
“AURA KASIH”
” KOREKSI CERMAT KEHIDUPAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Senin, 03 Pebruari 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Ketika setiap insan menyadari bahwa kehidupan adalah peristiwa terbesar, karena segalanya terjadi dalam kehidupan. Oleh karena itu memerikasa setiap proses kehidupan dengan teliti menjadi keharusan. Kehidupan tanpa koreksi tak layak direfleksikan. Memeriksa kehidupan melalui konsep berpikir dan kaedah moral menentukan arah tujuan, mengenal diri sendiri, berubah mencapai ketenangan dan kebahagiaan.
Kehidupan berubah jiwapun berubah, apabila perubahan tidak dikendalikan oleh konsep berpikir dan kaedah moral yang bijaksana, maka kehidupan itu akan ngambang tak tentu arah. Bagaikan tidur dalam perjalanan panjang. Artinya hidup hanya dikuasai oleh naluri semata. Belajar di sekolah sampai ke perguruan tinggi, memperoleh ijasah lalu bekerja, berumah tangga demikian seterusnya. Dia berjalan dalam pengulangan waktu yang panjang, tanpa makna. Hidup yang demikian itu tak pernah bertanya kepada dirinya sendiri, dan berjuang mencari jawaban nilai apa sesungguh ada dibalik atau dalan kehidupan itu.
Kehidupan yang demikian tak membuka jalan bagi kebutuhan sang jiwa dalam dirinya. Mereka larut tenggelam dalam kebiasaan normatif lingkungannya, yang diterima secara turun temurun oleh orang-orang tua dan lingkungan sosialnya. Semua itu sesungguhnya digunakan sebagai landasan, untuk membangun kepribadian menuju “kesejatian diri”
Ketiadaan kaedah moral yang meresapi kehidupan seseorang, tak membuka jalan untuk memahami unsur kejiwaan. Akibat dari semua itu tiada semangat berjuang mewujudkan keyakinan hidupnya. Demikianlah sekilas pandangan hidup Socrates, seorang bapak filosup Barat yang terkenal sebagai filosuf jalanan. Pemikiran jeniusnya yang sangat kontroversial saat dia hidup, tetapi sangat dihargai kebijaksanaannya setelah dia meninggal.
Berkenaan dengan persoalan itu, seringkali kesuntukan terhadap pengakuan dan pembenaran kolektif konvensional berbingkai kekuasaan, menutup tumbuh dan lajunya sikap kritis menembus misteri mencapai kebijaksanaan. Dan pada sisi yang lain memasung bahkan mengunci rapat-rapat celah energi suci kebijaksanaan itu. Bagaikan renungan alur narasi cerita, Raja Kangsa memenjarakan adik iparnya sendiri Basudewa dengan istrinya Dewaki yang akan melahirkan anak ke delapan yang konon akan membunuhnya.
Terjebak isu ramalan dan kekhawatiran atas rintuhnya kekuasaan, akibat diambil paksa dari ayahnya sendiri. Raja Kangsa melakukan tindakan sewenang-wenang membunuh tujuh orang keponakannya. Tetapi hukum karma harus terjadi tak terbantahkan oleh siapapun, betapapun kuatnya menjaga agar putra Basudewa dan istrinya Dewaki yang ke delapan (Sri Krishna) lahir dengan selamat, walaupun melalui perjuangan yang dilindungi oleh kekuatan alam yang tak terbayangkan oleh Raja Kangsa.
Barangkali sekarang Raja Kangsa telah beringkarnasi, lahir menjadi pemimpin kuat hasil kudeta, yang juga ingin menghancurkan putra saudaranya sendiri. Betapa pentingnya seorang pemimpin, juga memahami petunjuk sastra suci, sebagai kontrol prilaku menentukan arah tujuan hidup. Bukan hanya suntuk melihat kursi, lalu berebut ingin menduduki saja. Melupakan kewajiban tersebunyi yang menjadi tuntutannya.
Realitas seperti ini menempatkan bahwa hidup tanpa koreksi, dari kecerdasan berpikir (kebenaran politik) dan standar moral berdasarkan “kesadaran” hidup berbangsa dan bernegara, maka akibatnya selalu merasa benar dan selalu membenarkan kepentingan kelompoknya saja. Strategi dan prilaku seperti ini, sesungguhnya menggerus energi keimanan tanpa disadari. Bertopeng melindungi kepentingan rakyat, justru yang terjadi adalah membingungkan rakyat. Tetapi yang benar-benar mengayomi kepentingan rakyat justru di buli dan dihina habis-habisan. Entahlah maksud apa yang disembunyikan.
Semakin kentara bahwa topeng-topengnya tak selama jernih, setapi seiring waktu berkat kasih kebijaksanaan-Nya menyinari penderitaan rakyat, pasti hancur lebur ditelan bumi. Karena semua itu adalah putaran hukum kuasa duniawi yang patut direnungi dan direfleksikan, kepada siapapun yang ingin bergulat, berebut di ranah politik kesumringahan kuasa material duniawi. Apabila koreksi-koreksi cerdas dan terkendali moral serta satya pada setiap prilakunya, maka kemasyuran akan tercipta dengan sendirinya.
Barangkali harapan kemasyuran saat ini, masih ada di ruang angan-angan bahkan ilusif imajinatif. Tetapi sadar dan yakin keberadaan itu pasti terjadi pada waktunya, ketika setiap insan sadar membaca carut marut politik kekuasaan yang terjadi, sebagai dasar edukasi membangun perubahan, masuk dan menjadi penggerak dharma, menyongsong Sang Waktu Penata Dharma tiba.
Pertanyan-pertanyaan ke arah inilah sesungguhnya hidup yang berjati diri, sesuai kaedah moral, sadar kepada berkat Ibu Pertiwi luar biasa yang selalu ingin dikuasai oleh bangsa lain dengan caranya masing-masing. Kompleksitas masalah mesti dipahami sebagai konstruksi mencapai kebahagiaan dan tahapan kualitasnya. Agar hadir dan terasa kebenarannya, pada setiap pase prilaku.
Dalam kondisi seperti inilah kecerdasan berpikir logika ilmu pengetahuan dan filsafat hidup serta kesadaran spiritual mesti bersatu sejalan dan menghempas hambatan panjang tiada henti. Perjuangan dan pembangungan sistem edukasi disertai kekuatan politik dan ekonomi menjadi kesatuan menembus misteri persaingan dunia yang kompetitif. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.
Facebook Comments