Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“TERKURUNGNYA NILAI-NILAI KEJUJURAN”

Oleh:  I Ketut Murdana (Senin:  18 September 2023).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Masih banyak orang yang tidak peduli bahkan berseloroh menghina nilai-nilai kejujuran itu sendiri. “Siapa yang jujur pasti hancur”. Realitas ini memasuki pergulatan material, memang terindrawi dipermukaan seperti itu. Apabila dikaitkan untuk memperoleh “sesuatu” dengan cepat.

Keinginan napsu dan ego yang kuat, ingin cepat merubah nasib, tentu itu merupakan sugesti positif sangat baik. Tetapi ambisi saja tidak cukup, mesti melewati pertimbangan normatif, patut menjadi penguat sebaik-baiknya berdasarkan hukum “kerja kepatutan”. Kerja sesuai norma kepatutan, menempatkan kecekatan kerja profesi sesuai standar hukum, kualitas kerja dan nikmat rohani yaitu kerja sebagai persembahan nilai kebajikan (Dharma, Artha, Kama dan Moksa).

Tetapi saat ini realitas besar atmosfir kejiwaan manusia, telah menempatkan “nikmat dulu” adalah pilihan kebanyakan, menjadi arus peradaban kini. Resiko dari semua semua arus aktivitas peradaban itu adalah; menempatkan urusan di belakang. Kecerdasan para kapitalis memainkan perannya yang membalik hukum karma, ternyata luar biasa pengikutnya. Dalam kontek inilah ruang dan suasana kejujuran yang dapat menciptakan ketenangan hati nurani dipertaruhkan memasuki arur dan mempertanyakan kembali realitas esensi dan persepsi-persepsi kebenarannya.

Dua persoalan besar yang menjadi obyek diperdebatan adalah struktur nilai-nilai spiritualitas dibongkar dan dikaji ulang berdasarkan pendekatan pengetahuan materialistik keduniawian. Refleksi akitivitasnya lebih berorientasi pada upaya terus memenangkan arus kebutuhan material terukur. Nilai-nilai spiritual yang tertuang dalam Ajaran Karma Phala menuntun dan menempatkan semua itu, untuk menjawab kebutuhan hidup jasmani dan kesegaran rohani manusia, mencapai martabat kesempurnaannya. Itu artinya setiap insan wajib menetapkan prinsip-prinsip kerja dan mengukuhkan swadharma mencapai dharma, menjadikan hidup damai di dunia ini.

Ajaran yang seharusnya memuliakan diri manusia ini, selalu tergoda dan tergulung terlilit habis oleh kekuatan indriya, napsu dan ego asura, hingga pikiran diperbudak olehnya. Ketika sudah demikian pikiran tak lagi bermata hati, tetapi terbutakan oleh napsu asura. Tentu kebenaran ajaran ini, tidak akan menjadi perhatian untuk menghapus kebutaan itu, kecuali energi napsu senada yang menguatkan akan menjadi pilihannya. Akibat dari semua itu “kuasa” dan “menguasai” adalah idola strategis dan trandy. Ciri pergulatan politik kekuasaan berciri seperti ini, menguasai atmisfir dunia saat ini, hingga tranformasi kuasa Ilahi bertutup awan gelap, membutakan hati nurani.

Lalu memberontak terhadap struktur kuasa semesta. Alam yang sudah semestinya menurunkan hujan, untuk kesuburan semua ciptaan-Nya. Lalu dilawan dengan kekuatan teknologi canggih, demi keuntungan kelompok tertentu saja. Energi semesta alamiah, air, tumbuh-tumbuhan, hewan, ikan dan seterusnya yang semestinya menyehatkan, justru dirusak oleh sistem teknologi pengawetan, yang melewati standar, demi keuntungan pribadi pemodal.

Akibatnya timbul kepincangan sosial yang disequelibrium, menjadi beban yang membelit masyarakat dan juga pemerintah. Memaknai realitas ini, apa gunanya kecerdasan ilmu pengetahuan dan teknologi, bila tidak digunakan untuk kesejahteraan masyarakat dalam arti luas. Kalau sudah demikian, tinggal menunggu kehancuran, hingga penurunan harkat martabat kemanusiaan. Itu artinya, hukum Sebab Akibat (Karma-Pahala) tidak lagi menjadi pertimbangan kuat dan normatif. Entahlah saat penistaan demi penistaan itu, akan lahir menjadi makhluk apa, yang menjadi jawaban karma itu sendiri.

Pengulangan kebenaran ini, tidak menjadi pertimbangan untuk menghindari, justru mempelajari kelemahan hukum sebagai strategi untuk menguasai. Hingga lahirlah budaya kerja berdasar hukum formalistik semata, tanpa merasakan bagaimana alam menyaksikan semua realitas aksi prilaku semua ciptaan-Nya. Melalui layanan semesta-Nya, tidak ada satupun nihil dari pelayanan-Nya.

Kesadaran terhadap kebenaran ini adalah memuja dan penghormatan kepada kebesaran-Nya. Refleksinya beranugrah membesarkan jiwa-jiwa umat pemuja-Nya. Dibalik tampilan situasi miris ini, sesungguhnya menjadi perhatian perbaikan bagi orang-orang yang menempatkan swadharma menjadi abdi-abdi dharma mencapai kesejatian diri. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.

Facebook Comments