Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“PENGENAL SIFAT-SIFAT BADAN DAN PENYEMPURNANYA”

Dipetik Dari Bhagawadgita, XVIII, 14-17 (Kesempurnaan Pelepasan Ikatan).

Oleh:  I Ketut Murdana (Sabtu:  30 September 2023).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Badan ini juga disebutkan juga Buana Alit, karena memiliki unsur-unsur kesamaan sifat. Badan sebagai tempat semua sifat bergerak yang digerakkan oleh energi natural menjadi perbuatan. Perasaan sebagai agen, indriya-indriya sebagai alat menggerakkan dan dirangsang oleh nasib agar bisa merubah nasib yang juga disebut takdir karma. Faktor-faktor inilah menentukan perbuatan baik, buruk, salah, benar, dan seterusnya.

Melalui keadaan yang demikian apabila perbuatan dikendalikan oleh pikiran yang salah, dengan pengertian yang tidak terlatih, melihat dirinya sebagai satu-satunya pelaksana, ia tidak melihat kebenaran yang sesungguhnya. Artinya pikiran mesti terlatih agar selalu terkondisi lurus, dan terkendali tunduk pada sifat-sifat keilahian. Menundukkan badan bersujud di kaki padma-Nya adalah; edukasi sikap agar perlahan-lahan segenap unsur jiwapun tertunduk lalu bangkit kesucian jiwa yang mengendalikan hidup dalam kehidupan.

Agar mencapai kondisi iman atau keyakinan ini, edukasi spiritual yang mencerdaskan dan mencerahkan mesti terlaksana dengan penuh desiplin dan beretika yang benar. Perjalan panjang edukasi inilah keyakinan, keteguhan iman yang memposisikan kesadaran pada kewajiban pelayanan kepada Penegak Dharma di bumi.

Bukan memaknai eduksi spiritual mencapai pengenalan diri sejati, sebagai hiburan sesaat saja. Lalu memandang nikmat kesenangan sebagai tujuan, lalu ragu-ragu dan takut menghadapi masalah. Justru keragu-raguan yang menakutkan inilah didiskusikan kepada Sang Penuntun dan Penentu jalan penegakan dharma, agar terbebas lalu menegakkan prinsip kesatria, brani menghadapi masalah yang mengungkung energi suci dharma yaitu adharma itu sendiri.

Pilah memilah nilai-nilai yang digerakkan oleh indriya dan olah pikir, mesti ditimbang-timbang kembali secara sungguh-sungguh, agar mampu mengikhlaskan diri kepada-Nya, melalui sifat kuasa-Nya sebagai Sad Guru. Sesuai narasi edukasi keragu-keraguan Arjuna berperang menghadapi saudaranya, kakek dan juga Gurunya. Lalu disadarkan oleh Sri Krishna sebagai kepribadian Tuhan (Awatara) menegakkan dharma di Bumi.

Bukan lari menghindari masalah lalu memilih jalan keinginannya sendiri. Bagaikan Bala Ram, yang pergi ketempat suci meninggalkan perang dharma di bumi, lalu menuntut kebijaksanaan dan membela Duryodhana hanya realitas kejujuran yang sempit. Akibat strategi Sri Krishna memberi isyarat saat memukul dan merobohkan paha Duryodhana. Strategi perang itu dilakukan untuk melindungi abdi-abdi dharma memenangkan dharma.

Apabila seseorang telah menempatkan kewajibannya sebagai abdi-abdi dharma yakin dan berjuang sepenuh hati, telah bebas dari keragu-raguan dan rasa egoistis, tidak dinodai oleh ikatan hasil karmanya. Artinya kewajiban demi kewajiban kepada-Nya, menyatu melalui pelayanan kepada-Nya, melahirkan “kemenangan” menundukkan Adharma. Keselamatan dunia dari kuasa adharma adalah kemenangan yang dinikmati dunia, melahirkan kebahagiaan yang tiada tara. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.

Facebook Comments