Seni dan Budaya

AURA KASIH

“SEKILAS RENUNGAN, KETEGUHAN KEYAKINAN”

Oleh: I Ketut Murdana (Kemis : 13 Mei 2023)

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Memang sudah menjadi hukum semesta, ketika lampu listrik itu mati, orang-orang pada bingung karena dirundung kegelapan. Apabila lampu masih menyala terang benerang, mungkin biasa-biasa saja menyikapinya. Tetapi kegelapan jiwa dalam kenikmatan napsu dan ego duniawi sulit dirasakan, tidak hirau bahkan menuding balik bahwa yang normal dan berkeyakinan tinggi dianggap gila.

Demikian pula kisah Sanyasini seorang pertapa wanita tua bernama Sabari, diperintah oleh gurunya Rsi Matanga untuk menjaga ashram pertapaannya. Karena sudah saatnya meninggalkan dunia ini menyatu dalam keabadian-Nya. Saat itu Maha Rsi Matanga meminta Sabari untuk menjaga pertapaannya itu, karena suatu saat Sri Rama akan datang ke pertapaan yang amat suci itu. Bertahun-tahun Sabari menghias jalan dengan bunga warna-warna membayangkan menyambut kedatangan Sri Rama. Melihat kenyataan ini, para pertapa lainnya sekitar pertapaan menganggap Sabari sudah gila, karena melakukan sesuatu yang dipandang sebagai ilusi tidak berguna. Tetapi Sabari amat teguh keyakinannya melaksanakan perintah Gurunya.

Pada suatu saat Sri Rama dan Laksamana benar-benar datang mengunjungi pertapaan itu. Betapa bahagianya Sabari. Saat itulah dia menyambut dengan penuh rasa bhakti, menceriterakan kisah guru serta pertapaannya, lalu mohon pencerahan tentang intisari kesadaran bhakti menuju pencapaian kesejatian diri. Selanjutnya Sabari memberi petunjuk gunung Kiskenda tempat kerajaan Sugriwa

Mendengar ceritera itu Sri Rama sangat terharu. Lalu menjelaskan kebenaran itu, membuat seluruh kegelapannya terhapus, lalu mohon restu untuk menyusul gurunya pergi ke alam Ilahi, memancarkan sinar terang berkilau dari dalam dirinya. Lalu menghilang dikejauhan. Orang gelap tanpa pengetahuan kebenaran dan kesucian kata-kata dan prilakunya bagaikan orang pintar nan suci. Itu artinya kebodohan yang “berkembang maju”.

Realitas seperti ini sekarang menguasai dunia dan banyak pengikutnya. Barangkali Itu juga terjadi atas kehendak putaran Sang Waktu jaman, yang tak terhindarkan. Barang siapa yang dicerahkan oleh pengetahuan suci dan kewajibannya, pasti mengenal realitas kebenaran itu, lalu berupaya menghindar dari realitas buruk jaman ini.

Gambaran ini dikisahkan oleh Rsi Walmiki dalam Cerita Ramayana, bahwa Wibhisana dengan niat dan saran kebajikannya kepada Rahwana, menyebabkannya “berpisah” dengan saudara-saudaranya yang berjiwa asura. Masalah yang terjadi dalam kontek ini adalah sentuhan suci Ilahi pemisah antara sifat asura dengan dewata, lalu sifat dewata menjadi pilihan lalu menjadi perjuangan sungguh. Rahasia Ilahi inilah sulit dijangkau, karena amat halus bekerja dalam diri setiap orang yang diberkati.

Lalu bertemu Sri Rama, justru membantunya membuka rahasia kekuatan saudara-saudaranya, hingga dharma bisa menang. Berbeda dengan Kumbakarna, nasehat bijaknya untuk menunduk pada Sri Rama tidak didengar oleh Rahwana, tetapi Kumbakarna siap berperang sendiri tanpa pasukan, membela negara. Karena dalam hatinya telah dirasakan vibrasi keunggulan sifat-sifat dewata dalam diri Sri Rama. Tetapi dia membela kaumnya demi keseimbangan dunia. Saat sebelum berperang dia berpesan, bila dia meninggal dalam perang menyerahlah kepada Sri Rama.

Tetapi Rahwana tetap menegakkan prinsip kesatria, dan apabila Rahwana hidup sendiri, dipandang tidak ada gunanya, justru tidak mengangkat derajat kaumnya, bahkan akan bisa menjadi tertawaan dannhinaan dunia. Renungan tentang sikap hidup dan menyikapi realitas, menemukan kebenaran duniawi dan kebenaran Ilahi di balik realitas, adalah kecerdasan spiritual yang mewarnai sikap sosial nan esensial bagi seorang Sadhaka. Sehingga benar-benar bisa berkontribusi untuk pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara.  *** Semoga menjadi renungan dan refleksi.

Facebook Comments