Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Guru Pengetahuan Hidup Yang Mengalir”

Oleh:  I Ketut Murdana (Rabu: 31 Januari 2024).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Matahari, bulan dan bintang terus bersinar dan menyinari semesta, agar manusia tidak “kegelapan”. Kegelapan dalam arti jasmani yang dimaknai juga sebagai “kebutaan” yang tidak bisa melihat secara rohani, mental dan pikiran yang menjadi “kebodohan”. Agar bisa mengatasi realitas kebutaan dan kebodohan ini, diberkati pula sinar “buatan” dari proses panjang karma manusia yang sungguh-sungguh berjuang merealisasikan niat suci, hingga menjadi lampu, dari lampu sentir, strongking dan sekarang lampu listrik, hingga sekarang listrik menjadi energi super canggih pengganti minyak bumi.

Demikian seterusnya, udara terus mendesir, air terus mengalir, tumbuhan dan khewan binatang terus hidup. Semuanya menjadi satuan kehidupan yang berkembang dari masa lalu hingga kini dan juga esok. Manusia berkembang dengan karakter yang diawali nilai-nilai spiritualitas, lalu seiring waktu mengalami perubahan budaya material dan harapan kembali kepada nilai dan esensi spiritualitasnya. Sadar tidak sadar lintasan dan putaran waktu kosmologis mengantarkan dan mengedukasi seluruh ciptaan-Nya. Agar siap hidup dan menghadapi kehidupan serta sadar pada tujuan hidup itu sendiri.

Betapa hebat dan maha-Nya sistem kerja kehidupan semesta yang tercipta oleh “Yang Tak Terlihat”. Mengenal, memahami, merasakan, memaknai hingga bisa memelihara lalu menemukan sesuatu yang baru melengkapi kehidupan ini adalah “Pengetahuan” bahkan “Samudra Pengetahuan” dan “Guru” serta “Mahaguru”, hadir melalui sifat kuasa-Nya yang mengikat (Uta) dan meresap (prota)

Sepanjang zaman kebenaran ini hidup berkembang dan berubah. Berkembang dan berubah merupakan paduan sifat yang esensial yang tak terbantahkan oleh siapaun, karena itulah disebut Maha Kuasa. Lalu disebut dan dimuliakan sebagai Mahadewa dalam menguasai dan mengatur kehidupan semesta ini

Melalui sistem kerja semesta ini ciptaan-Nya yang dianugrahi pengetahuan material dan pengetahuan suci adalah manusia. Anugrah itu tidak sama diantara semua manusia. Dia hadir atau dihadirkan menjadi manusia-manusia pilihan yang siap mengemban misi suci pengetahuan penyadaran semesta. Bervibrasi dan berkembang melalui wilayahnya masing-masing. Dimulai dari gelagat superior tersembunyi, lalu berkembang semakin terbuka menembus ruang gelap berpikir dan berprilaku hingga bervibrasi semakin luas. Menyentak pikiran, menggetarkan, menyentuh, membelalakkan mata, membuka misteri perlahan menumbuhkan kesadaran hati nurani, hadir kata hati yang terdalam “siapa diriku” dan “siapa DIRIMU”.

Pertanyaan inilah menjadi bayang-bayang personal yang “bergelora menggema” menjadi angan-angan spirit, yang mendorong membangkitkan sifat-sifat badani untuk selalu “mengejarnya”. Orang-orang suci bijaksana menyebutnya jalan “para widya”. Orang-orang yang berjalan dan mengejar kebenaran itulah dapat merasakan kebergunaan kekuatan jasmani, kekuatan rohani mentalitas menjadi keyakinan yang kuat, lalu bersentuhan dengan jiwa semesta mengalirkan tuntunan (pengetahuan) yang berenergi suci.

Langkah demi langkah adalah edukasi dan pencapaian, yang seringkali disebut lapisan-lapisan pembebasan menuju akhir batasan waktu anugrah-Nya. Melalui edukasi spirit inilah penyatuan pengetahuan antara para sadhaka, Sad Guru yang dijiwai oleh Sat Guru. Dimana dan bagaimana kebenaran itu bisa terjadi…..?, jawabannya adalah kualitas sadhana dan pelayanan dharma yang tulus murni tiada henti. Tantangan untuk mengatasi persoalan yang melekat padanya adalah “perjuangan” dan juga “perlawanan” hingga menjadi kesatria-kesatria dharma.

Kesadaran terhadap keterbatasan akan diisi dan diangkat oleh kebesaran anugrah-Nya, inilah edukasi keyakinan. Realitas menunjukkan saat bekerjalah masalah terjawab, keringatpun mengalir deras… lalu energi pun mengalir. Ketika sudah demikian kesadaran ditempatkan pada posisi keimanan spirit menembus batas-batas konvensional yang sering kali ditradisikan. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.

Facebook Comments