
“AURA KASIH”
“Kesucian dan Keteguhan Iman Memuja-Nya”
Dipetik dari Bhagawadgita, IX, 22 (Tuhan Melebihi Ciptaan-Nya)
Oleh: I Ketut Murdana (Sabtu, 2 September 2023).
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Persoalan utama adalah; betapa pentingnya kesadaran tulus mewujudkan, mempertahankan lalu memperjuangkan “kesucian” dalam diri sendiri bagi setiap insan yang telah diberkati pengetahuan suci. Kesadaran suci ini akan menampakkan kebenarannya melalui semangat prilaku dan ketekunan memuja-Nya. Karma yang berpengetahuan suci adalah aneka jalan yang diberkati…bagaikan sungai-sungai yang siap mewadahi air sampai menuju lautan samudra luas. Lalu semua air sungai diubah oleh air laut menjadi asin (sifat kasih-Nya yang universal terasa sama dimana-mana).
Edukasi semesta ini mengantarkan fungsi dan makna spirit kehidupan agar mengenal dan memahami “perjuangan” (karma) mencapai “perubahan” yang “menyempurnakan” mencapai “kesucian”. Setelah bersatu lautan samudra luas, matahari memanaskan menjadi uap, diangkat ke langit berkumpul perlahan, lalu turun menjadi hujan, menyirami alam beserta seluruh isinya. Lalu kelebihannya mengalir lewat sungai berjalan penuh dinamis menuju laut, sambil menghidupi semua ciptaan-Nya.
Demikianlah ekistensi dan narasi simbolik kehidupan, menyucikan diri melalui perbuatan (karma) yang berpengetahuan suci. Artinya bekerja untuk hidup, dalam kehidupan yang sehat saling melengkapi, bisa memberi dan menerima, dalam hidup bertoleransi, beretika membangun bermartabat “kesucian”. Merefleksikan semangat sejahtera dan damai dalam persaudaraan hidup bersama dalam satu kosmik yang sama.
Ketika kesadaran ini telah menjadi laku yang penuh keyakinan dan ketulusan, alam akan menjawab apa yang menjadi kebutuhan serta melindungi pahala material dan non material yang bersifat nilai-nilai kebajikan dari proses berkarma yang menjadi hak milik personal. Kemudian berubah menjadi “berkat kuasa” pelayanan penguat penggerak dharma.
Anugrah inilah yang utama bagi setiap insan yang terpanggil bergerak di jalan dharma, karena melalui pelayanan dharma, dharma (kesucian diri) semakin kuat dan semakin besar dalam diri, hingga disebut maha atman.
Kebesaran inilah mengakibatkan terhubung dengan sifat kuasa-Nya yang berwujud (Sad) dan yang tak berwujud (Sat) merasakan kebahagiaan yang tiada tara, saat hidup di bumi.
Kebenaran ini menjadi harapan para suci lelihur yang hadir dari jaman ke jaman, mengedukasi dengan berbagai upaya perjuangan yang telah kita warisi melalui artefak-artefak suci dan candi-candi pengetahuan yang patut diresapi kembali bersama-sama
Meresapi pengetahuan dan melaksanakan adalah dimensi puja dan penghormatan, kedalam diri sendiri dan juga ke luar diri menjadi spiritual sosial dalam semesta raya. Demikianlah proses perjuangan penyamaan sifat dari yang terbatas menuju tak terbatas Ketika sudah demikian proses ” “penyatuan” perlahan pasti terjadi pada “waktu-Nya”. *** Semoga menjadi renungan yang cerdas dan arif bijaksana, Rahayu.









Facebook Comments