News

Blayag Karangasem “MEK SAMBRU” Raih Dua Sertifikat Tingkat Nasional dari Kementerian DIKBUDRISTEK DAN KUMHAM

(Penulis I Komang Pasek Antara).

Amlapura (Cahayamasnews.com). Konsistennya sosok perempuan legendaris satu-satunya di Karangasem, Mek Sambru selama setengah abad lebih tepatnya 57 tahun waktu dirinya masih bajang (remaja) hingga sekarang melestarikan dan mengembangkan kuliner blayag khas Karangasem membawa dirinya menuai prestasi dan apresiasi dari Pemerintah Republik Indonesia melalui dua kementerian yakni Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset Teknologi (Kemendikbud Ristek).

Apresiasi tersebut diberikan kepada Mek Sambru dalam wujud sertifikat penetapan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 2021 oleh Kemendikbud Ristek, dan Kekayaan Intelektual Komunal Pengetahuan Tradisional oleh Kemenhumkam tahun 2023. Perolehan kedua sertifikat tersebut atas apresiasi dan usulan Pemerintah Kabupaten Karangasem melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Sertifikat diterima langsung oleh Mek Sambru yang diserahkan Bupati Karangasem I Gede Dana saat gelaran pameran dan hiburan perayaan Hari Jadi Kota Amlapura ke-383, Rabu, (28/6/2023) malam di Taman Budaya Candra Bhuwana Amlapura. Bagi warga Karangasem, nama Mek Sambru dengan jualan blayag khas Karangasem namanya telah populer melekat dihati publik pencinta kuliner khas Karangasem bahkan sampai diluar Karangasem. Kerap menu blayagnya mendapat orderan sampai ke luar Karangasem, yakni Denpasar, dan tempat lainnya di Bali saat acara pesta perkawinan dan kegiatan lainnya.

Mek Sambru yang memiliki nama asli Ni Made Resti, kini usianya telah menapaki senja delapan windu lebih tepatnya 81 tahun. Menurut penuturan almarhum ibunya ia lahir waktu jaman penjajahan Jepang 1942. Mek Sambru tak pernah surut melakoni hidup, tetap beraktivitas melakoni usaha ekonomi ngais rejeki sekaligus pelestarian nilai pengetahuan budaya tradisional.

Tampak gerakan fisiknya terasa masih lincah kuat mampu naik panggung hiburan HUT Kota Amlapura ke-383 saat penerimaan sertifikat. Dan masih biasa jalan belanja setiap pagi hari mengelilingi Pasar Amlapura beli bahan dagangan. Ceromeh (suka ngobrol), murah senyum dan familiar kepada pelanggan dan orang yang baru dikenalnya menjadikan resep Mek Sambru masih tetap kuat bisa jualan hingga usia tua.

Kekhasan Blayag Mek Sambru tiada duanya. Terbuat dari helain janur pilihan diisi beras lanjut melalui proses perebusan beberapa jam lamanya hingga benar-benar matang. Kemasan dari bahan busung (janur) itu menjadikan aroma blayag menjadi terasa nyangluh dan enak. Keunggulan yang menjadi kekhasan jualan Blayag Mek Sambru dikombinasikan dengan sebanyak 15 jenis menu lauk dan sayur. Nasi dimasak menggunakan sarana tradisional kuskusan (ulatan bambu) sehingga menambah aroma dan rasa kulen nasinya.

Menu lauk dan sayur racikan dari bumbu Bali khas daerah Karangasem yakni pemelicingan, plalah, base gede, rajang. Menunya tersedia sampai 15 jenis yakni blayag, nasi, be siap (daging ayam) toktok, ayam plecing, sate ayam serapah, sate telor  ayam muda, santan kentel, geragasan, tim ayam, pindang goreng olesan plalah, tempe lalah (pedes)-manis, tempe mesanten, telor ayam dipindang, aneka sayur urab paku, sayur timun, sayur urab kacang panjang, sayur nangka, kacang-saur, sambel pemelicingan dan lainnya. Harganyapun sangat terjangkau, katanya Mek Sambru hanya Rp20 ribu seporsi. Ragam jenis makan Bali itu menjadikan kuliner Mek Sambru terkenal memiliki ciri khas tersendiri pas dilidah masyarakat Bali.

