
“AURA KASIH”
“PUJA ALAM SEMESTA”
Oleh : I Ketut Murdana.
Dalam kitab Suci Bhagavadgita ditulis; “Lihatlah seluruh Alam Semesta ini, yang bergerak dan yang tidak bergerak, apa saja yang ingin kamu lihat wahai Gudakesa semua menyatu dalam diri-Ku ini” (Bhagavad-gita XI.7). Sloka ini menegaskan kepada umat manusia bahwa alam semesta ini menyatu dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dapat dimaknai bahwa alam dengan segala isinya ini adalah wujud-Nya yang nyata di Bumi dan dapat dilihat dan dirasakan. Bila kesadaran dan keyakinan terhadap kebenaran itu meresap dalam diri setiap orang, maka tidak ada tempat sedikitpun untuk berbuat merusak alam. Demikian pula tidak ada sedikitpun perbuatan baik maupun buruk luput dari “Catatan Ilahi”. Dengan demikian memelihara ciptaan-Nya adalah berkat yang mensejahterakan. Ajaran ini telah dilakoni oleh nenek moyang sejak ribuan tahun, hingga alam terjaga kelestariannya dan manusia serta makhluk lainnya hidup damai. Sekarang telah terjadi perubahan dan kerusakan ekosistem yang semakin mengkhawatirkan. Realitas semesta inilah yang menjadi tanggung jawab bersama bagi kehidupan, terutama umat manusia.
Selanjutnya juga dituliskan dalam Bhagavadgita: “Tetapi engkau tidak mungkin dapat melihat-Ku dengan matamu sendiri, kini akan Aku berikan engkau mata dewata “Ilahi” saksikanlah yoga utama-Ku” (Bhagavad-gita XI.8). Sloka di atas menjelaskan bahwa “Yang tak terbatas” menciptakan yang terbatas. Melalui berkat dan pengetahuan-Nya, manusia diberkati kesadaran suci melalui pengelihatan yang amat terbatas (fana) menjadi pengelihatan devata (Ilahi), hingga bisa melihat dan merasakan kebenaran Ilahi (mutlak), lalu berserah diri untuk melaksanakan kewajiban dan pelayanan kepada penegak dharma, menata kebajikan di bumi. Untuk siapa?, tiada lain untuk kebidupan di bumi. Berperan terhadap kedamaian di bumi, berarti sadar tentang hidup dan “Sang Penyelamat” kehidupan. Kesadaran ke arah itulah puja dan pelayanan kepada-Nya, merupakan “Pencerahan” jalan lurus menuju “Kebenaran”.
Dimana dharma itu mesti ditegakkan?, tiada lain adalah di bumi. Karena dibumilah dharma terabaikan oleh orang-orang yang belum mengenal “Kebenaran” dengan kata lain adalah jiwa-jiwa asura yang penuh kegelapan. Itu artinya kualitas kelahiran terlalu berat terbebani pengaruh neraka kegelapan. Mengangkat beban karma kegelapan agar dharma dan kebenaran kembali tegak di bumi. Inilah misi besar Tuhan sebagai pemelihara kehidupan alam semesta (Dewa Wisnu-Narayana) turun ke bumi dalam wujud Awatara. Dalam kontek inilah orang-orang yang terpanggil jiwanya, terbuka melakukan pelayanan kebajikan.
Tidak mudah mengenal-Nya, tetapi bisa dirasakan bagi orang-orang yang tersentuh dan terpanggil jiwa dari tidur lelap. Artinya jiwa-jiwa yang tertidur lelap dalam badan, “Tersentuh energi Ilahi” oleh kemahakuasaan-Nya yang tak terlihat. Lalu tumbuh kesadaran terhadap “Kegelapan”, berwujud kegelisahan hidup yang tak berujung dan berpangkal. Lalu perlahan mencari jalan keluar dan mendekatkan diri kepada-Nya. Realitas ini memerlukan waktu panjang dan ketekunan tingkat tinggi agar penyucian kegelapan karma perlahan terlaksana.
Dalam kontek inilah orang-orang teruji keyakinannya, hingga banyak orang-orang tidak sabar dan menyadari kebenaran proses “Sang Waktu” Akhirnya merasa bosan, jenuh, meragukan kebenaran Ilahi, lalu mencari atau masuk ke wilayah “Pembenaran”, akhirnya hanya tinggal kata-katanya saja, lalu keluar memilih jalan sendiri. Demikian sebaliknya orang-orang yang taat, tekun karena keyakinannya kepada Tuhan, maka secara perlahan kesadarannya semakun kuat dan hati nuraninya semakin bersih hingga semakin terang pula “melihat kebenaran”. Seperti itulah pengelihatan “Mata dewata” yang terus berproses dalam diri sendiri.
Hukum alam selalu bekerja dengan sendirinya, barang siapa yang menutup diri, terhadap sinar matahari, bulan dan bintang termasuk api suci pengetahuan, dia perlahan pasti kegelapan (gelap jasmani dan rohani). Wajahnya pucat, peredaran darah tidak lancar, kulitnya jamuran dan seterusnya, akhirnya sangat mudah diserang penyakit, lalu sakit-sakitan dalam kegelapan. Demikian pula seekor sapi keluar dari kelompoknya sangat mudah diserang olah macan dan singa. Seperti itulah godaan asura, yang selalu bergerilya dalam diri untuk menguasai iman dan jasmani.
Gelora masalah inilah yang amat besar pengaruhnya di jaman Kaliyuga seperti sekarang ini, para pemuja-pemuja tulus, orang-orang suci yang diteladani masyarakat, dibuli, dihina, dipojokkan issu miring. Para pemimpin bijak pelindung rakyat digoyang habis-habisan, tetapi pemimpin buta tuli kebenaran mendapat sanjungan.
Dalam kontek situasi seperti inilah edukasi spiritual mesti lebih ditingkatkan. Terutama melalui Catur Guru yang selalu disebut-sebut. Sekarang sudah senestinya berupaya meningkatkan peran masing-masing, sebagai “Swadharmaning urip”, untuk mencapai tujuan hidup sejati. Realitas inilah sesungguhnya edukasi “Keheningan” jiwa agar kita tidak terperosok kedalam jaring gelapnya asura.
Melalui kesadaran bahwa alam adalah wujud Tuhan yang nyata, matahari menyinari di siang hari, bulan dan bintang di malam hari. Ketika bulan mati (tilem) masih ada bintang yang menyinari, termasuk sekarang sinar listrik. Itu artinya betapa kasih-Nya Tuhan memberkati kita semua. Dibalik itu semua kasih bhakti juga yang “menghubungkan”. Oleh karena itu, bila kasih dan hubungan itu selalu terpelihara, dengan laku kebajikan maka tujuan utama kelahiran di bumi pasti mencapai tujuan. “Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi”.









Facebook Comments