April 3, 2026
Adat dan Tradisi

MAKNA FILOSOFI UPARENGGA

Oleh    : Ni Nengah Rasmiati S.Ag.,M.Pd.H

BADUNG (CAHAYAMASNES.COM). Umat Hindu didalam memahami makna yang terkandung dalam ajaran agamanya sangat berbeda, ini disebabkan oleh tingkat ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh umat Hindu. Karena keterbatasan tersebut umat Hindu dalam mewujudkan sradha bhaktinya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, maka diwujudkanlah berbagai simbul untuk bisa menyampaikan rasa syukur dan bhakti tersebut. Maka umat Hindu yang mempunyai pemikiran yang mulia selalu berusaha mewujudnyatakan apa yang ada dalam pikiran / ide-nya agar dapat mendekatkan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi. Hasil budi dan daya inilah yang dipergunakan sebagai media mencurahkan rasa bhaktinya ke hadapan Tuhan, yang didalamnya terdapat nilai religius. Apalagi dalam melaksanakan upacara agama seperti Panca Yadnya, banyak sekali yang harus disiapkan apabila hendak membuat upakara  baik material maupun kesiapan mental, sebab kesuksesan sebuah upakara akan didapatkan berawal dari kesiapan diri sendiri baik  material maupun mental serta kerjasama yang harmonis antara yang membuat banten (Sarati), orang yang punya kerja dan dengan Uparengga.

Uparengga adalah berasal dari suku kata “upa” dan “re”  angga” yang mengadung suatu arti  bahwa ; Upa yang diartikan sebagai perantara (jalaran, dlm Bahasa Bali). Re berasal dari Raditya ( sinar suci) yang dapat diartikan sebagai pancaran sinar suci Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya. Angga dapat diartikan sebagai wujud atau merupakan perwujudan Ida Sang Hyang Widhi. Dengan demikian Uparengga dapat diberikan pengertian yaitu : semua bentuk perangkat upacara adalah merupakan simbul perwujudan Ida Sang Hyang Widhi melalui kekuatan sinar suci-Nya.

Perangkat Upacara dan Upakara tersebut yang didalamnya terkandung nilai material  ( unsur Prakerti), dan  nilai spiritual ( unsur Purusa) yang sering disebut wahya adhyatmika dimana  kekuatan spiritualnya adalah tiada lain kekuatan Purusa dari Ida Sang Hyang Widhi, sedangkan kekuatan materialnya adalah kekuatan Prakerti Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang Nampak secara kasat mata berupa atribut-atribut atatau perangkat upakara tersebut. Dengan bersatunya kekuatan Purusa dengan Prakerti maka akan menimbulkan kekuatan yang baru sesuai dengan fungsi upacara tersebut. Dengan demikian adanya upacara agama sangat penting, karena upacara akan melahirkan karma, dengan adanya karma manusia akan bisa menolong dirinya sendiri dalam hal melepaskan diri dari kesengsaraan lahir dan batin. Hal tersebut dapat ditemukan dalam Sarasamuscaya, 4 :

Apan ikang wwang uttama juga ya, nimitaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadhana subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika.

Artinya : Sesungguhnya menjelma menjadi manusia ini adalah suatu hal yang baik dan utama, karena hanya manusialah yang dapat menolong dirinya sendiri dari kesengsaraan, yaitu dengan berbuat baik, itulah sesungguhnya keuntungan menjelma menjadi manusia.

Melihat dari pemakaian perangkat upacara / Uparengga sehubungan dengan kwalitas mutunya dapat dipilah menjadi 2 yaitu :

  1. Mutu Daiwi Sampad ( kedewataan)
  2. Mutu Asuri Sampad ( keraksasaan)

Dengan adanya mutu ini maka uparengga memiliki karakter tertentu sesuai dengan mutunya dan dari mutu tersebut akan memiliki ciri kas dari setiap uparengga sebagai simbul mutunya.

