February 1, 2023
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“RENUNGAN SHIWA RATRI”

Oleh: I Ketut Murdana.

Empat hari lagi, tepatnya  hari Jumat, tanggal 20 Januari 2023 umat Hindu akan melaksanakan Mahapuja Shiva Ratri, yang dikenal sebagai hari yang paling gelap, demikian juga gelapnya pengaruh Zaman Kaliyuga saat ini. Ketika manusia terlena, tidak sadar (acettana) akan tujuan hidup, pribadi, berbangsa dan bernegara, maka kegelapan alam dan kegelapan zaman pasti menggulungnya.

Tetapi dibalik kegelapan itu pasti ada seberkah cahaya yang tersembunyi, yang barangkali disembunyikan atas hukum Sang Waktu. Dalam cerita Ramayana dikisahkan bahwa Wibisana, dan Trijata hidup dan bersaudara dengan kaum raksasa, tetapi mereka berbudi baik dan memuja Dewa Wisnu (Narayana) yang amat taat. Lantunan doa-doanya didengar oleh Hanoman saat menjadi Duta, untuk menyelidiki keberadaan Dewi Sitha. “Menemukan realitas dibalik realitas itulah perjuangan”, dilandasi keyakinan yang tulus.

Kisah keyakinan ini, juga dikisahkan saat Dewi Parwati mendidik Dewa Ganesha, bahwa keyakinan adalah kekuatan utama bagi manusia, dalam upaya menyempurnakan hidup mencapai “kesejatian diri”

Saat-saat seseorang mengalami kegelapan jiwa dalam wujud kebingungan, kegundahan dan sejenisnya, saat itulah narasi edukasi kebajikan memberi peran yang amat penting. Seperti dikisahkan dalam Siwa Purana, saat itu Dewa Narayana menjawab pertanyaan Dewa Kartikeya ketika Dia diajak ke Kailasa oleh Ibu-Nya Dewi Parwathi. Saat itu Kartikeya bertanya kepada Dewa Narayana, atas kekagetannya terhadap anugrah dari ayah-Nya Dewa Shiva yaitu: “agar selamat melaksanakan tujuan hidup-Nya”.

Demikian pula para Dewa yang lain sangat berharap atas kelahiran dan kehadiran-Nya di Kailasa. Setelah kembali dari pelayanan enam orang Ibu yang merawat sejak kelahirannya di alam Kritika yang tidak terjangkau oleh kekuatan Asura. Benih yang dilahirkan Dewa Shiva dengan Dewi Parwati diketahui oleh Taraka Asura dan anak buahnya Asura Sumba dan Nisumba, ingin memusnahkannya, tetapi mereka gagal melakukannya. Kemudian diselamatkan oleh Dewa Agni, Dewi Gangga lalu  diselamatkan lagi  oleh enam Dewi di alam Kritika.

Di alam Kritika Dewa Kartikeya dirawat dengan penuh cinta kasih oleh ke enam Dewi dengan perannya masing-masing. Setelah dewasa Kartikeya diajak ke Kailasa.  Saat itulah Dia bertanya kepada Dewa Narayana atas kebingungannya terhadap tujuan hidup yang belum dipahaminya. Dewa Narayana menjawab pertanyaan-Nya dan bersabda; “setiap orang lahir ke bumi memiliki tujuan masing-masing”.

Tetapi tidak semua orang mengenal tujuan itu. Untuk mengenalkan tujuan hidup yang sesungguhnya inilah Dewi Parwathi mendidik Kartikeya dengan keras, lembut, kasih sayang dan lain-lainnya agar tidak terlena memasuki alam gelap kenikmatan, mengenal tujuan dan kewajiban hidupnya yaitu membunuh Taraka Asura demi kesejahteraan dunia.

Edukasi pencerahan inilah anugrah terbesar bagi umat manusia ketika sadar untuk mendekat kepada-Nya. Demikian pula kisah Si Lubdaka harus membebaskan rasa takutnya terhadap tujuan hidup jasmaninya, bertanggung jawab secara material, dan spiritual menuju penyerahan diri melalui puja Bhakti yang tulus kepada Dewa Shiva.

Untuk mengatasi rasa takut terhadap serang harimau yang sedang kelaparan, Dia melakukan puja melalui taburan daun bilwa kepada Simbol Suci Dewa Shiva yaitu: Lingga Yoni. Membebaskan rasa takut untuk perjuangan kebajikan demi “kedamaian negeri tercinta” inilah tugas utama umat manusia hingga bisa mencapai gelar “kesatriya jnana” artinya perjuangan suci meningkatkan martabat untuk diri sendiri dan bervibrasi suci untuk umat manusia dan bangsanya sendiri.

Kesadaran seperti inilah mesti dimaknai bukan hanya saja cerdas secara teks-teks logis, tetapi los kesadaran hidup bersama di bumi. Terjebak gelimang  material seperti arus yang melanda dunia saat ini hingga pergulatan materi dengan berbagai bungkusannya “dibenarkan” hingga terjadi saling sodok, saling tindih, saling sikut yang amat mengacaukan.

Menyadari dan mengatasi perangkap inilah perjuangan suci “penyadaran”. Ketika sudah demikian maka esensi puja bhakti, mencapai kebenaran yang mensejahterakan dan membahagiakan

Malam Shiva adalah anugrah pengetahuan dan energi suci yang mencerahkan, untuk mengedukasi manusia agar sadar tujuan hidupnya (cettana). Kesadaran akan memperoleh ruang gerak ekspresi yang utama adalah puja. Puja dengan ketentuan sadhanya adalah jawaban penghubung, menghubungkan antara atman dan Brahman (atman-Brahman-Aekhyam) bagaikan mencolokkan colokan kabel listrik dengan sumber energinya hingga saat itu pula lampu menyala.

Menyalanya lampu akibat terjadi hubungan, hingga terang benerang. Ketika jiwa sudah terang benerang, maka  penghalang tujuan dapat dikenali lalu berjuang mengatasi itulah swadharma yang sesungguhnya. Hanya dengan perjuangan “anugrah” akan mengalir, takdir manusia pun berubah. Malam puja Shiva atau Shiva Ratri adalah pertarungan antara keyakinan dan tantangan mengatasi rasa takut hingga tercapai penyerahan diri sepenuhnya.

Keyakinan, keberanian  menyertai perjuangan membebaskan rasa takut. Rasa takut adalah kegelapan yang menutupi tujuan dan itulah harus diperjuang dengan swadharma, bersikap kesatria bhakti (kesatria dharma) agar memperoleh pengampunan dosa.

Jadi pengampunan dosa adalah perjuangan dengan tunuan dharma, dan kualitasnya adalah tahapan-tahapan  pembebasan. Saat-saat pembebasan seperti hanya terjadi dan dirasakan kebahagiaannya, saat swadharma dilaksanakan. Ketika sudah demikian Puja Maha Shiva Ratri adalah rasa syukur yang benar-benar membahagiakan. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi, Rahayu.

Facebook Comments