
“AURA KASIH”
“MENYAMBUT MENTARI PAGI”
Oleh: I Ketut Murdana (Rebo: 8 Pebroari 2023).
Badung (Cahayamasnews.com). Setiap hari matahari selalu menyinari semesta beserta segala isinya. Sinar sujuk indah menawan membangunkan kita dari tidur. Aneka suara burung bersahutan, ayam berkokok, kodok riang gembira menyambut mentari pagi. Sadar tidak sadar ternyata mereka mengekspresikan kesenangannya menyambut sinar Sang Mentari pagi.
Menyiratkan makna bahwa “kegelapan” malam akan segera sirna. Para Pandita menyambut mentari pagi dengan cara melakukan puja Surya Sewana, memuja sifat kemahakuasaan Tuhan sebagai Shiva Raditya. Para bhakta juga sungguh melalukan puja di pagi hari. Praktek spiritual ini merupakan upaya untuk meresapi sinar mentari yang bersifat fisik dan merasakan serta memaknai sinar (dev) sebagai pancaran yang memberi pencerahan dan kecemerlangan rohani.
Realitas kebenaran semesta ini telah diagungkan dan dimuliakan oleh semua agama di dunia melalui puja yang berbeda-beda. Kecemerlangan rohani yang dialiri kemahakuasaan-Nya, memasuki ruang terbatas dalam tubuh manusia, menjadikan gerak karma tertuju kebajikan “sebagai abdi-Nya”. Dia terbatas terkadang memasuki “ruang tak terbatas” menjadi sesuatu yang “amat rahasia”, yang bersifat Ilahi maupun yang bersifat duniawi.
Bila suatu pengingkaran terjadi, atau kebenaran ditaburi intrik-intrik personal tanpa perimbangan data, dan fakta, tanpa pengetahuan dan etika kebijaksanaan yang konfrehensif, masalah akan terbuka dengan sendirinya, dimanapun dan kapanpun. Ketika sudah demikian kecemerlangan sinar-Nya, meresapi jiwa sebagai anugrah-Nya telah menembus kegelapan menjadi terang benerang, saat itu pula penyadaran demi penyadaran mencapai kemurnian jiwa nan santhi tercipta dengan sendirinya.
Kebenaran inilah nilai dibalik masalah, yang sering disebut oleh para penyair spiritual, matahari telah terbit dari timur. Demikian pula Bima menyatakan perintah Guru Drona adalah anugrah, yang harus dilaksanakan. Perintah adalah upaya menyelesaikan masalah dengan cerdas, ikhlas, arif dan bijaksana. Hingga Bima bisa memasuki tubuh Dewa Ruci, merupakan anugrah yang luar biasa akibat ketulusannya. Artinya keberanian yang membebaskan rasa takut penuh keyakinan pada guru, membebaskan keterbelengguan berpikir.
Bukan mempermainkan Gurunya seperti Karna, akibat terkutuk pengetahuannya tidak berguna saat perang. Demikian pula para asura tidak pernah mendengarkan nasehat Gurunya, bahkan berbalik haluan menghina gurunya, seperti Duryodhana, Andaka putra Shiva, Dewi Dithi dan lain-lainnya amat membingungkan Rsi Usana, Sang Guru Para Asura.
Untuk mencapai kualitas inilah kesadaran (Cetana) selalu diuji oleh ketidak sadaran (Acetana), untuk mencapai kesadaran murni (Shivam). Kesadaran murni inilah kecemerlangan sesungguhnya menembus segala kegelapan.
Bila tidak sadar akan hukum semesta sebab akibat itu, dan uji coba masalah yang menghadang dan memasuki diri kita masing-masing melalui lila-Nya. Akibatnya akan tergerus menjadi penganut paham asura, selalu membangun intrik-intrik, menjadi pengikut setia Sengkhuni. Pekerjaannya selalu buat intrik untuk memenangkan kekuasaan, melawan Pandawa dibawah Raja Yudistira yang dilindungi Sri Krishna kepribadian Tuhan yang turun menegakkan dharma.
Memaknai realitas ini Tuhan memancarkan sinar cemerlang bukan saja lewat matahari secara fisik, tetapi melalui sifat-sifat kemahakuasaan-Nya menyinari, membangkitkan, membangun kesejatian diri, agar cemerlang menghadapi segala persoalan hidup yang selalu datang dan harus dihadapi. Karena masalah itu adalah bagian masing-masing.
Bukan hanya mengeluh, celoteh sani sini setiap berhadapan dengan masalah lalu membenarkan diri untuk jongkok dan malas. Tidak ada pahala kebajikan bagi orang suka nyinyir dan malas, yang ada hanyalah penurunan harkat martabat akibat dirongrong sifat asura dalam diri yang tidak disadari. Realitas ini tampak semakin merebak dan juga semakin roboh, mesti menjadi edukasi nilai kemanusiaan yang sungguh-sungguh dilaksanakan. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments