February 1, 2023
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“PUNIA”

“Renungan Shiva Ratri”

Oleh : I Ketut Murdana (Rebo: 18 Januari 2023)

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM. Dalam upaya mensyukuri dan membebaskan Dewa Kartikeya dari cengkraman pengaruh kekuasaan Maha Raja Asura Arunasura. Dewa Kartikeya telah  dipengaruhi dan dapat dikuasai oleh kekuatan Arunasura, melalui kekuatan rasa cintanya Kartikeya kepada Dewi Devsena, yang sangat cantik, putri Dewa Indra, diperalat untuk menjebak Dewa Kartikeya agar ikut bersama dalam pemujaan “memuja kekuatan”. Maksudnya untuk menarik dan menguasai lima elemen alam semesta (kekuatan Panca Maha Bhuta dan Dewa Penguasa keliman elemen itu) akan digunakan mengembalikan jiwa putrinya.

Agar pemujaan sempurna mencapai tujuan, maka diperlukan keikut sertaan salah satu Putra Dewa Shiva (sifat suci Ilahi). Untuk mencapai tujuan itu Arunasura bertahun-tahun berjuang menyiapkan strategi dan perangkapnya untuk memuluskan tujuan pemujaannya. Maksud dan tujuan pemujaannya adalah untuk mengembalikan jiwa putri kesayangan yang telah meninggal.

Sebelum meninggal Arunasura meminta dan memanggil Dewa Indra untuk minta pertolongan. Dewa Indra tidak datang untuk menolong putri kesayangan satu-satunya. Akibatnya dia sangat marah dan dendam kepada Dewa Indra, lalu membiarkan mayat dan roh putrinya terkungkung  di istana. Kemarahan akibat kasih sayang yang berlebihan itu, membuat Arunasura terus melakukan pemujaan kepada “kekuatan” dan tidak lagi percaya kepada Para Dewa

Atas perjuangan Dewi Parwathi menjadi Mahakali berhasil membebaskan Dewa Kartikeya, dan Maharaja Arunasura menyadari kesalahannya dan putri dibebaskan ke alam sunya dari cengkraman ambisius ayahnya. Kemenangan ini dirayakan oleh Para Dewa di Kailasa. Saat itulah Dewa Shiva berpesan kepada Dewi Parwathi bahwa; keberhasilan dari sebuah pemujaan terjadi bila setelah ritual pemujaan, pelaku pemujaan siap melaksanakan punia atau beryadnya kepada semua ciptaan-Nya sesuai kemampuan.

Pada sisi yang lain persoalan ini di dengar oleh seorang asura yang amat sakti bernama Durga Mahasura, putra Asura Ruru yang dibunuh oleh Dewi Parwathi (Dewi Mahakali) akibat kesombongannya menghina wanita. Durga Mahasura memiliki kekuatan melihat kejadian di manapun dan bisa merubah diri sesuai kehendaknya, tetapi dia tidak bisa datang ke Kailasa. Menyadari kelemahan ini dia datang ke tempat pemujaan Sanat Kumara, seorang Rsi bertubuh anak-anak. Lalu Durga Mahasura minta tolong kepada Sanat Kumara untuk meminta sumbangan atau punia kepada Dewi Parwathi.

Saat itu pula Sanat Kumara datang ke Kailasa menghadap Mahadewa dan Dewi Parwathi. Saat itu Dewi Parwathi bertanya sumbangan apa yang akan diminta. Saat itu sanat Kumara yang telah dipengaruhi oleh kekuatan sihir dari Durga Mahasura, meminta sumbangan yang amat mengejutkan Dewi Parwathi, yang diminta adalah Mahadewa sendiri yang akan diserahkan ke Durga Mahasura.

Sebelum upacara pemujaan dimulai, Dewa Shiva bertanya kepada Dewi Parwathi; hai Dewi Ku, diantara cinta kasih Mu, Aku dan anak-anak kita. Apa pilihan Mu, apakah Aku ataukah anak-anak. Dewi Parwathi menjawab; kalau boleh dan diberi kesempatan untuk memilih, Aku memilih anak-anak kita dengan alasan memilih anak-anak Aku juga akan tetap mendapatkan Mahadewa, baiklah Gauri. Tanda inilah yang diberikan oleh Dewa Shiva kepada Dewi Parwathi bahwa akan ada masalah yang datang, harus terjadi dan harus diselesaikan.

Mendengar permohonan Sanat Kumara itu, Dewi Parwathi sangat galau dan binggung, tetapi tetap mengiklaskan. Saat itu Dewa Ganesha melihat keraguan dimata Sanat Kumara bahwa ada kekuatan lain yang mengendalikan. Tetapi Dewa Ganesha tidak bisa mengetahui siapa pengendalinya, hanya Dewa Shiva saja yang mengetahuinya (sekarang juga begitu Asura sedang bermain ingin mengacaukan Dasar Negara dan Kebhinekaan kita, dengan murusak rasa toleransi).