Dalam tulisan ini kami paparkan Uparengga dalam upacara Melasti yaitu :

  1. Sebatang Tebu

Perangkat upacara ini merupakan simbul kekuatan Sang Hyang Panca Korsika yang berfungsi sebagai penetralisir dari kekuatan yang bersifat adharma.

Contoh :

Tebu batangan ini biasanya dipergunakan pada waktu ada upacara Piodalan di pura, pada saat Ida Bhatara Melasti ke segara atau ke beji. Tebu ini dibawa pada barisan terdepan.

Tebu batangan ini juga dipergunakan pada saat runtutan upacara perkawinan yaitu dalam upacara mulih Ngalang atau Pewarangan.

  1. Bandrang

Uparengga ini berbentuk sebuah tombak hanya berisi bulu dari atas ke bawah sepanjang setengah meter. Bandrang ini merupakan simbul kekuatan Dewa Brahma, disamping itu disertai lagi tombak yang berbentuk Dewata Nawa Sangga. Semuanya ini merupakan simbul api sebagai pengawal dan kalau diidentifikasikan terhadap Widhi Sastra  maka merupakan simbul sastra “ Angkara “. Biasanya Bandrang dan tombak yang lain berada pada urutan kedua setelah tebu pada upacara Melasti.

  1. Umbul-umbul

Uparengga yang berbentuk Umbul-umbul bergambar seekor naga ( Naga Gombang) merupakan simbul air sebagai simbul kekuatan Dewa Wisnu yang juga berfungsi simbul penjaga atau pemelihara. Umbul-umbul ini berada dalam urutan ke tiga setelah Bandrang dan Tombak, sastranya “ Ungkara “.

  1. Bendera ( Kober )

Bendera atau kober ini tidak sama dengan bendera biasa, melainkan pada ujung bendera ini berisi tombak dan berisi gambar Anoman yang disebut Sang Maruta. Kober ini merupakan simbul angin sebagai pelindung dan berada pada urutan keempat setelah Umbul-umbul dan jika diidentifikasikan dengan sastra yakni “ Mangkara “

  1. Payung ( Pajeng )

Payung atau Pajeng biasanya pada urutan terakhir, saat upacara Melasti ke segara / beji, serta Payung ini memayungi Pralingga sebagai simbul hyang Widhi / Bhatara pada upacara Mekiyis. Pajeng tersbut merupakan simbul Windu atau Sunia sebagai kekuatan Siwa , kalau diidentifikasikan dalam sastra Hindu yakni “ Ongkara “

Memayungi Pralingga mengandung suatu pengertian bahwa Sang Hyang Siwa-lah yang bermanifestasi menjadi para Dewa yang disimbulkan yang merupakan arca / pratima / pralingga tersebut ada di bawah naungan Siwa

Kesimpulannya; Umat Hindu akan selalu berkarma, tanpa berkarma mereka tidak akan dapat memlihara dirinya sendiri dan dengan berkarma mereka akan dapat menolong dari kesengsaraan dalam hidup ini.

Untuk menolong dirinya tersebut umat Hindu melaksanakan upacara  dalam bentuk upakara. Upakara tersebut akan sempurna bila dilengkapi dengan uparengga. Uparengga ini adalah perangkat upacara yang penuh makna material spiritual sebagai perwujudan karma dan njuga merupakan hasil cipta rasa dan karsa manusia dalam usaha mewujudkan bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Budaya yang lahir bernafaskan ajaran Hindu inilah yang harus kita pelihara agar Hindu tidak kering dan dapat hidup sepanjang zaman.

Sumber :

  1. Bantas BA, I Ketut, dkk, Modul 1-9, Sarasamuscaya, Dirjen Bimas Hindu, 1992
  2. Sudarsana MBA.MM, Drs. I.B.Ajaran Agama Hindu ( Uparengga),

Mandara Sastra, 2000

3.Kadjeng dkk, I Nyoman, Sarasamuscaya, 1997, Paramita Surabaya

Facebook Comments

error: Content is protected !!