April 20, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEBENARAN TAK TERLINDUNG DI ZAMAN ASURA”

Oleh: I Ketut Murdana (Rebo: 15 Maret 2023).

Badung (Cahayamasnews.com). Ketika dominasi kuasa raja asura di bumi, dharma tak terlindungi. Artinya, pelaku-pelaku dharma kebajikan terpinggirkan, vibrasinya redup terkurung energi gelap dipermukaan. Orang-orang semakin banyak berubah tabiat, melupakan keyakinan dan kebenaran, pengetahuan suci hanyalah slogan-slogan pemanis untuk kepentingan-kepentingan tertentu saja. Kebenaran hati nurani semakin tertutup rapat dalam kalbunya sendiri. Lahir orang-orang yang hanya siap memuaskan Sang Raja Nafsu. Akibatnya pasilitas penyedia pemuasan itulah berkembang dimana-mana. Karena berkembang banyak dimana-mana, maka “yang banyak” menjadi “standar kebenaran”. Lalu tidak ada rasa risih dan rasa malu, “menjual diri”.

Demikianlah gamaran kisah Dhursasana yang diperintah oleh kakaknya Duryodhana untuk menyeret Dewi Druphadi kepersidangan. Karena dianggap budak, setelah kalah akibat dijadikan barang taruhan oleh Yudhistira. Kemenangan Duryodhana itu mengakibatkan api  kesombongannya memuncak, lalu ingin balas dendam akibat kekalahannya saat sayembara, ingin menelanjangi  dalam persidangan kerajaan, didepan para guru, perdana menteri yang sangat terhormat. Raja Dhrestarastra, dengan seluruh jajarannya tidak bisa melindungi menantu kerajaan.

Akibat kemuliaan Dewi Druphadi, selalu ingat dan mohon perlindungan kepada Dewa Narayana dalam wujud Sri Krishna, upaya penghinaan itu tidak berhasil dilakukan membuat Dhursasana kelelahan dan kelimpungan. Kisah ini mengingatkan kita bahwa, “apabila keangkuhan kuasa melewati batas-batas tertentu”, maka Sang Pelindung Keadilan pasti melindunggi pada saat yang tepat pula. Demikian pula di atas hukum duniawi, berkuasa hukum semesta yang maha adil yang tidak bisa dilanggar oleh siapapun.

Bukan seperti hukum duniawi tajam dan menusuk ke bawah terus menerus. Walaupun “simbol” penegakannya sudah benar-benar logis. Pertanyaannya sampai kapankah keadilan itu bisa benar-benar tegak di bumi. Hanya doa yang terucap, semoga kebenaran itu perlahan terwujud di bumi, hingga saatnya jaman Kertayuga kembali tercipta di bumi.

Bagi orang-orang yang ingin “selamat” dan “damai” atas situasi, menyikapi situasi jaman lalu berseloroh, jangan menentang arus, bagaikan gamelan tarian Baris jangan menari Legong pasti tidak nyambung. Pada sisi yang lain orang-orang yang meyakini prinsip-prinsip kebenaran ilahi, lalu tidak mau tunduk pada keangkuhan rajanya. Nasehat-nasehat kabajikan disampaikan, walaupun terkadang pahit bagi raja, terus dilakukan demi menyelamatkan raja dan kerajaannya.

Kebenaran itu dilukiskan dalam kisah Wibhisana, telah berulangkali menasehati Raja Rahwana agar segera mengembalikan Dewi Sitha kepada Sri Rama. Nasehat itu bertentangan dengan keinginan napsu Rahwana, akibatnya Wibhisana diusir. Lalu mohon perlindungan kepada Sri Rama.

Kisah ini mengisyaratkan bahwa kuasa keangkuhan dan kesewenang-wenangan, harus “didukung”. Apabila tidak setuju harus siap tersingkir. Apabila tersingkir sadarlah mencari perlindungan kepada orang-orang atau raja yang benar-benar sejati yaitu pelindung kebajikan dharma itu sendiri.

Menemukan hal ini tidaklah mudah di jaman gelap gulita seperti sekarang ini, tetapi bisa juga sangat mudah. Barangkali itulah jawaban takdir semesta yang sulit dijangkau alam pikir. Bersyukurlah bila realitas kebenaran ini terjadi dalam diri dan dalam kehidupan masing-masing.

Oleh karena itu, abdi-abdi kebajikan dharma, walaupun tidak memperoleh perhatian dan perlindungan raja asura duniawi, yakinlah bahwa dharma pasti melindungi, karena itulah kebenaran sejati. Bersabar dan bekerja terus atas kebajikan dharma itu sendiri hingga pada saat putaran waktunya tiba, kejayaan pasti terjadi. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!