February 1, 2023
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“JIWA DIKUASAI ASURA”

“Renungan Shiva Ratri”

Oleh: I Ketut Murdana (Jumat : 20 Januari 2023)BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM. Dewa Shiva memberi wejangan suci-Nya kepada Dewi Parwati, dan Dewa Ganesha, saat sedang berupaya membebaskan Dewa Kartikeya dari pengaruh kekuatan gelap Maha Raja Asura Arunasura. Saat itu Dewa Ganesha sedang menghalangi Ibunya Maha Kali, yang sedang menggertak ingin membunuh Dewa Kartikeya. Agar Ibunya tidak melakukan perbuatan dosa terhadap putra-Nya sendiri. Saat itu Dewa Ganesha siap melindungi kakaknya. Saat itulah Mahadewa datang dan berpesan; “ketika kekuatan asura menguasai, dan melebihi kekuatan dan kesadaran jiwanya, maka seseorang tidak lagi mengenal kewajiban yang sebenarnya”

Saat itulah Dewa Shiva tersenyum damai mengeluarkan sinar cemerlang dari tangan, menyinari tubuh Dewa Kartikeya, lalu perlahan bangkit kesadaran dewatanya, lenyap dari pengaruh Arunasura. Kisah ini memberikan pendidikan kepada dunia, ketika seseorang telah dipengaruhi indriya-indriya, napsu asmara dan kukuasan serta ketenaran, tidak disertai kendali iman yang kuat maka sangat mudah dikuasai dan dikendalikan asura.

Kartikeya dilahirkan Dewa Shiva dan Dewi Parwathi sebagai seorang pejuang, yang telah mengalahkan Taraka Asursa bisa juga terlena, akibat pengaruh asmara terhadap Dev Sena, putri Dewa Indra. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Arunasura untuk memperkuat pemujaannya, agar mampu menguasai kelima Dewa, penguasa kelima elemen (Panca Maha Bhuta). Untuk menghidupkan kembali putrinya.

Betapa pentingnya merenungi kisah ini, agar terbebas dari realitas gelap gulita jaman Kaliyuga seperti sekarang ini.

Kecerdasan manusia benar-benar telah dikuasai keangkuhan (asura). Menghina Sad Guru (orang-orang suci yang telah menurunkan ajaran kebenaran, bahkan menatangnya), Guru Wisesa, Presiden pilihan rakyat dihina habis-habisan, orang-orang mendirikan tempat suci pemujaan sulit memperoleh dukungan dan sederet masalah kepincangan sosial mewarnai negeri tercinta ini.

Para kesatria penegak hukum yang mesti melindungi hanyalah sebagai penonton, bahkan terkesan membiarkan. Bahkan seorang Guru Wisesa yang seharusnya mengayomi rakyatnya, justru berbalik, melupakan apa yang seharusnya dikerjakan. Adapula yang sibuk menghias singgasananya dengan minuman keras, karena itu kekuatannya

Barangkali realitas gelap ini harus terjadi, seperti penghinaan Dewi Drupadi yang ingin ditelanjangi di depan persidangan. Raja Yudistira dan adik-adiknya tidak bisa berkutik. Para Suci, para menteri kerajaan diam seribu bahasa merasa takut, karena telah menelan nikmat duniawi yang diberikan Duryodhana.

Tetapi sekarang tidak hanya permaisuri Raja dipermalukan tetapi Guru Suci, raja atau Guru Wisesa dibuli sekehendak hatinya. Apakah ini tanda-tanda puncak kesombongan asura dengan seluruh jejaringnya, yang akan segera lewat yang akan dilewatkan oleh pralina “Kehadiran-Nya” menegakkan Dharma kembali…?. Tentu hanya Tuhan lah yang mengetahui.

Melalui pengetahuan suci yang telah tersurat dan tersirat, dapat dimaknai dan memaknai tanda-tanda jaman serta bagaimana seharusnya berbuat baik agar bisa berguna untuk mengenal realitas serta tidak terjerumus gelap realitas duniawi.

Menuju pencapaian kesejatian diri seperti inilah yang patut diperjuangkan terus menerus dan setulus-tulusnya sesuai ajaran dan tuntunan-Nya. Melalui Maha Puja Shiva Ratri ini dan seterusnya mesti menjadi edukasi spirit yang sungguh-sungguh semangat dan tertuntun, agar bisa menemukan “sejahtera dan damai” di jaman Kali Yuga ini.

Semuanya itu bisa mengalir dari berkat-Nya melalui doa dan semangat, perjuangan yang berani dan tulus ikhlas. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi, Rahayu.

Facebook Comments