Dewa-dewa yang lain tidak bisa melihat tanda kebenaran itu. Setelah Dewa Shiva mengikuti Sanat Kumara, Dewi Parwathi lalu membakar kuil-kuil istana dewata, lalu melepaskan semua perhiasan-Nya, lalu bersabda selama Mahadewa tidak kembali lagi ke Kailasa selama itu di dunia tidak ada sukacita dan riang gembira.

Kenyataan inilah yang terjadi sebagai jawaban teka-teki Dewa Shiva kepada Dewi Parwathi saat disodorkan pertanyaan tentang pilihan-Nya. Dan sebagai jawaban atas pilihan itu, Dewa Shiva sekarang pergi meninggalkan Kailasa menyelesaikan masalah. Setelah Dewi Parwathi menyelesaikan ujian dari masalah-masalah dunia hingga menjadi Mahakali.

Saat kemarahan dan kegalauan Dewi Parwathi seperti itulah, Ganesha ingat bahwa Dia putra Shiva Nataraja, lalu mengubah wujudnya menjadi Dewa Nataraja kecil dan menari menghibur Ibu-Nya. Saat itulah Dewa Ganesha mengingatkan Ibu-Nya bahwa; sifat dan kekuatan Mahadewa itu memenuhi Kailasa dan seluruh alam semesta ini dengan segala isinya. Lalu mengingatkan Ibu-Nya lagi: Ibu jangan larut pada kesedihan yang mengakibatkan Ibu akan terjebak oleh kesedihan itu, akibatnya alam semesta akan hancur. Bangkitlah Ibu lewati kesedihan, yakini kekuatan Mahadewa berada dimana-mana, berani menghadapi masalah yang harus terjadi atas takdirnya.

Ketika itulah Dewi Parwathi dikenal dengan nama Dewi Samtaksi atau Dewi kebangkitan yang gagah berani, sadar kembali pada diri-Nya. Mendengar kata Dewa Ganesha itu, Dewi Parwathi meredam api kemarahan-Nya yang membakar Kailasa lalu bangkit kembali melindungi alam semesta. Saat itu Dewi Parwati diberi nama Dewi Sakhambari Dewi Pelindung Alam Semesta.

Pada sisi yang lain Mahadewa mengikuti perintah Durga Mahasura, menjadi penjaga pintu istananya. Saat itulah Dewa Shiva mengingatkan Durga Mahasura, bahwa untuk melampiaskan dendam, semestinya tidak sampai mengorbankan rakyat dan keinginan menghancurkan dunia demi melawan Dewi Mahakali. Sebaiknya lakukanlan penebusan dosa agar ayahmu terbebaskan dari dosa-dosanya. Apa yang akan kamu lakukan ini justru akan menghancurkan dirimu saja demikian wejangan Dewa Shiva.

Wejangan Dewa Shiva sebagai jalan pengampunan, diterima dengan amarah, kemudian dengan kekuatannya dia membuat kegaduhan dan kehancuran dimana-mana.  Kenyataan ini membuat penduduk dunia menjerit-jerit dan berdoa kepada Dewi Parwathi, yang membuat Mahakali semakin marah. Lalu datang ke istana Durga Mahasura, walaupun pintu istananya dijaga oleh Dewa Shiva, tetapi Dewi Mahakali memiliki kekuatan menembus segalanya. Akibat mepintantarannys Durga Mahasura memainkan berkat Mahadewa bahwa Mahakali tidak bisa membunuhnya.

Tetapi Dewi Mahakali tidak kalah cerdik, lalu berubah wujud menjadi Dewi Jabdhamba, atas kerdipan signyal suci dari mata Dewa Shiva, sebagai restu-Nya. Akhirnya Durga Mahasura tidak berhasil melampiaskan dendamnya kepada Dewi Mahakali. Sebelum terbunuh dia membangkitkan kekuatan Asura yang terpendam di alam semesta ini, agar bangkit bersatu padu melawan Mahadewa dan Mahakali. Pertanda ini mengingatkan kepada manusia agar selalu sadar dan taat melakukan puja agar terlindungi oleh pengaruh jahat asura di jaman Kaliyuga ini.

Setelah terbunuh sorga dan dunia tenang kembali. Demikianlah kekuatan asura yang menggelapkan dunia selalu ingin menguasai manusia, dewata dan seluruh isinya. Oleh karena itu melalui Mahapuja Shiva Ratri, dapat dimaknai sebagai upaya yang sungguh tulus ikhlas memuja dan mengamalkan ajaran suci-Nya. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi, Rahayu.

Facebook Comments