April 20, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“SEMANGAT BHAKTI”

Oleh: I Ketut Murdana (Rebo: 8 Maret 2023).

Badung (Cahayamasnews.com). Kesungguhan semangat bhakti, bukan sekedar luapan kata-kata yang menjejali pikiran dan emosi sesaat. Tetapi melaksanakan prilaku puja yang bersemangat nan tulus ikhlas. Artinya semangat yang siap melewati godaan dan teruji oleh masalah-masalah yang  datang tiba-tiba tanpa disadari. Persoalan ini pasti terjadi pada setiap orang, tidak pernah diketahui oleh siapapun dan kapanpun. Masalah yang datang yang dianggap sebagai godaan atau ujian inilah edukasi semesta nan rahasia, yang menempatkan kesadaran manusia pada realitas yang “tak terduga”.

Dalam kondisi seperti itu “kesadaran” (cettana) diuji oleh “ketidak sadaran” (acettana), mencari atau mentukan pola “kebijasanaan tertentu” yang lahir dari pertautan keduanya. Kebijaksanaan itu merupakan “wujud baru” pengetahuan yang mempormulasikan tindakan dan arah tindakan (Jnana Sakti menjiwai Kriya Sakti) Ketika didominasi oleh kesadaran akan tujuan hidup, maka arah dan tujuannya benar, oleh karena itu keberhasilan  pasti terjadi. Demikian pula sebaliknya. Dalam kontek tattwa disebut dwaitta mencapai adwaitta.

Dibalik semua itu, akan terbangun kecerdasan dan kebijaksanaan mengatasi keadaan serta tumbuhnya etika tata susila semakin kuat menyertai. Kesadaran ini menggerakkan jasmani untuk meminta pertimbangan sekaligus perlindungan, kepada orang yang dipandang mampu memecahkan atau mencari solusi jalan keluar dari masalah.

Pengkondisian masalah yang demikian itu merupakan edukasi yang amat bermanfaat, sebagai upaya penurunan ego yang teramat sulit dikenal apa lagi dikendalikan. Proses edukasi yang nyata, tanpa disadari inilah wujud aliran kasih-Nya. Ketika sudah demikian kesadaran meningkat dan introspeksi diripun terjadi dengan sendirinya.

Dewa Shiva selalu memainkan lilanya, bukan hanya kepada para pemuja-Nya, tetapi juga kepada para dewa, untuk membangun kecerdasan, keteguhan iman dan kewaspadaan diri yang sebaik-baiknya. Agar mampu mengenal kewajiban dan sadar sepenuh hati melaksanakan pelayanan kepada dharma.

Memperhatikan wujud-wujud ego yang selalu bergejolak, membuka pintu ketidaksadaran gelap awidya (maya), bisa merongrong keimanan manusia, ke jalur neraka. Realitas ini patut diwaspadai dengan cara menempatkan pikiran pada kesadaran tujuan hidup sejati. Perjuangan panjang dan tekun serta tulus amat diperlukan. Mengkondisikan kebenaran inilah perjuangan keimanan yang sejati. Bukan hangat-hangat tai ayam, tergoda sedikit saja sudah mengeluh lalu cepat-cepat menjadi mantan bhakta pemuja-Nya.

Bangkitnya kesadaran dibalik masalah yang dihadapi merupakan salah satu wujud kecerdasan spiritual, yang selalu berkembang dan berubah-ubah. Mendorong bangkitnya semangat bhakti dalam puja pengisian penyempurnaan diri dan semangat pelayanan kepada dharma kebajikan.

Saat itulah rohani bangkit dan “terbina” oleh dharma itu sendiri melalui Sat dan Sad Guru, yang proses kerja-Nya amat rahasia. Karena melampaui jauh kesadaran manusia. Melalui anugrah-Nya mampu menerima baik buruknya masalah, berakibat merasakan semakin dekat dikaki-Nya. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!