA KASIH”
“SENI: Mengkonfigurasi Pengetahuan Para-vidya dan Apara-vidya“
Oleh : I Ketut Murdana
Ketika kita berbicara seni, keberadaannya selalu hadir di sekitar kita, melekat, menempel bahkan meresap jauh ke lubuk hati melalui rasa estetik. Sadar tidak sadar, telah menjadi kebutuhan rasa estetik membangun “rasa percaya diri”. Warna-warni busana, model-model assesories, tatto, rumah, furniture, taman, model rambut, mobil, hand fone dan seterusnya semua dikemas dengan sentuhan rasa estetik seni membangun daya tarik, menjadi gaya hidup (life style).
Realitas seni yang telah membudaya ini, telah menggelora sepanjang Gelora arus budaya inilah ruang dan posisi pengetahuan apara-vidya, bersinergi dengan pengetahuan material lainnya. Pengetahuan Apara-vidya adalah pengetahuan yang mempelajari seluruh ciptaan. Apara-vidya berasal dari kata: a=tidak, para=jauh, vidya=pengetahuan, jadi apara-vidya berarti pengetahuan yang tidak jauh dari ukuran manusia. Artinya ciptaan-ciptaan-Nya yang ada di dunia ini. Selanjutnya Para-vidya berarti mempelajari hakekat Tuhan atau Sang Pencipta.
Berasal dari kata: para=jauh, vidya=pengetahuan, jadi para-vidya adalah mempelajari pengetahuan tentang yang jauh dari ukuran manusia (yakni Tuhan). Keduanya menempatkan pengetahuan tentang Sang Pencipta dan Ciptaan-Nya. Jadi bangunan pengetahuan Suci Weda berdiri diatas tumpuan kedua kaki pengetahuan tersebut. Realitas spirit inilah menempatkan keyakinan simbolik bahwa di kaki-Nya, mengalir pengetahuan suci pengampunan.
Keyakinan simbolik yang berpengetahuan inilah menjadi konsep penciptaan Seni dalam berbagai bidangnya, misal Seni Arca, Seni Bangunan, Seni Hias, Seni Pertunjukan, Seni Sastra dan lain sebagainya. Arca-arca suci yang digunakan sebagai simbol-obyek pemujaan diciptakan berdiri di atas Bunga Padma (lotus). Bunga Padma (lotus) dimaknai sebagai simbol kesucian jiwa, bagai sifat bunga lotus, walaupun tumbuh di lumpur bunganya tetap bersih cemerlang tak ternoda. Itu artinya proses penjelajahan agar dapat pemahaman sifat-sifat ciptaan-Nya lalu diwujudkan menjadi bahasa rupa simbolik. Proses serupa tentu memerlukan kontemplasi yang cukup serius dan mendalam.
Demikian pula konstruksi-konstruksi methaporik, yang telah menjadi kesepatan simbolik lainnya. Dalam posisi ini kontemplasi pengalaman estetik dan pengalaman spiritual para seniman dan para suci, serta para Jnana menjadi satu kesatuan dalam upaya menelusuri dan memahami sifat-sifat ciptaan-Nya hingga perlahan memperoleh berkat signal suci, menjadi kemampuan mengenal, mengkonstruksi sifat Sang Pencipta, yang sekarang menjadi warisan pengetahuan suci.
Dalam posisi inilah penciptaan seni oleh seniman mewahanai pengetahuan apara-vidya dan pengetahuan para-widya yang bisa lebur dalam dirinya, hingga Dia juga seniman dan juga Orang Suci. Kedua sifat dan wujud kedua pengetahuan itu, luluh larut dalam keikhlasan, merambah memasuki “bayang-bayang” kebenaran, menuju kebenaran itu sendiri. Realitas kebenaran panjang inilah catatan dinamika yang selalu bermuka dualitas, karena memang itu rtham-Nya
Setiap bayang-bayang yang dihadirkan oleh para seniman dan para suci adalah proses pendakian untuk menuju “puncak kebenaran” lalu menghadirkan nilai-nilai kebenaran, itu artinya membumikan atau mengindrawikan kebenaran yang absulut itu, menjadi wujud simbolis nan filisofis untuk mengedukasi umat manusia agar mencapai tujuan hidupnya.
Mengedukasi nilai-nilai kebenaran itu, memerlukan seni dan wujud seni yang terjangkau mengindahkan rasa estetik yang menyenangkan (apara-vidya) dan mendorong spirit mencapai tujuan hidup kembali kepada Sang Pencipta (para-vidya).
Dalam kedua kontek yang tak terpisahkan inilah seni dan wujud seni dari zaman ke zaman hadir mewahanai, pengetahuan kebenaran itu. Semuanya itu hadir dan dihadirkan “dari” dan “oleh” kearifan jiwa suci, bertujuan mengedukasi umat manusia, hingga seni telah luluh lebur menjadi vibrasi suci yang membahagiakan dan mendamaikan. Realitas kebenaran ini telah memposisikan dan pemuliaan Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya menjadi kekuatan Tri Tunggal yang tak terpisahkan yaitu: Satyam, Shivam dan Sundharam.
Dengan demikian martabat seni luluh, lebur padu dalam penyempurnaan, yang bervibrasi suci. Semoga menjadi renungan dan refleksi.









Facebook Comments