April 19, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“WARISAN”

Oleh : I Ketut Murdana (Kemis : 31 Desember 2022)

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Di hadapan kita terbentang “warisan” masa lalu yang luar biasa. Warisan itu datang atau tercipta sebagai anugrah semua makhluk hidup. Alam semesta dengan segala isinya adalah anugrah terutama bagi manusia untuk hidup dalam kehidupan agar bisa berguna untuk menyempurnakan kehidupannya sendiri.

Dengan demikian secara garis besar warisan itu dapat digolongkan menjadi dua (2) yaitu: Pertama adalah warisan material duniawi termasuk energi kehidupan menyangkut kekuatan Panca Maha Bhuta dengan segala sistem dan regulasinya. Itu artinya warisan yang ada tercipta oleh Sang Maha Pencipta, lalu mengalir dalam diri seseorang menjadi warisan daya cipta menempati alam semesta menjadi peradaban sejarah.

Kedua adalah Warisan pengetahuan untuk mengenal secara sistematik sifat-sifat alam semesta, dengan segala isinya, termasuk mengenal hakekat manusia itu sendiri, agar mampu mengolah, menggunakan untuk kebutuhan hidup jasmani dan rohani, menjadi daya cipta peradaban yang selalu berkembang di bumi. Warisan yang kedua ini ciptaan para leluhur dan nenek moyang kita akibat dialiri pengetahuan yang meliputi: penciptaan, pemeliharaan dan peleburan, pada saat menjadi rusak atau hilang yang dilakukan oleh kerja semesta terjadi dengan sendirinya.

Interaksi kedua warisan tersebut menjadikan warisan peradaban panjang dengan segala wujud manifestasinya. Menjadi kekayaan olah pikir merefleksikan wujudnya, sekaligus juga menjadi “warisan”. Alam semesta dikenali, dipilih dibagi-bagi dan dikuasai, lalu dipertahankan dengan segala strateginya. Strategi ini melahirkan ciptaan sarana baru, misalnya rumah, pakaian, alat-alat kerja profesi, kesehatan, ritusl, persenjataan dan seterusnya.

Kesemuanya itu menempatkan kualitas peradaban manusia lalu menjadi identitas, yang diyakini, dipelihara, dipertahankan bahkan disosialisasikan, dipromosikan terang-terang maupun tersembunyi hingga bisa ditiru oleh yang lainnya. Seni film misalnya menjadi ajang pergulatan karakter identitas budaya, merebut perhatian dunia, agar bisa dihargai oleh bangsa-bangsa lain. Itu artinya warisan keunggulan identitas yang selalu dikembangkan hingga menempatkan kekuatan ekonomi tercipta dengan sendirinya.

Dengan demikian warisan budaya dan intelektual ilmu pengetahuan berkembang memberi penguatan identitas dan ekonomi serta martabat. Pada sisi yang lain bila warisan identitas itu dirongrong untuk dikuasai orang lain, tentu patut menjadi pertahanan pertaruhan bangsa, seperti realitas kini di Indonesia mau dicabik-cabik pengusung ideologi dan identitas lain berkedok keagungan spiritual mengatasnamakan keturunan orang-orang suci.

Orang suci adalah orang yang memvibrasikan keimanan yang penuh kasih sayang dan keteladanan, membangun harkat martabat manusia serta sadar dalam hidup sesama ciptaan-Nya di bumi. Bukan sibuk mencari dan menyusun dengki irihati, intrik-intrik yang menyesatkan. Lalu dengan topeng orang suci, membenarkan penghinaan demi penghinaan pada saudara. Bahkan anti toleransi terhadap sesama ciptaan-Nya.

Bukankah kelompok serupa merongrong kesucian ajaran yang disucikan orang-orang suci?. Sesungguhnya lebih tepat dikatakan sebagai permainan politik penjajah, menguasai dari akar rumput (teori makan bubur).  Menguasai mulai dari yang dingin di pinggir lalu perlahan-lahan kedalam.

Persoalan inilah yang sesungguhnya merusak warisan ajaran-ajaran suci yang disucikan orang-orang suci, demi kepentingan tertentu. Oleh karena itu, memelihara warisan kemerdekaan sebagai hasil perjuangan para pahlawan, dengan ideologi yang disepakati bersama, mesti menjadi perjuangan dan pertahanan yang kuat. Dimulai dari instansi kenegaraan lalu didukung oleh setiap warga negara, pasti berhasil.

Tetapi bila oknum-oknum yang mesti bertanggung jawab, menjadi penghianat, tentu menjadi musuh dalam selimut yang harus diwaspadai. Akibatnya perongrongan sestematis dan masif terjadi. Kemudian mereka merasa benar dan berjaya teriak-teriak dipermukaan, padahal mereka adalah benalu-benalu bangsa yang mengisap kesuburan energi semesta Nusantara ini. Semoga warisan kesuburan bumi Nusantara ini, tidak diisap benalu-benalu asing yang tidak bertanggung jawab. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!