Bincang-bincang dengan penulis di rumah tinggal di Pondokan, Jalan Lettu Alit Nomor 10 Amlapura usai penerimaan sertifikat, memek yang juga biasa disapa Mek Adek itu, sejak awal berjualan blayag lokasinya di Jalan Gajahmada Amlapura hingga sekarang. Awalnya semasih tenaganya kuat kerja dia jualan pagi sampai malam hari di lokasi tempat yang berbeda, tetapi masih di Jalan Gajahmada Amlapura. Pagi hari sampai siang lokasi jualannya di sebelah timur di rumah Kumpulan kompleks tempat rumah tinggal warga Tionghoa, sedangkan sorenya sampai malam berjualan di tempatnya sekarang ini di sebelah barat jalan di depan Pura Puseh Desa Adat Karangasem, Jalan Gajah Mada Amlapura.

Waktu buka dagangannya mulai pukul 12.00 siang sampai 19.30 malam atau bisa tutup lebih awal kalau jualannya sudah habis. Selain makanannya lezat dan tempat jualannya strategis di pusat kota memanfaatkan emperan toko, memberi kesan makanannya sangat merakyat terjangkau para pelanggannya dari semua kalangan sehingga jualan Mek Sambru sangat laris manis namun tetap hegienis dengan protokol kesehatan menggunakan masker dan cuci tangan.

Pelanggannya bukan saja warga Karangasem, banyak konsumennya dari luar Karangasem khusus datang hanya untuk menikmati khas kulinernya blayag Mek Sambru. Hampir semua pelanggan dari luar Karangasem yang baru pertama menikmati blayag Mek Sambru merekam melalui ponselnya langsung mengunggah memviralkan di media sosial sehingga semakin dikenal publik.

Adalah Drs. I Gede Nala Antara, MSi, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana asal kelahiran Desa Seraya, Karangasem, pelanggan setia blayag Mek Sambru dihubungi melalui WhatsApp, Rabu (28/6/2023), memberikan apresiasi kepada Mek Sambru atas raihan sertifikatnya. Katanya Gede Nala, “Hidangan blayag serta be siap (ayam) metoktok merupakan ciri khasnya, sungguh melegenda pada masyarakat Karangasem, jauh sebelum munculnya era ayam geprék seperti sekarang ini.

Lanjut Nala, “sangatlah wajar Blayag Karangasem dangan ikon Mek Sambru diganjar WBTB dan Kekayaan Intelektual Koumunal Pengetahuan Tradisional dari Pemerintah RI melalui Kemendikbudristek dan Kemenkumham karena kekhasan ini tetap bertahan sampai kini.” Legenda blayag Mek Sambru, katanya Mek Sambru adalah generasi kedua yang diwariskan alamarhum orang tuanya, ibunya Ni Nyoman Sangri.

Mek Sambru mengawali geluti jualan blayag sejak semasih kanak-kanak membantu ibunya jualan. Generasi pewaris selanjutnya masih menjadi tanda tanya, siapa gerangan akan melanjutkan karena Mek Sambru pernikahan dengan suaminya I Nyoman Gunung tidak memiliki keturunan, meski demikian Mek Sambru banyak keluarganya yang dapat melanjutkan jualannya.

Keseharian persiapan jualannya dibantu oleh sang suami I Nyoman Gunung, iparnya Ni Nyoman Sukri dan ponakannya Ni Wayan Tapti, I Komang Suarmudita dan pembantu lainnya. “Suksma tyang sampun diberikan penghargaan oleh pemerintah (terima kasih saya telah diberikan penghargaan oleh pemerintah,” ujar Mek Sambru. Lanjut dikatakan Mek Sambru “Dumugi tyang panjang umur kantun kuat mersidayang meadolan” (semoga saya umur panjang masih kuat jualan. *** CMN=.

Facebook Comments