April 19, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“JALAN PERSEMBAHAN”

Oleh : I Ketut Murdana (Selasa : 17 Nopember 2022).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Aneka dasar-dasar keahlian dan kemampuan yang mengaliri jiwa dan badan manusia dari jaman ke jaman, yang disebut bekal hidup. Sifat bawaan, bekal, bakat atau talenta ini memperoleh peluang untuk diasah dan diasuh, melalui pendidikan non formal maupun formal dalam ruang dan waktu tertentu. Kesungguhan proses edukasi (asah dan asuh) personal ini pada saatnya bisa menjadi kualitas keahlian yang dihargai oleh masyarakat. Akibat penghargaan itu, hingga materipun bisa berlimpah.

Apabila kelimpahan materi itu, bisa dimaknai sebagai anugrah dan bisa membantu rakyat miskin yang memerlukan, akibatnya materi sangat berguna bagi kesejahteraan banyak orang. Itu artinya melalui swadharma telah ikut bersama melayani ciptaan-Nya (sevanam). Itu arti sebenarnya orang-orang yang mengerti dan menyadari kebenaran tentang guna dan dharma. Kesadaran seperti itu, menempatkan karma atau prilaku sebagai jalan persembahan, yang membebaskan seseorang dari ikatan indria-indria

Dalam Bhagavad-gita disebutkan: Ia yang mengetahui kebenaran guna dan karma serta mengetahui bahwa guna sebagai indria, hanya tergantung kepada guna sebagai obyek, tidak terikat. Kesadaran terhadap perbedaan jiwa (atman) dengan sifat alam semesta dan karyanya, maka ia dapat membebaskan diri. Jiwa empiris adalah hasil dari karya kita (Bg. III, 28).

Mereka yang dikaburi oleh guna dari prakerti, akan terikat pada pekerjaan dari guna. Akan tetapi ia yang sempurna pengetahuannya dan mengetahui semuanya jangan membingungkan orang yang bodoh.  Jiwa (atman) pada dasarnya adalah suci, bebas, abadi dan mempunyai kesadaran sendiri.

Manunggalnya dengan prakriti menimbulkan kelupaan pada kesadaran diri yang sesungguhnya. Akibatnya ego, ahamkara menguasai. Keadaan ini mengakibatkan seseorang bergerak atas dorongan sifat-sifat natural alam. Jiwa-jiwa yang kelupaan seperti ini mesti mendapat tuntunan perlahan-lahan ke- arah kesadaran diri yang sejati dan pembebasan dari segala ikatan.

Bhagavad-Gita mengajarkan bekerja atas kerja, menyerahkan hasilnya kepada Sang Penentu. Prilaku karma inilah yang membebaskan diri dari ikatan, hingga kemerdekaan jiwa dirasakan kebenarannya (Bg. III, 29). Barangkali kelupaan jiwa pada kesadaran diri inilah yang melanda sebagian besar umat manusia hingga lahir manusia egois, pintar, cerdas, berwawasan, tetapi tidak berguna bagi kemajuan bangsa.

Kecerdasannya digunakan untuk membuli, menghina berdalih kritik, bahkan mendungukan orang-orang bahkan kepala negara dengan keegoisannya sendiri. Akibat kepintarannya cuap-cuap saja, hingga hanya berguna untuk corong Asurac perongrong kedamaian bangsa dan negara.

Barangkali Sang Maha Pencipta Yang Maha cerdas menciptakan kondisi seperti ini, untuk mencerdaskan orang-orang yang sudah merasa cerdas. Dan juga mencerdaskan serta meningkatkan kesucian spiritualitas bagi orang yang beriman guna terus neberus meningkatkan keimanannya, hingga saat tiba mampu menyeimbangkan kemampuan material dan spiritual menuju jaman kejayaan.

Bagaikan kisah putra Dewa Shiva Jalandara yang lahir dari api kemarahan-Nya. Lalu memperoleh berkat Dewa Brahma, bahwa senjata Tri Sula Dewa Shiva tidak bisa membunuhnya. Akibat dari berkat itu, keangkuhannya untuk mengawini Ibunya Dewi Parwathi dan  menghancurkan Dewa Shiva untuk menguasai sorga adalah ambisinya dan perjuangannya.

Kesalahan memaknai berkat itu menjadi kutukan yang menghancurkannya. Nampak realitas tanda senada dengan jaman kini, bangsa kita sedang mengalami kondisi serupa. Oleh karena itu, bagi penganut jalan dharma, ikut mendharma bhaktikan swadharmanya untuk kedamaian negeri, sekecil apapun itu yang dilandasi kesadaran dan keikhlasan berbangsa dan bernegara sebagai puja kepada Ibu Pertiwi Nusantara adalah “jalan persembahan”. Jalan persembahan adalah jalan pencerahan walaupun berliku tetapi membahagiakan.

Gelora semangat ini telah dilakoni oleh para pejuang bangsa untuk memerdekakan diri dan bangsanya. Jayalah Nusantara, Jayalah Panca Sila, damailah bangsa ku. Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!