News

Pura Penyawangan Puncak Landep, Dijadikan Hulu Suci Desa Panji dan Sediakan Sumber Mata Air

SINGARAJA (CAHAYAMASNEWS.COM) Desa Panji di Kecamatan Sukasada dikenal “kaya” dengan warisan peninggalan sejarah pada masa kerajaan. Ini tidak lepas karena, raja yang memeirntah pada saat itu adalah Anglurah Panji Sakti yang notabene berasal dari Desa Panji. Salah satu peninggalan warisan Raja Buleleng itu adalah Pura Penyawangan Puncak Landep. Dari refrensi dan petuah dari para pengelingsir desa, pura yang ditemukan tahun 1604 silam ini dijadikan kawasan hulu suci desa dan sebagai penyedia sumber mata air.

Sejak ditemukan smapai sekarang, Pura Penyawangan Puncak Landep ini sendiri tidak ditetapkan pihak pengempon. Selain itu, pemangku yang ditugaskan memimpim ritual upacara piodalan di pura ini juga belum ditetapkan sampai sekarang. Tak itu saja, sejak ditemukan smapai sekarang pelinggih di pura ini pun belum dibangun secara permanen. Sebaliknya, beberapa pelinggih itu masih berbentuk turus lumbung.

Kendati demikian, kawasan pura yang terletak di kawasan bukit Puncak Landep ini kondisinya tetap asri dan penuh aura niskala yang kental. Sedangkan jika dilaksanakan upacara piodalan, warga di perbatasan ini pun secara suwadaya untuk mempersiapkan perlengkapan upacara. Ini tidak lepas karena pada masa kerajaan, warga diperbatasan ini dengan penuh bakti mereka kepada Raja Buleleng Anglurah Panji Sakti sangat mempercayai kalau di pura ini memilik taksu dan telah memberikan kerahayuan jagat terutama ketersedian sumber mata air.

Keunikan lainnya adalah di pura ini belum memiliki pemangku tetap. Sebaliknya secara turun temurun, pemangku yang ditugaskan muput ketika dilangsungkan upacara piodalan adalah krama yang tinggal di perbatasan itu sendiri. Di mana, sekarang pemangku yang melanjutkan keturunan itu adalah Jro Mangku Putu Purna.

Pada Rabu (17/5/2023) yang lalu, krama di perbatasan ini menggelar upacara piodalan di Pura Penyawangan Puncak Landep. Pada piodalan ini, Pemerintah Desa (Pemdes) Panji melaksanakan persembahyangan bersama. Upacara ini digelar sesuai dengan jadwal piodalan rutin yang telah diwariskan sejak masa kerajaan yang lalu. Pesembahyangan ini dipimpin Perbekel Desa Panji, Jro Mangku Made Ariawan didampingi Sekretaris Desa (Sekdes) Komang Nastika, dan Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Desa Panji Ni Made Ari Cahyani. Selain itu, persmebahyangan diikuti perwakilan krama subak di lingkungan Desa Panji.

Perbekel Dsa Panji Jro Mangku Made Ariawan mengatakan, persembahyangan ini sebagai wujud bakti dan sekaligus memohon tuntunan dan kerahayuan kepada Ida Batara Anglurah Panji Sakti. Ini penting karena bagaimanapun berkat tuntutanan Ida Batara, Desa Panji memiliki kawasan hulu (selatan-red) yang sangat disucikan. Di samping itu, kawasan ini menjadi salah satu sumber mata air tak saja dimanfaatkan warga Desa Panji, tetapi di Buleleng secara umum bisa menikmati cakupan air, baik untuk minum kebutuhan sehari-hari, dan juga untuk irigasi pertanian.

“Hari ini kita ngaturang bakti untuk memohon kerahayuan dan tuntutanan Ida Batara, karena kawasan Puncak Landep ini ulunya Panji dan sekaligus sumber air bersih  bukan saja untuk Panji tapi berkontribusi untuk Buleleng,” katanya.

Mantan anggota DPRD Buleleng ini menambhakan, berdassrkan refrensi dan sumber pendukung lain, Pura Panyawangan Puncak Landep ini ditemukan Raja Buleleng Anglurah Panji Sakti pada tahun 1604 silam. Sejak ditemukan sampai sekarang, kawasan pura ini berbentuk Palinggih Turus Lumbung. Posisi pura ini sendiri berada pada puncak bukit di kawasan hutan lindung Desa Panji. Karena jalannya sulit, sehingga dibuatkan penyawangan. Posisi pura penyawangan persis berada di bawah bukit perbatasan Desa Panji dengan Desa Tegallinggah. Kendati tidak dibangun permanen dan belum ditetakan krama pengempon, namun keberadaan pura penyawangan ini “memperkaya” aset sejarah di Desa Panji yang harus tetap dijaga kelestariannya.

“Kami rutin melaksanakan penanaman bibit pohon di kawasan ini,s eperti saat persembahyangan ini kami tanam bibit Pohon Kererek yang memang endemis di kawasan hutan yang sangat kita sucikan ini,” tegasnya.

Di sisi lain, Perebekel Ariawan mengajak, semua pihak untuk berpartisipasi merawat keberadaan pura dan kelestarian Hutan Puncak Landep yang menjadi sumber mata air baik untuk air minum dan kelangsungan pertanian sawah dan perkebunan. Salah satu kepedulian yang perlu dilakukan adalah dengan berparrtisipasi melakukan penanaman pohon, sehingga vegetasi tanaman di kawasan hutan ini tetap terjaga.

“Karena dari sejak ditemukan memang tidak ada krama pengempon tidak ada, namun pada masa Ida Batara memimpin Buleleng menugaskan krama subak yang tinggal di perbatasan desa itu menjaga termasuk melaksanakan persembahayangan seperti yang dilakukan saat ini dan itu murni sebagai bentuk bakti krama atas tuntunan Ida Bhatara Anglurah Panji Sakti,” tegasnya. *** CMN=TIM-01.

Facebook Comments